GrhaNovember 16, 2007 10:13 am

Bocoran model n bentuk Daihatsu baru Minibus n Pickup, Gran Max.

Kira-kira kayak gini lah …

 

Jakarta Launching

Minibus Front Minibus back Minibus inside

Pickup front Pickup with box Pickup inside

Cheeers .. sorry ya DAI … ngebocorin neh  emoticon

GrhaAugust 6, 2007 2:12 am

I do not love you as if you were the salt-rose, or topaz,
or the arrow of carnations the fire shoots off,
I love you as certain dark things are to be loved,
in secret, between the shadow and the soul.

I love you as the plant that never blooms
but carries in itself the light of hidden flowers;
thanks to your love a certain solid fragrance,
risen from the earth, lives darkly in my body.

I love you without knowing how, or when, or from where.
I love you straightforwardly, without complexities or pride;
so I love you because I know no other way than this:
where I does not exist, nor you,


so close that your hand on my chest is my hand,
so close that your eyes close as I fall asleep.

(Pablo Neruda, Sonnet XVII)

Thank you, My Dear!
to all your love, care, respects and moments we share …

Jakarta, Wednesday, May 18, 2005

Grha, AntaraSeptember 28, 2006 12:09 pm

Kangen sama Yayang, Rayyn dan Rayhan. Nelpon rumah nggak diangkat, ternyata lagi ke RS JMC, nganter Rayhan imunisasi. Sepulang mereka, Rayyn udah tidur, Rayhan masih bangun. Kata Bunda, Rayhan udah tumbuh gigi bawahnya dan kerjanya ngoceh mulu. PAs kutelpon, Rayhan lagi ngoceh, senang bercampur miris mendengar ocehannya. Maafkan Ayah yang lagi nggak di sampingmu, ya, Nak. I miss you all!     

Grha, Buana, Nagara, AntaraSeptember 1, 2006 8:00 am

Hilang rupa, mari bersua,

Hilang canda, mari bercengkrama,

Hilang kata, mari bertutur sapa,

Hilang berita, mari kita berwacana.

Grha, KaulaJune 9, 2005 5:09 am

Ketika aku sudah tua,
bukan lagi aku yang semula muda.
mengertilah,
bersabarlah sedikit terhadapku.

Ketika pakaianku terciprat sup,
ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu,
ingatlah,
bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata
tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar,
bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil,
aku selalu harus mengulang cerita
yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tertidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku,
Janganlah kau marah padaku.
Ingatkah kau sewaktu masih kecil
aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun
tentang teknologi dan hal-hal baru,
janganlah kau mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar
menjawab setiap kata "mengapa" darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan,
ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu,
saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita,
berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting,
asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua,
janganlah berduka…
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu
ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
sekarang, temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran,
aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur,
dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu…


dari ayah & bunda

Grha, KaulaMay 26, 2005 5:11 am

Sebuah fenomena yang sering terjadi adalah orang tua begitu mengekang kebebasan anak, walaupun memang di mata kita, para orang tua, adalah baik maksudnya. Tapi apakah anak- anak dapat menangkap pesan maksud baik tersebut? Mereka teramat kecil untuk dapat mengerti.

Contoh sederhana adalah, kita sering mendapati anak kita berlari ke sana kemari hingga kurang memperdulikan keselamatan mereka sendiri. Kita sebagai orang tua merasa "ngeri" kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti jatuh, menabrak benda keras, dan lain sebagainya, yang dapat membahayakan keselamatan sang anak. Melihat kondisi anak seperti itu (suka berlari-lari), biasanya kita sebagai orang tua akan langsung menasehatinya atau melarangnya atau memarahinya.

Sekarang mari kita coba mempersulit keadaannya?

Andaikan akhirnya anak Anda yang sedang berlari-lari tersebut jatuh, padahal sebelumnya sudah berbusa mulut Anda menasehatinya agar jangan berlari-larian. Apa yang Anda lakukan?

Menurut pengalaman saya pribadi ada dua perlakuan yang umum dilakukan.

Pertama, respon refleks umumnya orang tua adalah langsung memarahi anak akibat tidak mau mendengar perkataan mereka. Kalau pun tidak memarahinya, mereka melakukannya dengan cara lain yakni mengingatkannya dengan nada tinggi.

Mungkin kira-kira begini, "Tuh kan apa Ibu/Ayah bilang! Jangan lari-lari .. jadi jatuh, kan! Anak bandel, tidak mau mendengar kata-kata orang tua! Huh!" Kondisi yang lebih ekstrem yang lain adalah seraya berkata/membentak terkadang dibarengi dengan kekerasan tangan (memukulnya), hingga anak pun dibuat menangis karenanya. Kemungkinan besar sang anak menangis bukan akibat dari jatuhnya, tapi karena bentakan atau pukulan orang tua.

Kedua, berusaha untuk tampil empati tapi tetap memarahi atau membentaknya. Misalnya dengan perkataan sebagai berikut, "Aduh adik jatuh, ya! Sakit? Makanya apa Mama/Papa bilang. Nggak mau dengar sih perkataan Mama/Papa. Jadi begini akibatnya! Makanya lain kali dengar kata-kata Mama, ya…", dengan suara yang datar cenderung datar tanpa intonasi tinggi.

Ungkapan kondisi pertama adalah bentuk contoh "judgement" (penghukuman). Artinya, anak langsung diberi hukuman akan tindakan pelanggaran yang dilakukannya (karena tidak mendengar perkataan orang tuanya). Sedangkan, ungkapan kondisi kedua adalah bentuk contoh "semi judgement dan empati". Kondisi ini agak lebih baik, tapi tetap dapat meninggalkan kesan kejadian berulang pada anak. Maksudnya adalah anak akan berkemungkinan besar melakukan perlakuan yang sama dilakukan oleh orang tua kepada dirinya terhadap situasi serupa yang dihadapinya kepada orang lain.

Sekarang coba Anda bayangkan (dari hasil perlakuan kondisi pertama dan kedua di atas) bila sang anak memiliki seorang adik, dan ternyata adiknya melakukan tindakan yang persis dilakukannya, yakni berlari-larian. Sang anak mengingatkan si adik untuk jangan berlari-larian, persis seperti yang dilakukan orang tua terhadap dirinya dan ternyata sang adik mengalami situasi yang sama dengan dirinya yakni jatuh.

Kira-kira berdasarkan pengalaman empiris sebelumnya, perlakuan apa yang akan dilakukan sang kakak terhadap adiknya?

Seorang anak adalah perekam yang sangat kuat. Anak memiliki kemampuan photo-memory yang sangat tinggi. Bila kita mengharapkan seorang anak yang memiliki sifat & sikap empati yang tinggi, maka seyogyanya dilatih sejak dini. Jadi, bila kita berharap sang anak bersikap empati apabila melihat adiknya terjatuh, maka kita diharapkan untuk bertindak serupa terhadap dirinya.

Kisah di atas akan lain ceritanya bila sang ayah/ibu bersikap empati terlebih dahulu ketika mendapati anaknya terjatuh, baru kemudian judgement.

"Aduh … adik jatuh ya! Sakit? Mana yang sakit? Sini ayah/ibu obati …" sambil memberikan perhatian terhadap lukanya, jikalau perlu mengobatinya, baru kemudian setelah selesai diobati kita dapat menasehatinya, "Makanya, lain kali lebih hati-hati ya! Tolong dengarkan apa kata ayah/ibu … Adik mau janji?"

Semoga bermanfaat dan mendatangkan kebenaran

Salam,

Kurnia Wahyudi

Grha, KaulaApril 20, 2005 6:07 am

Sering kali kita merasa memiliki bayi atau anak yang “menyusahkan”. Sering kali pula kita mendapati putri kita melampiaskan kemarahannya tanpa alasan yang jelas atau putra kita sangat susah bila disuruh makan. Menurut survei, sekitar 20% anak-anak membuat pusing orang tua dengan tingkah lakunya yang mengesalkan. Bila Anda memiliki anak seperti itu, Anda akan merasa kehabisan tenaga, depresi, tidak-yakin akan kemampuannya dalam mengurus anak (frustasi), marah-marah terhadap anak, dan merasa malu dengan prilaku anak di hadapan orang lain.

Sebuah studi yang pernah dilakukan beberapa tahun yang lalu menyimpulkan bahwa sesungguhnya setiap anak sejak lahir telah memilki sebuah kesatuan kualitas temperamental (sifat) tertentu. Maksudnya, sejak lahir seorang anak telah dianugerahi untuk memiliki kepribadian atau emosi atau tempramen tertentu. Jadi kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya kepada orang tua, bila mereka memiliki anak yang “kurang sempurna” dari sisi kepribadian atau emosi atau tempramen. Walau ada peran orang tua, tapi itu sangatlah kecil. “Memang sudah dari sananya!” bila kita bisa meminjam istilah umumnya.

Kepribadian atau tempramen ini sebenarnya dapat kita deteksi sejak dini, dari bulan-bulan awal sang anak lahir. Hasil studi tersebut menyimpulkan pula bahwa sedari dini kita dapat menentukan bahwa bayi Anda bakal menjadi anak yang “menyusahkan” atau tidak. Walau memang benar kenyataannya bahwa tempramen seorang anak dipengaruhi oleh banyak faktor, tapi secara umum, akan tetap tak berubah seumur hidup. Contoh bila bayi Anda kerap mbandel menolak disuapi sewaktu jamnya makan, maka boleh jadi sikap keras kepalanya ini akan terus terbawa dalam kehidupannya hingga dewasa.

Jadi apapun kepribadian dan tempramen yang anak Anda miliki, jauhi sikap melabeli mereka dengan “baik” atau “buruk”. Sebab itu semua bukan salah sang anak, juga bukan kesalahan Anda atau pasangan Anda. Memang sudah jalannya (takdirnya)! Anda sendiri pun telah terlahir dengan kepribadian dan tempramen tertentu. Bila Anda merasa memiliki perasaan mudah sekali khawatir akan situasi tertentu, bisa jadi begitu pula kepribadian itu Anda tunjukan sewaktu Anda masih kecil. Contohnya, mungkin sewaktu masih kecil Anda merasa bahwa Anda tidak bisa tidur bila lampu tidak dalam kondisi menyala, maksudnya hanya bisa tidur dalam keadaan terang. Sebab Anda merasa bila tidur di tempat atau dalam keadaan gelap, maka banyak perasaan yang tidak tentu menghantui sehingga sulit untuk tidur.

Oleh karena itu, bersikaplah sesensitif mungkin terhadap tempramen bayi Anda. Dengan begitu Anda akan dapat memodifikasi pendekatan Anda terhadap tingkah laku sang bayi guna menghindari dan mengantisipasi konflik atau ketegangan yang mungkin terjadi. Anda akan jauh lebih percaya diri dalam menangani anak Anda, tanpa terlalu frustasi sehingga dapat membina hubungan Anda dengan sang anak menjadi jauh lebih bahagia, lebih banyak curahan kasih sayang, serta lebih memuaskan bagi kedua pihak.

Grha, KaulaJune 24, 2004 8:25 am

 

Rayyn Derya Anthares

RAYYN

Kata RAYYN adalah versi Inggris dari kata yang berasal dari bahasa Arab, RAYYAN. Ide nama Rayyan kuambil dari salah satu hadits nabi yang berarti nama salah satu gerbang surga yang diperuntukkan hanya bagi mereka yang berpuasa (di bulan Ramadhan) atau suka berpuasa.

Haditsnya kurang lebih berbunyi seperti ini:
Dari Sahal ibnu Sa’ad –radiAllahu anhu- bahwasannya Nabi SAW pernah berkata, “Di syurga nanti ada sebuah gerbang yang bernama Ar-Rayyan, sebuah pintu yang akan hanya akan dilewati/dimasuki oleh para Sho’imun (orang yang suka berpuasa), tiada orang lain yang melewatinya kecuali mereka. Akan ada panggilan ’Dimana para Sho’imuun?’ dan para Sho’imuun akan berdiri. Tak ada satu orang pun kecuali mereka yang akan melewati gerbang Rayyan.”

Rayyan juga berarti pelepas dahaga, aroma mewangi. Asal katanya, rawiyah,  yang berarti minum untuk mengisi sesuatu. Memuaskan, karena itu rayyan juga berarti pemuas dahaga atau aroma sedap (yang menyenangkan).

DERYA

DERYA  adalah sebuah kata dari bahasa Farsi-Dari (Persia) yang dipinjamkan ke dalam khasanah bahasa Turki modern yang berarti lautan; dalam bahasa Afghanistan derya juga berarti sungai. Dari pengertian dari kedua bahasa tersebut (Turki dan Afghanistan) derya bermakna proses kompilasi (penggabungan) dua media air (sungai dan laut) sehingga menghasilkan warna biru (a blue compilation of water), dan air adalah penggambaran dari kombinasi yang serasi dari suara (voice) dan ketulusan/kesungguhan hati (sincerity), pesan (message), kehidupan (life) dan kesucian (purity). Ide penggunaan nama derya berawal dari gabungan nama dari Dessy dan Kurnia (deria), yang kemudian sedikit diplesetin menjadi derya, sehingga memiliki makna yang lebih luas.

ANTHARES

ANTHARES  adalah sebuah kata dari bahasa Yunani. Anthares adalah bintang yang paling terang dalam konstelasi (rasi bintang) Scorpio. Terminologi kata anthares berasal dari bahasa asli Yunani, yang dibentuk dari dua suku kata, ANTI  - ARES, yang berarti TANDINGAN/LAWAN(nya) - MARS. Anthares menunjukkan sifat-sifat kebalikan dari Mars (dewa perang bangsa Yunani) dan apa yang direpresentasikan oleh karakter dewa perang yang berarti; kekerasan, kebrutalan/kekejaman, unjuk kekuatan. Kebalikannya, nama Anthares memberikan pengertian (konsep-konsep) perdamaian, harmoni, kebebasan dan seni… Konsep-konsep yang selalu menjadi inspirasi dunia dan setiap orang yang mencintai kedamaian/harmoni.

HARAPAN KAMI

Harapan kami kedua orang tuanya tersirat dalam nama, agar kelak Rayyn akan menjadi manusia dan pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah dan Rasul-Nya serta berguna bagi manusia di sekelilingnya. Rayyn akan menjadi gerbang bagi kami orang tuanya serta masyarakat di sekelilingnya untuk menuju harapan-harapan yang lebih baik, harapan yang dapat memuaskan dahaga keinginan ummat manusia akan keadilan, kebajikan, kejujuran, dan kesejahteraan. Harapan agar Rayyn menjadi dan membuka gerbang kehidupan dengan ketulusan dan kesucian baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Harapan kami pula kelak Rayyn akan membuka gerbang perdamaian, harmoni, kebebasan dan seni tanpa harus dengan kekerasan, kekejaman dan unjuk kekuatan. Harapan akan RAYYN DERYA ANTHARES menjadikan dirinya sebagai "Gerbang Samudera Kedamaian" bagi ummat dan makhluk Allah SWT di sekelilingnya.

SEJARAH NAMA
Dalam penentuan nama, kami mengambil dari bahasa negara yang (pernah) memiliki pengaruh di dunia. Dalam penggunaan kata, kami mengambil dari Hadits/Arab (rayyan), Inggris (tranformasi kata rayyan menjadi rayyn), Turki (derya), Yunani (anthares), dan Cina.

Pemakaian kata yang berasal dari Hadits (Arab) diharapkan nuansa Islami melekat dalam nama sang bayi. sebagaimana Islam telah memberikan pengaruh yang luas kepada peradaban dunia.

Sedangkan penggunaan bahasa Inggris yang mentransformasikan kata rayyan menjadi rayyn, digunakan sebagaimana Inggris telah memberikan pengaruhnya yang begitu luas terhadap penggunaan bahasanya sebagai salah satu bahasa internasional.

Turki kami pakai selain kata-katanya yang unik, juga karena Turki pernah mempunyai pengaruh yang amat besar sewaktu kekhalifahan Utsmaniyah. Setelah merebut Konstantinopel pada tahun 1453, Utsmaniyah mulai membangun negara besar yang benar-benar terorganisasi, hirarkis dan efisien. Ibukota kerajaan, Istanbul, dengan penduduk yang tumbuh menjadi 700.000 -dua kali lebih besar dari negara lawan, Eropa- menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan internasional.[Ira Lapidus, A History of Islamic Societes. (New York: Cambridge University Press, 1988), hlm. 132] Utsmaniyah menjadi pasukan besar Islam yang menciptakan kerajaan dunia yang meliputi pusat Muslim yang utama seperti Kairo, Baghdad, Damaskus, Makkah, dan Madinah. Mereka mengancam Eropa selama hampir dua abad. [Jon L. Esposito, The Islamic Threat].

Yunani, The Island of Myths, pernah menggunjang dunia dengan kisah keperkasaan pasukan perangnya dan kemahiran para filosofnya; Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Sedangkan Cina kami gunakan alam penentuan unsur nama dengan mengacu pada teknik astrology cina yang telah berumur ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Seperti sabda Rasul, “Tuntulah ilmu hingga ke negeri Cina”.

Grha, KaulaJune 23, 2004 1:56 am

Rayyn, begitulah nama yang akan kuberikan kepada anakku. Terlahir pada tanggal 23 Juni 2004 M atau 7 Jumadil Awal 1425 H sekitar pukul 14.10 dengan berat 2,8 kg dan panjang 50 cm di rumah sakit JMC. Rayyn lahir dengan kondisi yang sedikit mengkhawatirkan kedua orang tuanya.

Kedatangannya diawali dengan pecah ketuban terlebih dahulu dari sang ibu pada pukul 01.00 dini hari tanpa diiringi dengan bukaan ditambah posisi sang bayi yang sedikit terlibat oleh tali plasentanya. Proses kelahiran dimulai dari pecahnya ketuban membutuhkan waktu dua belas jam setelah melalui proses perangsaan (induksi) bagi sang ibu. Sungguh masa dua belas jam tersebut merpakan masa yang cukup memilukan hati terhadap kondisi istriku, karena menit demi menit rasa mules yang amat menyakitkan datang dengan sedikit jeda, diakibat proses perubahan kondisi rahim karena sang bayi sedikit demi sedikit bergerak ke jalan keluar. Aku hanya dapat berdoa dan mengelus lengannya dengan sesekali mengalihkan diri dengan kesibukan lain di sampingnya agar tidak terlalu terbawa emosi. Aku harus tetap tegar di sampingnya sampai akhir proses persalinannya.

Kondisi tersebut mengakibatkan Rayyn lahir tidak disertai dengan tangisan yang meledak layaknya bayi pada kondisi kelahiran normal, tangisannya agak sedikit merintih dan tidak lepas, mungkin disebabkan oleh tali pusat yang melilit lehernya ketika proses kelahiran atau ketiadaan/terminum oleh air ketuban selama dalam rahim. Wallahu “alam!. Proses kelahiran sang ibu sendiri, Alhamdulillah, berlangsung normal tanpa harus melalui proses operasi (cesio).

Si kecil Rayyn diduga mengalami asfiksia (kekurangan oksigen) yang diakibatkan oleh terjadinya pecah ketuban dua belas jam sebelum kelahiran setelah sebelumnya dilakukan proses induksi. Kondisi itu agak disedikit diperparah dengan kondisinya yang terlilit usus, mengakibatkan Rayyn harus melalui special treatment  setelah kelahiran dengan mengirimkannya ke ruang incubator guna diberikan infus dan antibiotik. Menurut dokter, antibiotik diberikan guna mencegah infeksi, salah satunya kemungkinan terminumnya air ketuban atau ketiadaan air ketuban (kering) yang selama ini berfngsi sebagai body protector bagi dirinya. Sedangkan pemberian makanan cair berupa infus melalui pertimbangan kekhawatiran usus Rayyn belum menerima ASI langsung, ditakutkan adanya penolakan yang akan berpengaruh ke fungsi pencernaannya.

Semoga Rayyn cukup tegar dan kuat unutk menerima cobaannya pertama di dunia ini.

Selamat datang, “gerbang kecil”ku!