Nagara, AntaraDecember 17, 2007 8:13 am

                                                     asian idol logo

Sebenarnya, yang membuat Singapura memenangi Asian Idol adalah karena kedunguan kita. Apa iya? Ikuti ulasannya ….

Penyelenggaraan Asian Idol malam tadi mencapai titik klimaks. Keheranan dan rasa tak percaya menghinggap tak hanya juri dan penonton baik yang langsung maupun melalui tv, tetapi juga pada pemenang itu sendiri, Hady Mirza dari Singapura.

Rasa heran dan tak percaya wajar saja, karena performa dan kualitas Hady Mirza bila dibandingkan oleh peserta Idol lainnya bisa dikatakan sedikit satu kelas dibandingkan unggulan utamanya; Jaclyn Victor (Mal), Mike Mohede (Indo), Mau Marcelo (PHIL).

Saya melihat kemungkinan kemenangan besar Hady Mirza, Singapura adalah lebih kepada faktor teknis voting, ketimbang alasan non teknis; seperti penampilan (stage-performace).

Kontribusi utama kemenangan Singapura dalam memenangkan First Asian Idol adalah karena teknis voting berupa pengiriman SMS. SMS yang dikirimkan harus menyertakan dua kandidat (negara) dalam satu pengiriman.

Alasan panitia dan negara peserta mungkin keberatan, karena kalau metode voting SMS konvensional yang hanya mengirim satu kandidat juara hanya akan didominasi oleh negara berpopulasi besar, dalam hal ini India dan Indonesia. Singapura dan Vietnam, dan mungkin juga Philiphina agak keberatan. Karena bakal kalah sebelum bertanding berhubung populasi meraka yang tak sebanyak India dan Indonesia.

Wajar mereka keberatan, karena Asian Idol kali ini yang hanya satu kali tanpa babak penyisihan, hanya mengandalan fanatisme dan sentimen kebangsaan, ketimbang obyektifitas kemampuan setiap peserta. Orang yang berpikir pendek akan langsung berpikir yang banyak kirim sms dia lah yang jadi pemenang.

Makanya nggak heran sewaktu Mau Marcelo dari Philiphina di wawancarai oleh RCTI (Seputar Indonesia) merasa nggak begitu yakin walau performance bagus.

"You know? It’s a vote .. so … well … you know? …", begitu kira2 menanggapi kemungkinan kemenangannya.

Lantas kenapa Singapura Hady Mirza menang????

Pertama, karena faktor teknis voting yang harus mengirimkan dua kandidat juara dalam satu SMS. Singapura mendapatkan limpahan suara dari negara lain selain dari negerinya sendiri melalui SMS, di mana penyumbang suara terbesar dari Indonesia, Malaysia, India, dan sebagai dari Vietnam/Philipina (???).

Kenapa begitu? Karena faktor non teknis yang mendukungnya, yakni ..

Kedua, faktor non teknis karena kedekatan rumpun. Sosok Hady Mirza lebih diterima oleh Indonesia dan Malaysia (kecuali dari etnis India dan preferensinya bangsa India juga) karena keserumpunannya, ketimbang peserta dari Vietnam (Phuong Vy) maupun Philipina (Mau Marcelo). Sebaliknya Malaysia dan Indonesia kecil sekali kemungkinannya saling menyertakan antara keduanya di dalam SMS terkait isu dan konflik budaya yang sedang berlangsung akhir-akhir ini.

Kedua, adanya limpahan suara dari India lebih dikarenakan faktor strategi di atas panggung. Di mana duet Hady Mirza dengan peserta India, Abhijeet Sawant, menyanyikan sebuah lagu India di penghujung acara, telah cukup mendulang simpati sebagian pemilih dari negeri (bangsa/etnis) India.

Ketiga, Singapura menjadi negara netral bagi Philipina dan Vietnam untuk menjadi pilihan kandidat kedua, maka dalam hal ini faktor good-loking menjadi penentu sms-voter untuk memilih Mirza.

Jadi, wajarlah kalau Hady Mirza menjadi unanimous decision (menang mutlak dan telak)! Nggak percaya? Cari deh data detailnya, pasti angka pemilih Hady Mirza kalah jauh di atas peserta lainnya.

Jadi yang dungu dan pintar siapa? ha..ha..ha…

Untunglah waktu istri ku nyuruh kirim akau nggak mau .. karena tau siapa yang bakal menang .. yang pasti bukan Malaysia dan Indonesia … dan yang pasti buang-buang duit ajah ….

"And the first Asian Idol goes to, Hady Mirza, Singapore," wakakakakakak ….. capek deh lu!!! emoticon

Buana, Nagara, Antara, CittaDecember 11, 2007 3:59 am

Kertas (paper) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir seluruh aktifitas keseharian kita membutuhkan kertas, seperti pekerjaan, komunikasi, pendidikan, kesehatan, perbankan, dan lain lain.

Berapa sih sebenarnya nilai kertas dalam sebuah perusahaan? Mari kita coba bermain matematika sedikit berdasarkan fakta dan data yang ada.

Untuk menghitung biaya terkait dengan penggunaan suatu produk, termasuk penggunaan kertas, perhitungan selalunya didasarkan pada tiga aspek biaya, yakni

  1. Biaya produksi (productional cost)
    yaitu biaya pabrik untuk memproduksi satu unit kertas, yakni sekitar $450/ton atau sekitar Rp 11.000/ rim
  2. Biaya lembaga/perusahaan (institutional/company cost)
    yaitu harga beli kertas oleh perusahaan ditambah komponen biaya lain untuk pengelolaan satu unit kertas, seperti penyimpanan (storage), pencetakan (printing), penggandaan (copying), daur ulang (recycling), pembuangan (disposal), dan pengiriman (delivery or postage). Studi mutakhir yang diadakan oleh Citigroup dan Aliansi Pelindung Lingkungan (Environmental Defense Alliance) diperoleh kesimpulan bahwa total komponen biaya (institutional cost) ini senilai 31 kali lipat harga beli kertas
  3. Biaya lingkungan (environmental cost)
    yaitu biaya tidak langsung terhadap dampak lingkungan berkaitan dengan pemakaian kertas seperti; rusaknya hutan dan isinya, polusi, sampah, pemanasan global, longsor, banjir, dan lain sebagainya. Menurut Rainforest Information Center, sebanyak 10 -17 pohon yang harus ditebang untuk menghasilkan satu ton kertas ukuran koran (atau 8 lembar ukuran kertas A4). Satu ton tersebut cukup untuk mencetak sekitar 7.000 eksemplar koran. 

Menurut Indonesian Pulp and Paper Association, sembilan puluh persen konsumsi kertas (tulis dan cetak) di Indonesia disuplai secara domestik dan dalam kurun waktu lima tahun (2000-2004). Data statistik pada Tabel 1, menggambarkan peningkatan jumlah konsumsi dan produksi kertas di Indonesia dari tahun 2000 hingga 2004.


Dengan mengambil nilai minimal rata-rata tingkat pertumbuhan konsumsi dan produksi yakni 5% per tahun (sedangkan menurut World Resource Institute untuk Negara berkembang rata-rata sekitar 7% per tahun), maka diperoleh jumlah konsumsi kertas Indonesia di tahun 2006 adalah 5,96 juta ton. Kebutuhan (demand) yang besar inilah yang mungkin menjadi pemicu maraknya kasus  pembalakan liar (illegal logging) di Indonesia.

Dari jumlah konsumsi kertas 5,96 juta ton di tahun 2006, kita akan dapat menghitung konsumsi penggunaan kertas per kapita atau per angkatan kerja (per pekerja/pegawai).

Tabel 1. Data Statistik Produksi dan Konsumsi Kertas Tulis dan Cetak (paperboard)  tahun 2000 – 2004 (dalam tons)

Tahun
Kapasitas
Produksi
Produksi
Impor
Ekspor
Konsumsi
Tercatat
2000
9,116,180
6,849,000
212,630
2,837,210
4,224,420
2001
9,904,080
6,951,240
199,840
2,345,135
4,805,945
2002
10,045,580
7,212,970
249,695
2,446,730
5,015,935
2003
10,045,580
7,267,880
206,880
2,160,380
5,314,380
2004
10,045,580
7,679,820
306,970
2,576,640
5,410,150
Sumber: Indonesian Pulp & Paper Association Directory 2005

Tingkat konsumsi kertas per kapita didapat dengan membagi total konsumsi kertas dengan jumlah penduduk. Sedangkan konsumsi per angkatan kerja didapat dengan membagi total konsumsi dengan hanya jumlah angkatan kerja, sehingga didapat tingkat konsumsi kertas per pekerja (pegawai).

konsumsi_kertas_per_ kapita = total_konsumsi_kertas / jumlah_penduduk
konsumsi_kertas_per_angkatan_kerja= total_konsumsi_kertas/jumlah_angkatan_kerja

Dengan menggunakan rumus di atas dan data jumlah penduduk Indonesia tahun 2006 (225 juta), maka akan didapat hasil bahwa konsumsi kertas per kapita tahun 2006 adalah 27 kg. Bandingkan dengan negara-negara lainnya yang sumber daya alamnya terbatas seperti Singapura dengan konsumsi kertas per kapita mencapai 154 kilogram per kapita, Malaysia 115 kilogram, Thailand 40 kg, China 45 kg, Amerika Serikat 301 kg, dan Jepang 242 kg (lihat Tabel 2).

Sedangkan bila nilai tabel 1 di atas diasumsikan hanya digunakan oleh para pekerja dan angkatan kerja Indonesia (sebesar 108 juta), maka konsumsi kertas per angkatan kerja (pegawai) Indonesia tahun 2006 adalah 55 kg kertas.

Tabel 2. Rata-Rata Konsumsi Kertas Per Kapita Per Negara tahun 2006

negara
konsumsi per kapita
urutan dunia
 
negara
konsumsi per kapita
urutan dunia
Luxembourg
334
1
 
Inggris
201
15
Finland
325
2
 
New Zealand
189
17
United States
301
3
 
Korea, Rep
173
20
Austria
277
4
 
Singapore
154
23
Belgium
250
5
 
Malaysia
115
28
Denmark
244
6
 
Thailand
51
55
Canada
242
7
 
China
45
57
Japan
242
8
 
Indonesia
27
84
Germany
232
9
 
Philippines
18
88
Netherlands
227
10
 
Viet Nam
15
94
Sweden
220
11
 
Brunei
13
100
Switzerland
216
12
 
Cambodia
2
152
Italy
206
13
 
Myanmar
2
158
Australia
210
14
Laos
1
175

Sumber: Asosiasi Pulp & Kertas Indonesia & Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia & World Resource Institute

Bila kertas yang digunakan adalah kertas ukuran A4 dengan berat 5gr/lembar, maka konsumsi kertas per kapita adalah 5.400 lembar atau sekitar 15 lembar/hari atau 11 rim/tahun. Misalnya harga rata-rata kertas per rim-nya adalah Rp 30 ribu maka konsumsi kertas per kapita per tahun adalah sekitar Rp 330 ribu.

Sedangkan konsumsi kertas per angkatan kerja adalah 11.000 lembar atau sekitar 30 lembar/hari atau 22 rim/tahun, atau setara dengan Rp 660 ribu per angkatan kerja per tahun.

Berarti biaya perusahaan (company cost) dari 22 rim kertas yang digunakan oleh per angkatan kerja per tahunnya adalah 31 x Rp 318 ribu = Rp 20,46 juta per pegawai. Bayangkan bila satu perusahaan memiliki 100 pegawai, berarti total biaya konsumsi kertasnya sebesar lebih dari Rp 2 Milyar.

Sedangkan biaya lingkungan (environmental cost) dari 55 kg kertas per angkatan kerja Indonesia setara dengan 0.6 – 0,9 pohon per orang per tahun, berarti setiap tahunnya sekitar 65 – 97 juta pohon ditebang untuk memenuhi kebutuhan akan kertas para angkaan kerja di Indonesia.

Contoh lain, dalam sebuah program “Cleaning Day” yang diadakan oleh sebuah perusahaan sumber energi di daerah bisnis Kuningan, Jakarta, terkumpul “sampah” kertas tak terpakai sebanyak 2 ton kertas, selama kurun waktu lima tahun menghuni gedung tersebut. Jika mengambil data riset terakhir bahwa dari total jumlah sampah yang dihasilkan, 30-40% merupakan sampah kertas, berarti bayangkan berapa besar beban tambahan yang harus ditanggung oleh gedung untuk menampung kertas dan sampahnya (5-7 ton sampah)? Itu baru dari satu perusahaan yang 3 lantai dari 18 lantai yang ada, bagaimana dengan perusahaan di lantai yang lainnya?

Menghemat kertas berarti menyelamatkan dunia!

Buana, Nagara, AntaraOctober 22, 2007 3:44 am

Merespon apa yang sedang terjadi dengan Malaysia akhir-akhir ini, hanya ada satu cara mengatisipasi dan mengatasinya, yakni bagaimana kita dapat membangun bangsa (rakyat) kita agar tumbuh menjadi pribadi (bangsa) yang mandiri, dihormati dan disegani (ditakuti). Caranya, saya hanya melihat dua cara saja:

1. Berikan akses pendidikan dan kesehatan yang merata bagi seluruh anak bangsa setinggi-setingginya dan seluas-luasnya dengan semudah mungkin dan biaya serendah mungkin.

Peningkatan alokasi APBN untuk biaya pendidikan setidaknya adalah langkah pertama yang harus dilakukan di strata pemerintahan. Selanjutnya, bagaimana pendidikan dan kesehatan tersebut dapat menjadikan seluruh bangsa kita menjadi pribadi yang mandiri dan dihormati secara ekonomi dan personaliti. Belajarlah dari Malaysia yang mengalokasi APBN untuk pendidikan dan kesehatannya masing-masing tidak kurang dari 20%. Artinya, pemerintah dapat memfokuskan dirinya unutk membentuk rakyatnya menjadi bangsa yang kuat, sehat, mandiri, bermartabat dan terhormat, dengan bekal pendidikan yang diperoleh dan kesehatan yang terjamin.

2. Berikan akses kekuatan bagi personil penjaga negeri ini. Apa yang yang terjadi paling tidak dua tahun terakhir ini, perihal penyelenggaraan ulang tahun ABRI (5 Oktober), paling tidak dapat menjadi tanda tanya besar, akan apa yang sedang terjadi terhadap para pelindung negeri ini, akan di mana dan bagaimana kekuatan tentara kita selama ini. Penyelenggaran ulang tahun ABRI yang biasanya dilakukan di Halim Perdanakusuma, kini hanya cukup di markas besarnya saja, Cilangkap. Pesta yang sedianya dimeriahkan dengan pamer senjata, peralatan dan keahlian, sebagian dari itu sepertinya sirna. Terkendala akan ketersediaan suku cadang dan permasalahan teknis, yang berhulu pada ketiadaan dana yang cukup untuk pengadaannya. Beberapa sumber menyatakan bahwa ke-ringkih-an tampak dari hanya 40-50 persen kesiapan operasional minimum sistem persenjataan TNI saat ini, nyaris di seluruh matra angkatan. Angka itu jauh di bawah angka kesiapan minimal operasional seharusnya. Bahkan, bisa dibilang nyaris separuh kekuatan peralatan utama sistem persenjataan (alutsista) TNI tidak sanggup beroperasi maksimal. Penyebabnya, baik karena faktor usia peralatan maupun terbatasnya pengadaan komponen dan suku cadang.

Misalnya,

Dari 20 unit pesawat angkut Hercules, hanya enam pesawat yang bisa dioperasikan. Armada pesawat tempur, baik jenis F-5 maupun F-16, keduanya sama-sama tidak berada dalam kondisi prima. Dari 10 jet tempur F-16, hanya empat pesawat yang bisa beroperasi. Sementara dari 12 pesawat tempur F-5, hanya empat pesawat yang dapat dioperasikan.

Menurut data Markas Besar TNI, yang disampaikan beberapa waktu lalu di Departemen Pertahanan, kesiapan operasional total 251 pesawat berbagai jenis milik TNI AU hanya mencapai 46 persen. Sementara untuk TNI AL, kesiapan total 117 kapal perang RI (KRI) hanya mencapai 57 persen dan  kesiapan total 71 pesawat udara berbagai jenis yang juga dimilikinya hanya mencapai 52 persen.

Walau begitu, kondisi armada kapal patroli TNI Angkatan Laut (KAL) masih terbilang menggembirakan. Dari total 128 KAL berbagai jenis, kesiapan operasionalnya masih terbilang prima, mencapai 82 persen.

Padahal, boleh dikatakan, baik TNI AU maupun AL, kedua matra itu sama-sama mengemban tanggung jawab berat mengamankan wilayah kedaulatan RI. Wilayah kedaulatan tersebut meliputi 17.500 pulau, 5,8 juta kilometer persegi wilayah laut, dan 81.000 kilometer panjang garis pantai.

Oleh, karena itu cukup beralasan kalau ada saran kita berlakukan "travel warning" ke Malaysia, baik untuk keperluan bisnis maupun wisata. Paling tidak untuk saat ini, hal itu adalah upaya yang paling tepat dan aman untuk melindungi anak negeri ini dari arogansi negeri jiran.

Lha wong Wakil Perdana Menterinya, Anwar Ibrahim, yang nota benenya pejabat tinggi dipukuli di penjara, apalagi cuma bermodalkan diplomatic ID, atawa Sport Ambassador, apalagi cuma bermodalkan passport saja. Tidak dipukuli saja sudah merupakan bonus, apalagi cuma dipenjara.

So that’s why, it is not safe to travel to Malaysia!

 

Buana, Nagara, QoutesOctober 5, 2007 1:23 am

Another inspiring speech from HEROES series Session 1 Episode 22 - Landslide,

While Nathan Petrelli gave a speech after winning the election for A New York Congress with 64% againts other candidates.

And from the entire Session 1, this is the best taken scenes part ever had, while Nathan gave a speech, the scenes describing every sentences what he was speaking about.

So, I call this the talking pictures.

Inspiring and touching …. 

[Nathan]
A landslide ..
That’s what they’re calling it.
I’m sorry my brother couldn’t be with us tonight.
But I know that Peter cares about this city more than anyone.

You know, our father always said that
we had a responsibility to use what God gave us.
To help people …
To make a real difference …

Pop always made the hard choices for the greater good …
He believed in that.
And so do I.

Our children deserve that.
They deserve a better future.
A future where they don’t have to face their fears alone,
but can look into the darkness and find hope.

I challenge everyone in here to inspire by example
to fight the battle, no matter the cost.
Because the world is sick and spinning out of control, but we can help.
With our help, it can heal.
With our love, with our campassion, and with our strength, we can heal it

Let’s put aside our differences.
Let’s embrace our common goals.
Let’s do it for our children.
Let’s show them all exactly what we’re capable of.

Thank you all … Thank you very much …

NagaraAugust 30, 2007 10:51 am

Sebuah periode baru kepemimpinan DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara Indonesia telah lahir. Fauzi Bowo, bila tak ada aral melintang, akan dikukuhkan sebagai Gubernur DKI Jakarta dari kalangan sipil.

Bila dilihat kemenangan Fauzi Bowo memang dapat dikarenakan banyak factor, seperti popularitas, orang lama di pemerintahan DKI Jakarta, dukungan koalisi 20 partai, dan lain sebagainya.

Tetapi saya pribadi melihat bahwa kemenangan Fauzi Bowo lebih dikarenakan faktor "kesipilan" seorang Fauzi Bowo, dibandingkan seorang Adang yang masih memiliki latar belakang militer. DKI Jakarta memimpikan sosok pemimpin dari kalangan sipil, setelah sekian lama didominasi oleh kalangan (berlatar belakang) militer.

Kemenangan Fauzi Bowo dilihat sebagai kemenangan rakyat sipil. Hanya sayangnya kemenangan dan jalannya pesta demokrasi pertama di Jakarta itu agak sedikit ternodai. Upaya-upaya yang tidak sehat sepertinya dijalankan oleh pihak yang secara tidak langsung mendukung pasangan cagub dan cawagub yang bertanding.

Salah satu informasi yang didapat dan perlu diklarifikasi adalah penggunaan salah satu lembagai survey sebagai media unutk membentuk opini masyarakat dengan dalih penggunaan metodologi ilmiah guna membangun image kepopuleran sebuah pasangan dibandingkan pasangan lain. Seolah-olah sang lembaga survey mendapatkan order untuk membentuk persepsi publik sesuai keinginan sang calon pasangan agar lebih unggul dibandingkan pasangan lainnya.

Tidak sampai di situ, lembaga survey yang sama pun menggunakan praktik money politic terselubung terhadap responden dan/atau calon pemilih. Caranya, ketika melakukan proses pengumpulan data survey dari responden, sang surveyor memberikan janji kepada sang responden sembari memberikan stiker pasangan calon.

"Ibu/Bapak, data ibu telah kami masukkan ke dalam database kami. Nomor telepon (HP) Ibu/Bapak telah kami simpan. Dan ini adalah stiker A-B (pasangan cagub/cawagub). Sekiranya, pasangan A-B ini nanti menang di daerah Ibu/Bapak, nanti lembaga survey kami akan memberikan hadiah uang. Pihak kami nanti akan menghubungi Ibu/Bapak via telepon maupun SMS, nanti Bapak/Ibu diminta untuk mengambil hadiahnya di kantor kami.

Dan inilah fakta lapangan, dan biasanya responden yang menjadi sasaran adalah dari daerah lingkungan yang golongan ekonomi dan pendidikannya berstrata rendah.

Mungkin pihak lembaga survey akan menampik fakta ini dengan

  • Mengingkari janjinya untuk memberikan hadiah yang dijanjikan kepada para responden yang pernah dijanjikan. Konsekwensi yang akan muncul adalah tuntutan dari para masyarakat yang pernah dijanjikan akan muncul ke permukaan sehingga berpotensi menimbulkan konflik.
  • Tetap melakukan untuk memenuhi janji kepada responden, dengan konsekwensi bila tertangkap tangan, pihak lembaga survey akan berdalih, "Ini bukan money politic! Kita tidak memberikan uang sebelum masa pencoblosan. Ini hanyalah sebagai tanda terima kasih dan berbagi suka dari pasangan cagub-cawagub kepada para konstituen atas kemenangan yang diraihnya. Wajar kan kalau mereka berterima kasih dengan cara ini!"
Oleh karena itu, pemerintah harus tanggap untuk mengantisipasi praktek money politics terselubung seperti ini. Begitu pula, partai harus waspada terhadap lawan politik yang menggunakan praktek ini dalam upaya menggalang opini publik sekaligus penyuapan terhadap demokrasi.

Semoga ini dapat menjadi masukan!

Salam Demokrasi!

Grha, Buana, Nagara, AntaraSeptember 1, 2006 8:00 am

Hilang rupa, mari bersua,

Hilang canda, mari bercengkrama,

Hilang kata, mari bertutur sapa,

Hilang berita, mari kita berwacana.

NagaraNovember 1, 2004 2:18 am

Harapan Rakyat Untuk Sebuah Rumah Sederhana Sehat

(rewrite: Monday, November 01, 2004
- http://kurnia.blogdrive.com/archive/cm-8_cy-2007_m-8_d-5_y-2007_o-3.html)

Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Keinginan untuk memiliki sebuah rumah yang layak huni merupakan impian seluruh masyarakat. Sepertinya susunan kabinet SBY-JK cukup tanggap dengan aspirasi masyarakat terhadap salah satu kebutuhan ini. Untuk itu dengan dihidupkannya kembali Kementerian Perumahan Rakyat dan memisahkannya dari Kementerian Pemukiman dan Prasarana Wilayah adalah sebagai jawaban dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya kalangan bawah-menengah dalam upaya mendapatkan fasilitas rumah sederhana yang murah dan mudah.

Upaya-upaya untuk terciptanya penyediaan rumah sederhana telah menjadi perhatian banyak pihak, baik kalangan bisnis pengembang maupun pengguna, yakni masyarakat itu sendiri. Yang paling keras disuarakan adalah keinginan pembentukan lembaga yang disebut SMF (Secondary Mortgage Facility) atau Program Fasilitas Pasar Sekunder, atau istilah yang lebih umum adalah lembaga pembiayaan kredit perumahan.

Selama ini, lembaga SMF tidak pernah terwujud karena tidak adanya kesamaan pendapat dari pemerintah tentang pentingnya peran pembiayaan alternatif untuk perumahan. SMF adalah semacam lembaga atau fasilitas pembiayaan perumahan melalui pasar sekunder. Pemerintah sebelumnya telah menyiapkan pembentukan SMF bersama Bank Tabungan Negara (BTN), tetapi karena ada krisis ekonomi rencana itu tak pernah terealisasi sampai sekarang.

Lembaga SMF diperlukan dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan terhadap dana jangka panjang yang relatif murah, khususnya bagi pembiayaan pembangunan perumahan untuk masyarakat yang terus meningkat. Lembaga SMF ini  berfungsi untuk menjembatani penghimpunan dana masyarakat yang harus dikembalikan dalam waktu singkat dan kredit perumahan yang berlangsung dalam jangka panjang. Sistem yang telah berlaku di Thailand, Malaysia, dan Singapura ini mampu mengatasi masalah perumahan.

Lembaga SMF akan berperan sebagai lembaga penggalang dan penyalur dana. Kesulitan pihak bank saat ini umumnya adalah mencari sumber dana yang mampu menutupi pembiayaan fasiltas KPR-nya (Kredit Pemilikan Rumah) sehingga dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang panjang, contoh 25 tahun. Fasiltas KPR yang umum dikeluarkan oleh pihak bank saat ini adlah dalam jangka waktu pendek atau menengah, yakni 5 -15 tahun. Oleh karena itu, lembaga SMF ini diharapkan dapat dijadikan sebagai alternatif  bank-bank primer penyedia KPR yang dapat memberikan pinjaman jangka panjang untuk kemudian diteruskan oleh masyarakat peminjam.

Banyak peranan yang bisa dilakukan oleh lembaga SMF ini selaku fungsinya sebagai penggalang dan penyalur dana. Yang pasti, si peminjam dalam hal ini masyarakat dapat diberikan banyak alternatif yang lebih mudah, murah, tidak memberatkan dan terjangkau untuk mendapat fasilitas KPR. Selain itu dana SMF ini sangat penting sekali bagi perkembangan dunia properti di Indonesia. Sebab selama ini sumber dana pembangunan properti yang dipakai oleh bank masih bersifat jangka pendek. Untuk itu dengan adanya ketersediaan sumber dana jangka panjang yang dibentuk dalam wadah SMF besar kemungkinan perkembangan properti akan lebih maju.

Banyak yag bisa diperbuat dengan keberadaan lembaga SMF ini. Oleh karena itu, menurut saya program utama 100 hari Menpera adalah terbentuknya lembaga SMF ini dengan segala infrastrukturnya. Mulai dari alokasi dana pemerintah yang saat ini sebesar Rp 1 triliun, bila memungkinkan ditingkatkan hingga modal awal normal menurut Menkimpraswil lalu Soenarno, yakni Rp 3 triliun. Kemudian, misalnya dilanjutkan dengan penerbitan obligasi sebagai saluran untuk investasi dana jangka panjang. Lalu upaya penjaringan dana murah dari luar negeri guna membiayai pembangunan perumahan jangka panjang. Lantas penyaluran pemberian kredit sesuai prioritas kebijakan pemerintah serta memang pihak yang berhak menerimanya.

Karena begitu besar peran dan amanah yang diemban oleh lembaga ini, maka dibutuhkan aparat dan figur-figur yang jujur, bersih, amanah, kreatif dan punya integritas tinggi. Selain itu dari sosok pemimpinnya dibutuhkan kapabilitas dalam hal sistem keuangan dan diharapkan memiliki hubungan luas dengan dunia internasional. Mungkin inilah yang melandasi Menpera Yusuf Anshari untuk memperbaiki struktur organisasi Kementerian Perumahan Rakyat sebagai salah satu program 100 harinya.  Menyusun struktur organisasi kementerian yang efisien namun mampu melaksanakan fungsi operasional. Ia bertekad mengisi struktur kementerian dengan pejabat-pejabat yang bersih dan amanah. "Kesuksesan suatu lembaga sangat dipengaruhi tingkat kebersihan aparatnya. Kementerian yang para aparatnya bersih dan amanah, tentunya akan berpeluang sukses lebih tinggi," tegasnya. Apalagi lembaga ini akan bergelimang dengan uang yang tidak sedikit jumlahnya. Agar program dapat sukses, maka pencegahan secara dini akan kemungkinan kebocoran dan penyelewangan adalah satu syarat yang mutlak dipenuhi.

Sebenarnya lembaga ini bukanlah hal yang baru. Di banyak negara lembaga ini telah dikenal luas dan merupakan jantung dan motor penggerak pembangunan perumahan pemerintah. Di Filipina, lemabaga ini dikenal sebagai National Home Mortgage Finance Corporation, sedangkan di Perancis lembaga ini bernama Caisse de Refinancement de Hypothecaire. Sementara di India, lembagaini  berada di bawah naungan National Bank of India. Amerika Serikat menyebut lembaga ini sebagai Federal Homes Loans Banks yang memberi pinjaman yang dijamin (oleh pemerintah).

Sedangkan di Malaysia, peran ini dimotori oleh lembaga yang bernama Cagamas Berhad. Cagamas memiliki komitmen dalam membantu kepemilikan rumah melalui fasilitas finansial yang beragam tersedia sehingga memungkinkan pinjaman kepemilikan rumah menjadi lebih mudah dan terjangkau bagi rakyat, terutama bagii kalangan masyarakat berpendapatan kecil.

MENURUT Ignesjz Kemalawarta MBA, anggota Pokja pembentukan pembiayaan sekunder/Ketua Pokja SMF DPP Real Estat Indonesia (REI), saat ini proses pematangan pembentukan lembaga SMF sedang berjalan di bawah koordinasi Depkeu.

"Selain modal awal dari pemerintah sebesar Rp 1 triliun, diharapkan juga ada kontribusi pinjaman dari lembaga keuangan internasional dan negara donor karena keseluruhan kebutuhan modal awal SMF diperkirakan sebesar Rp 3 triliun," ujar Ignesjz.

Dia mengatakan, masih banyak langkah lanjutan yang harus dilakukan oleh instansi terkait maupun asosiasi terkait dengan pelaksanaan SMF. Misalnya, seperti pembentukan resmi lembaga SMF, melanjutkan upaya pembentukan KPR yang berkualitas melalui berbagai koordinasi pada bank pemberi KPR. Selain itu juga perlu sosialisasi kepada para pengembang, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Departemen Kehakiman, dan pemda.

Dana SMF ini sangat penting sekali bagi perkembangan dunia properti di Indonesia. Sebab selama ini sumber dana pembangunan properti yang dipakai oleh bank masih bersifat jangka pendek. Untuk itu dengan adanya ketersediaan sumber dana jangka panjang yang dibentuk dalam wadah SMF besar kemungkinan perkembangan properti akan lebih maju.

Semoga kali ini janji pemerintah untuk mewujudkan lembaga SMF bisa benar-benar diwujudkan oleh Menpera di bawah kepemimpinan Yusuf Anshari. Masyarakat yang membutuhkan rumah sudah amat sangat merindukan sekali keberadaan lembaga ini. Mudah-mudahan lembaga ini dapat bertindak amanah dan menjalankan fungsinya dengan profesionalisme tinggi dan menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga dapat memberikan manfaat pada umat.

(Kurnia Wahyudi, dihimpun dari berbagai sumber)

NagaraOctober 28, 2004 5:53 am

Seragam KORPRI yang dikenakan seorang ibu PNS di dalam metro mini yang membawaku ke tempat kerja, telah mengingatkanku bahwa hari ini pasti hari spesial, sebuah hari besar nasional. Kurunut tanggal dan bulan dan akhirnya tersadar bahwa hari ini adalah tanggal 28 Oktober, Hari Sumpah Pemuda.

Pemuda! Wah, kata yang terkesan gagah, mentereng dan penuh dinamika. Kata tersebut sempat hilang dalam perbendaharaan politik nasional seiring diberanguskannya kementerian, yang saat ini dipimpin oleh Adhyaksa Dault, dari era pemerintahan Gus Dur dan Megawati.

Definisi

Berbagai definisi berkibar akan makna kata pemuda. Baik ditinjau dari fisik maupun phisikis akan siapa yang pantas disebut pemuda serta pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau usia. Terlebih kaitannya dengan makna hari Sumpah Pemuda.

Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”. Definisi lebih lengkap dijabarkan menurut Websters di
http://www.websters-online-dictionary.org/definition/english/yo/youth.html.

Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10 -19 tahun. Contoh lain di Canada dimana negara tersebut menerapkan bahwa “after age 24, youth are no longer eligible for adolescent social services”.         (www.med.uottawa.ca/homeless/tools/glossary_e.html).

Definisi yang berbeda ditunjukkan oleh Alquran.  Dalam kaidah bahasa Qurani pemuda atau yang disebut “asy-syabab”didefinisikan dalam ungkapan sifat dan sikap seperti:

  1. berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang (berani) melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Se­sungguhnya dia termasuk orang orang yang zalim, Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang (berani) mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS.Al­-Anbiya, 21:59-60).
  2. memiliki standar moralitas (iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dalam dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda penghuni gua).“Kami ceritakan kisah me­reka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda.pe­muda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah­kan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, se­sungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS.18: 13-14).
  3. seorang yang tidak berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan; atau aku akan ber­jalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).

Jadi pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dsb. Kelemahan mecolok dari seorang pemuda adalah kontrol diri dalam artian mudah emosional, sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri.

Perubahan

Peran penting dari seorang pemuda adalah pada kemampuannya melakukan perubahan. Perubahan menjadi indikator suatu keberhasilan terhadap sebuah gerakan pemuda. Perubahan menjadi sebuah kata yang memiliki daya magis yang sangat kuat sehingga membuat gentar orang yang mendengarnya, terutama mereka yang telah merasakan kenikmatan dalam iklim status quo. Kekuatannya begitu besar hingga dapat menggerakkan kinerja seseorang menjadi lebih produktif. Keinginan akan suatu perubahan melahir sosok pribadi yang berjiwa optimis. Optimis bahwa hari depan pasti lebih baik.

Tak heran jargon perubahan menjadi tema yang cukup menjual dan menggugah hati masyarakat di Pilpres II lalu. Pertama kali didengungkan oleh PKS setelah penandatanganan nota kesepahaman dukungan PKS terhadap pasangan SBY-JK di Pilpres II. SBY pun menggunakan jargon “perubahan” ini dalam kampanyenya dan terbukti sukses. Lebih dari 60% masyarakat Indonesia mendukungnya, suatu persentasi angka yang tidak sedikit.

Harapan perubahan itulah yang amat sangat dirindukan oleh bangsa Indonesia. Saya mungkin salah satu anak bangsa, yang ketika pemilu 2004 ini digulir baik legislatif maupun presiden, menjadi optimis bahwa angin perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik akan merebak. Hal itu dapat terlihat proporsi fraksi anggota parlemen dari perwakilan partai yang hampir merata, baik tingkat nasional maupun daerah. Sekarang yang kita tunggu adalah bagaimana mereka menggebrak dan masih layak disebut pemuda. Mereka butuh momentum. Momemntum unutk merubah tatanan pragmatisme yang kadung menjadi sebuah permisivitas dalam kacamata sosial.

Momentum

Ketika para tetua MPR; Hidayat Nur Wahid, AM Fatwa, Mooryati Soedibyo dan Aksa Mahmud, memutuskan untuk tidak mengambil fasilitas mobil dinas Volvo dan kemudian diikuti oleh sejumlah menteri di jajaran kabinet SBY-Kalla, itu baru satu momentum.

Ketika para tetua MPR pula memutuskan untuk tidak mengambil fasiltas hotel mewah dan kemudian diikuti oleh jajaran anggota parlemen di MPR/DPR, itu juga momentum.

Ketika Hidayat Nur Wahid memutuskan mundur sebagai Ketua partai, PKS, setelah dia terpilih sebagai ketua MPR, dan kemudian juga diiikuti sejumlah menteri di jajaran kabinet SBY-Kalla dan partai-partai lain, itu juga momnetum. Momentum merombak tatanan pakem politik yang kadung suatu kewajaran dalam budaya rangkap jabatan publik dan kepartaian yang sarat dengan fenomena conflict of interest.
Ketika SBY memutuskan menggunakan cara-cara yang di luar kebiasaan dalam memilih calon anggota kabinetnya, sehingga publik dapat merespon dan memberikan masukan terhadap tindakan, dan SBY cukup apresiatif dengan respon itu, ini juga momentum.

Ketika pemerintahan SBY – Kalla mencanangkan shock therapy dalam rangka menumbuhkan efek jera kepada pelaku pelanggaran hukum berat, ini juga momentum.

Ketika para pengamat dan publik memiliki kesempatan untuk bebas mengkritik dengan bertanggung jawab tanpa ada kekhawatiran intimidasi, ini juga momentum.

Begitu banyak momentum yang kita lihat di pemerintahan yang baru ini dan kita masih banyak butuh momentum lagi. Tapi bukan sekedar momentum, tetapi momentum yang berkelanjutan. Momentum yang terstruktur. Sehingga mampu menjadi efek bola salju, makin lama makin memiliki kekuatan daya dobrak yang besar.

Mereka, para pencetus momentum, tidak lagi berusia 24 tahun. Tidak lagi berusia muda. Tapi tak layakkah bagi mereka disebut pemuda? Keinginan perubahan yang mereka bawa, dan begitu banyak orang yang meng-amini serta mengikutinya, bukan berarti kiprah mereka omong-kosong belaka. Para pengikutnya mungkin dari dulu ingin melakukannya, tapi mereka butuh momen untuk memulainya. Sosok yang mampu mendorong mereka.

Hidayat, Fatwa, Mooryati, Aksa, SBY, Kalla, dan lain-lainnya sudah tidak lagi muda. Tapi bila mereka membawa ide perubahan ke arah perbaikan bagi bangsa, maka mereka layak disebut PEMUDA. Sekedar mengingatkan, mungkin sebagian dari kita sudah lupa bunyi teks Sumpah Pemuda;

Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku bertanah air yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia,
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Salam Pemuda, Merdeka!

NagaraOctober 19, 2004 6:01 am

Tulus dari hati yang paling dalam, saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada Ibu. Dari sekian banyak prestasi yang telah dilakukan oleh Ibu Megawati, momen pergantian Presiden merupakan klimaks prestasi yang beliau torehkan dalam bidang demokrasi Indonesia.

Mungkin sebagian dari kita tidak setuju, tetapi bagi saya pribadi momentum perubahan demokrasi Indonesia pertama kali digariskan bukan tatkala SBY dan MJK disumpah menjadi Presiden tanggal 20 Oktober 2004. Lebih dari delapan bulan sebelumnya prubahan itu dimulai, yakni tatkala Ibu Megawati membuat perangkat persiapan untuk Pemilihan Umum 2004.

Ibu Mega sadar bahwa taruhannya adalah jabatannya. Ibu Mega sadar, berat baginya untuk bisa melenggang di kursi kepresidenan untuk kedua kalinya, di tengah tantangan masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya siap dipimpin oleh seorang wanita. Tapi darah kenegarawanan beliau yang lahir dari mendiang sang ayah, Soekarno, menuntun beliau untuk memberikan suatu yang tak ternilai dan terbaik bagi bangsa ini. Suatu langkah besar perubahan ke arah demokrasi yang akhirnya dapat melibatkan seluruh komponen anak bangsa.

Oleh karena itu, sedih rasanya mendengar bila Ibu Mega tak hadir dalam acara pelantikan presiden 20 Oktober nanti. Padahal saya sudah membayangkan, lepas acara pelantikan nanti akan ada fragmen atau tayangan di media perihal perjalanan kenegarawanan seorang Megawati.

Yang terbayang di benak saya di masa mendatang, tatkala Indonesia sudah menjadi bangsa yang jauh lebih sukses dan maju dari sekarang ini, Indonesia tak akan pernah melupakan jasa beliau. Seluruh tayangan dan fragmen sejarah akan mengingat bahwa beliaulah orang kunci (key person) perubahan Indonesia.

Sejarah dan media akan merekam fragmen-fragmen sejarah perubahan demokrasi yang dilakukan oleh beliau, yakni fragmen tatkala beliau mengajukan Undang-Undang mengenai pemilu 2004 ke DPR, fragmen pengesahan UU Pemilu oleh DPR, fragmen pembentukan dan pengangkatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), fragmen Pemilihan legislatif dilanjutkan oleh Pilpres 1 dan 2, dan fragmen pengumuman pemenang Pilpres.

Tinggal satu fragmen penutup dibutuhkan. Semua itu akan menjadi sebuah cerita yang utuh, tatkala Ibu Megawati hadir di acara pelantikan Presiden di depan sidang MPR 20 Oktober 2004, di mana seluruh mata anak bangsa dan dunia terarah kepadanya. Bagi saya bukan SBY –lah pusat perhatian saat itu, melainkan Ibu. Oleh karena itu, alangkah manisnya bila selepas sumpah dibacakan dan Presiden baru pun resmi dinobatkan, Ibu dan presiden pertama pilihan rakyat bersalaman. Sungguh sebuah momen yang mengharukan. Sejarah yang tak terlupakan. Apalagi bila memungkinkan, Ibu diberi kesempatan pidato untuk terakhir kalinya di depan sidang seraya memberikan kesempatan, jalan dan restu bagi Presiden baru seraya harapan kepada semua anak bangsa agar mendukung presiden baru yang terpilih. Lantas, dilanjutkan oleh pidato presiden yang baru.

Sejarah akan mencatat kelengkapan kenegarawanan seorang putra mendiang Proklamator RI, Soekarno. Bagi keluarga Ibu, akan menjadi suatu catatan yang amat membanggakan bagi anak-cucu-cicit dan seterusnya.

Saya pribadi masih berharap penolakan Ibu selama ini sebagai mimpi, yang kemudian Ibu secara tiba-tiba memutuskan untuk hadir. Sungguh sebuah momen sejarah demokrasi Indonesia yang tak terlupakan.

Sekali lagi Ibu, saya ucapkan terima kasih kepada Ibu yang telah membuka jalan demokrasi ini menjadi lebih baik!

Mungkin ini sekedar harapan seorang anak bangsa untuk melihat utuhnya cerita perubahan demokrasi Indonesia. Tetapi saya sadar semua berpulang pada Ibu, apakah Ibu ingin menjadi bagian dari sejarah itu sendiri atau menjadi penonton. Pastilah Ibu sudah memutuskan yang terbaik.

NagaraOctober 4, 2004 7:03 am

Akankah Bernasib Sama dengan PDIP?

Suarapublika, Republika, Sabtu 2 Oktober 2004 (http://www.republika.co.id/ASP/kolomdetail.asp?id=174340&katid=20)

Kiprah perolehan PD di Pemilu 2004 ini boleh dibilang cukup fenomenal dan itu tidak lepas dari profil sosok pendirinya, SBY. Tapi sayangnya, hasil cemerlang itu ternodai oleh segelintir kader PD terpilih di DPRD DKI yang mengkhianati kesepakatan yang telah dibuat antara DPD PD dan DPD PKS (Partai Keadilan Sejahtera) perihal komitmen kesamaan suara dalam pemilihan ketua DPRD DKI. Ada suara pembelotan di kubu PD dengan melanggar kesepakatan yang telah dibuat oleh para elite partai.

Untunglah Ketua PD Subur Budhisantoso telah memberikan sinyalemen bahwa ada 2 anggotanya yang terlibat money politics dalam pemilihan ketua DPRD DKI Jakarta. Tapi langkah tersebut belumlah cukup. Perlu diambil langkah lain yang lebih nyata dan menyeluruh guna mengembalikan kewibawaan PD di kemudian hari. Bila perlu bukan sekadar langkah recall dan pemecatan, tapi juga humiliating punishment (hukuman yang mempermalukan), agar kelakuan yang sama tak terulang kembali dan juga tidak menjadi preseden buruk di kemudian hari.

Sayang, bila langkah awal yang manis yang telah dibangun oleh kerja keras para kader lain serta simpatisan harus hancur oleh segelintir kader pilihan karena terpesona oleh kenikmatan sesaat dengan mengorbankan nilai-nilai moral dari masyarakat pemilihnya. Masyarakat sudah berharap banyak dengan partai satu ini sebagai salah satu harapan partai pembaru di Republik tercinta ini.

Oleh karena itu tindakan tegas guna mengembalikan kewibawaan partai perlu cepat dilakukan. Walau SBY menyerahkan sepenuhnya konflik yang terjadi di tubuh Partai Demokrat ke elite partai, tapi menurut saya SBY tidak bisa lepas tangan begitu saja. SBY sebagai inspirator berdirinya Partai Demokrat dan gerbang beliau guna menduduki kursi presiden, memiliki andil besar untuk membersihkan dan mengarahkan kembali jalannya partai. Ini adalah test case pertama SBY, mampukah beliau menuntaskan permasalahan internal partai yang juga merupakan bagian dari dirinya. Apalagi bagian dari janji beliau untuk menanggulangi masalah KKN, dan ini jelas-jelas ada di depan matanya. Mampukah beliau menyerahkan beberapa borgol yang pernah beliau katakan di salah satu even dari 100 borgol yang beliau minta untuk dipasangkan kepada kader partainya yang terbukti melakukan tindakan KKN? Jika tidak maka kelangsungan kedudukan beliau sebagai presiden akan dipertaruhkan bukan saja untuk Pemilu tahun 2009 tapi di masa pemerintahannya saat ini 2004-2009.

Bersihkan tubuh partai dari slilit (kotoran) yang menyelip di sela gigi SBY, agar beliau bisa tetap tampil bersih, tampan dan meyakinkan. Bila tidak, maka tidak tertutup kemungkinan nasib PD (Partai Demokrat) di Pemilu mendatang (2009) akan sama dengan nasib PDIP di Pemilu 2004 ini. Tidak hanya hancur pamornya tapi juga konflik internal yang meraja-lela. Pasti itu bukanlah cita-cita para pendiri Partai Demokrat. Kata orang bijak, bila retak hubungan antara manusia, pastilah telah terselip dunia di antara mereka (terlena dan silau oleh kenikmatan dunia).