Buana, Nagara, Antara, CittaDecember 11, 2007 3:59 am

Kertas (paper) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir seluruh aktifitas keseharian kita membutuhkan kertas, seperti pekerjaan, komunikasi, pendidikan, kesehatan, perbankan, dan lain lain.

Berapa sih sebenarnya nilai kertas dalam sebuah perusahaan? Mari kita coba bermain matematika sedikit berdasarkan fakta dan data yang ada.

Untuk menghitung biaya terkait dengan penggunaan suatu produk, termasuk penggunaan kertas, perhitungan selalunya didasarkan pada tiga aspek biaya, yakni

  1. Biaya produksi (productional cost)
    yaitu biaya pabrik untuk memproduksi satu unit kertas, yakni sekitar $450/ton atau sekitar Rp 11.000/ rim
  2. Biaya lembaga/perusahaan (institutional/company cost)
    yaitu harga beli kertas oleh perusahaan ditambah komponen biaya lain untuk pengelolaan satu unit kertas, seperti penyimpanan (storage), pencetakan (printing), penggandaan (copying), daur ulang (recycling), pembuangan (disposal), dan pengiriman (delivery or postage). Studi mutakhir yang diadakan oleh Citigroup dan Aliansi Pelindung Lingkungan (Environmental Defense Alliance) diperoleh kesimpulan bahwa total komponen biaya (institutional cost) ini senilai 31 kali lipat harga beli kertas
  3. Biaya lingkungan (environmental cost)
    yaitu biaya tidak langsung terhadap dampak lingkungan berkaitan dengan pemakaian kertas seperti; rusaknya hutan dan isinya, polusi, sampah, pemanasan global, longsor, banjir, dan lain sebagainya. Menurut Rainforest Information Center, sebanyak 10 -17 pohon yang harus ditebang untuk menghasilkan satu ton kertas ukuran koran (atau 8 lembar ukuran kertas A4). Satu ton tersebut cukup untuk mencetak sekitar 7.000 eksemplar koran. 

Menurut Indonesian Pulp and Paper Association, sembilan puluh persen konsumsi kertas (tulis dan cetak) di Indonesia disuplai secara domestik dan dalam kurun waktu lima tahun (2000-2004). Data statistik pada Tabel 1, menggambarkan peningkatan jumlah konsumsi dan produksi kertas di Indonesia dari tahun 2000 hingga 2004.


Dengan mengambil nilai minimal rata-rata tingkat pertumbuhan konsumsi dan produksi yakni 5% per tahun (sedangkan menurut World Resource Institute untuk Negara berkembang rata-rata sekitar 7% per tahun), maka diperoleh jumlah konsumsi kertas Indonesia di tahun 2006 adalah 5,96 juta ton. Kebutuhan (demand) yang besar inilah yang mungkin menjadi pemicu maraknya kasus  pembalakan liar (illegal logging) di Indonesia.

Dari jumlah konsumsi kertas 5,96 juta ton di tahun 2006, kita akan dapat menghitung konsumsi penggunaan kertas per kapita atau per angkatan kerja (per pekerja/pegawai).

Tabel 1. Data Statistik Produksi dan Konsumsi Kertas Tulis dan Cetak (paperboard)  tahun 2000 – 2004 (dalam tons)

Tahun
Kapasitas
Produksi
Produksi
Impor
Ekspor
Konsumsi
Tercatat
2000
9,116,180
6,849,000
212,630
2,837,210
4,224,420
2001
9,904,080
6,951,240
199,840
2,345,135
4,805,945
2002
10,045,580
7,212,970
249,695
2,446,730
5,015,935
2003
10,045,580
7,267,880
206,880
2,160,380
5,314,380
2004
10,045,580
7,679,820
306,970
2,576,640
5,410,150
Sumber: Indonesian Pulp & Paper Association Directory 2005

Tingkat konsumsi kertas per kapita didapat dengan membagi total konsumsi kertas dengan jumlah penduduk. Sedangkan konsumsi per angkatan kerja didapat dengan membagi total konsumsi dengan hanya jumlah angkatan kerja, sehingga didapat tingkat konsumsi kertas per pekerja (pegawai).

konsumsi_kertas_per_ kapita = total_konsumsi_kertas / jumlah_penduduk
konsumsi_kertas_per_angkatan_kerja= total_konsumsi_kertas/jumlah_angkatan_kerja

Dengan menggunakan rumus di atas dan data jumlah penduduk Indonesia tahun 2006 (225 juta), maka akan didapat hasil bahwa konsumsi kertas per kapita tahun 2006 adalah 27 kg. Bandingkan dengan negara-negara lainnya yang sumber daya alamnya terbatas seperti Singapura dengan konsumsi kertas per kapita mencapai 154 kilogram per kapita, Malaysia 115 kilogram, Thailand 40 kg, China 45 kg, Amerika Serikat 301 kg, dan Jepang 242 kg (lihat Tabel 2).

Sedangkan bila nilai tabel 1 di atas diasumsikan hanya digunakan oleh para pekerja dan angkatan kerja Indonesia (sebesar 108 juta), maka konsumsi kertas per angkatan kerja (pegawai) Indonesia tahun 2006 adalah 55 kg kertas.

Tabel 2. Rata-Rata Konsumsi Kertas Per Kapita Per Negara tahun 2006

negara
konsumsi per kapita
urutan dunia
 
negara
konsumsi per kapita
urutan dunia
Luxembourg
334
1
 
Inggris
201
15
Finland
325
2
 
New Zealand
189
17
United States
301
3
 
Korea, Rep
173
20
Austria
277
4
 
Singapore
154
23
Belgium
250
5
 
Malaysia
115
28
Denmark
244
6
 
Thailand
51
55
Canada
242
7
 
China
45
57
Japan
242
8
 
Indonesia
27
84
Germany
232
9
 
Philippines
18
88
Netherlands
227
10
 
Viet Nam
15
94
Sweden
220
11
 
Brunei
13
100
Switzerland
216
12
 
Cambodia
2
152
Italy
206
13
 
Myanmar
2
158
Australia
210
14
Laos
1
175

Sumber: Asosiasi Pulp & Kertas Indonesia & Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia & World Resource Institute

Bila kertas yang digunakan adalah kertas ukuran A4 dengan berat 5gr/lembar, maka konsumsi kertas per kapita adalah 5.400 lembar atau sekitar 15 lembar/hari atau 11 rim/tahun. Misalnya harga rata-rata kertas per rim-nya adalah Rp 30 ribu maka konsumsi kertas per kapita per tahun adalah sekitar Rp 330 ribu.

Sedangkan konsumsi kertas per angkatan kerja adalah 11.000 lembar atau sekitar 30 lembar/hari atau 22 rim/tahun, atau setara dengan Rp 660 ribu per angkatan kerja per tahun.

Berarti biaya perusahaan (company cost) dari 22 rim kertas yang digunakan oleh per angkatan kerja per tahunnya adalah 31 x Rp 318 ribu = Rp 20,46 juta per pegawai. Bayangkan bila satu perusahaan memiliki 100 pegawai, berarti total biaya konsumsi kertasnya sebesar lebih dari Rp 2 Milyar.

Sedangkan biaya lingkungan (environmental cost) dari 55 kg kertas per angkatan kerja Indonesia setara dengan 0.6 – 0,9 pohon per orang per tahun, berarti setiap tahunnya sekitar 65 – 97 juta pohon ditebang untuk memenuhi kebutuhan akan kertas para angkaan kerja di Indonesia.

Contoh lain, dalam sebuah program “Cleaning Day” yang diadakan oleh sebuah perusahaan sumber energi di daerah bisnis Kuningan, Jakarta, terkumpul “sampah” kertas tak terpakai sebanyak 2 ton kertas, selama kurun waktu lima tahun menghuni gedung tersebut. Jika mengambil data riset terakhir bahwa dari total jumlah sampah yang dihasilkan, 30-40% merupakan sampah kertas, berarti bayangkan berapa besar beban tambahan yang harus ditanggung oleh gedung untuk menampung kertas dan sampahnya (5-7 ton sampah)? Itu baru dari satu perusahaan yang 3 lantai dari 18 lantai yang ada, bagaimana dengan perusahaan di lantai yang lainnya?

Menghemat kertas berarti menyelamatkan dunia!

Buana, Nagara, AntaraOctober 22, 2007 3:44 am

Merespon apa yang sedang terjadi dengan Malaysia akhir-akhir ini, hanya ada satu cara mengatisipasi dan mengatasinya, yakni bagaimana kita dapat membangun bangsa (rakyat) kita agar tumbuh menjadi pribadi (bangsa) yang mandiri, dihormati dan disegani (ditakuti). Caranya, saya hanya melihat dua cara saja:

1. Berikan akses pendidikan dan kesehatan yang merata bagi seluruh anak bangsa setinggi-setingginya dan seluas-luasnya dengan semudah mungkin dan biaya serendah mungkin.

Peningkatan alokasi APBN untuk biaya pendidikan setidaknya adalah langkah pertama yang harus dilakukan di strata pemerintahan. Selanjutnya, bagaimana pendidikan dan kesehatan tersebut dapat menjadikan seluruh bangsa kita menjadi pribadi yang mandiri dan dihormati secara ekonomi dan personaliti. Belajarlah dari Malaysia yang mengalokasi APBN untuk pendidikan dan kesehatannya masing-masing tidak kurang dari 20%. Artinya, pemerintah dapat memfokuskan dirinya unutk membentuk rakyatnya menjadi bangsa yang kuat, sehat, mandiri, bermartabat dan terhormat, dengan bekal pendidikan yang diperoleh dan kesehatan yang terjamin.

2. Berikan akses kekuatan bagi personil penjaga negeri ini. Apa yang yang terjadi paling tidak dua tahun terakhir ini, perihal penyelenggaraan ulang tahun ABRI (5 Oktober), paling tidak dapat menjadi tanda tanya besar, akan apa yang sedang terjadi terhadap para pelindung negeri ini, akan di mana dan bagaimana kekuatan tentara kita selama ini. Penyelenggaran ulang tahun ABRI yang biasanya dilakukan di Halim Perdanakusuma, kini hanya cukup di markas besarnya saja, Cilangkap. Pesta yang sedianya dimeriahkan dengan pamer senjata, peralatan dan keahlian, sebagian dari itu sepertinya sirna. Terkendala akan ketersediaan suku cadang dan permasalahan teknis, yang berhulu pada ketiadaan dana yang cukup untuk pengadaannya. Beberapa sumber menyatakan bahwa ke-ringkih-an tampak dari hanya 40-50 persen kesiapan operasional minimum sistem persenjataan TNI saat ini, nyaris di seluruh matra angkatan. Angka itu jauh di bawah angka kesiapan minimal operasional seharusnya. Bahkan, bisa dibilang nyaris separuh kekuatan peralatan utama sistem persenjataan (alutsista) TNI tidak sanggup beroperasi maksimal. Penyebabnya, baik karena faktor usia peralatan maupun terbatasnya pengadaan komponen dan suku cadang.

Misalnya,

Dari 20 unit pesawat angkut Hercules, hanya enam pesawat yang bisa dioperasikan. Armada pesawat tempur, baik jenis F-5 maupun F-16, keduanya sama-sama tidak berada dalam kondisi prima. Dari 10 jet tempur F-16, hanya empat pesawat yang bisa beroperasi. Sementara dari 12 pesawat tempur F-5, hanya empat pesawat yang dapat dioperasikan.

Menurut data Markas Besar TNI, yang disampaikan beberapa waktu lalu di Departemen Pertahanan, kesiapan operasional total 251 pesawat berbagai jenis milik TNI AU hanya mencapai 46 persen. Sementara untuk TNI AL, kesiapan total 117 kapal perang RI (KRI) hanya mencapai 57 persen dan  kesiapan total 71 pesawat udara berbagai jenis yang juga dimilikinya hanya mencapai 52 persen.

Walau begitu, kondisi armada kapal patroli TNI Angkatan Laut (KAL) masih terbilang menggembirakan. Dari total 128 KAL berbagai jenis, kesiapan operasionalnya masih terbilang prima, mencapai 82 persen.

Padahal, boleh dikatakan, baik TNI AU maupun AL, kedua matra itu sama-sama mengemban tanggung jawab berat mengamankan wilayah kedaulatan RI. Wilayah kedaulatan tersebut meliputi 17.500 pulau, 5,8 juta kilometer persegi wilayah laut, dan 81.000 kilometer panjang garis pantai.

Oleh, karena itu cukup beralasan kalau ada saran kita berlakukan "travel warning" ke Malaysia, baik untuk keperluan bisnis maupun wisata. Paling tidak untuk saat ini, hal itu adalah upaya yang paling tepat dan aman untuk melindungi anak negeri ini dari arogansi negeri jiran.

Lha wong Wakil Perdana Menterinya, Anwar Ibrahim, yang nota benenya pejabat tinggi dipukuli di penjara, apalagi cuma bermodalkan diplomatic ID, atawa Sport Ambassador, apalagi cuma bermodalkan passport saja. Tidak dipukuli saja sudah merupakan bonus, apalagi cuma dipenjara.

So that’s why, it is not safe to travel to Malaysia!

 

Buana, KaulaOctober 15, 2007 3:06 am

Ada dua hal yang mungkin setidaknya perlu diperhatikan bila ingin berkendara jauh dan panjang, terutama saat mudik.

1. Lakukan proses persiapan kendaraan minimal satu minggu sebelum hari H.
Proses persiapan meliputi pengecekan kondisi kendaraan dan perbaikan komponen kendaraan di bengkel. Setelah proses pengecekan dan perbaikan dilakukan, gunakan sebagaimana normalnya kita mengendarai kendaraan tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi, bila mana proses pengecekan dan perbaikan kurang sempurna, kita masih memiliki waktu luang untuk memperbaikinya.

 

2. Berkendaralah dengan menerapkan prinsip "Defensive Safety Driving"

Defensive safety driving yakni selalu menjaga jarak kendaraan, terutama di perjalanan yang panjang dan lenggang, seperti di tol, untuk mengurangi resiko kecelakaan. "Defensive Safety Driving Principle" selalu menerapkan 4 (empat) detik jarak antara kendaraan kita dengan kendaran di depan kita.

Karena 4 detik menurut penelitian adalah waktu aman untuk merespon apa yang terjadi dengan kendaraan di depan kita, bukan jarak - seperti 100 meter, misalnya; karena jarak relatif terhadap kecepatan kita.

Dengan jarak tertentu belum tentu sesuai dengan kendaraan dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Empat detik adalah waktu yang cukup untuk:

  • 1 detik melihat kejadian di muka (kendaraan di muka pecah ban dan berhenti mendadak),
  • 1 detik berpikir untuk apa yang harus dilakukan (beri sinyal tanda bahaya dan kurangi kecepatan),
  • 1 detik untuk beraksi terhadap kendaraan kita (nyalakan lampu hazard dan injak rem secara teratur berkala), dan
  • 1 detik terakhir adalah untuk waktu bagi kendaraan untuk merespon aksi yang kita inginkan (kecepatan kendaraan berkurang hingga berhenti).

Artinya, menjaga jarak 100 meter dengan kendaraan di depan kita hanya efektif bila kecepatan kendaraan kita adalah ~110 km/jam, lebih dari kecepatan tersebut adalah jarak yang kurang aman, dengan catatan kondisi kendaraan dalam keadaan baik dan layak.

 

Itu saja!
Have safe "mudik" and drive!

 

Buana, Nagara, QoutesOctober 5, 2007 1:23 am

Another inspiring speech from HEROES series Session 1 Episode 22 - Landslide,

While Nathan Petrelli gave a speech after winning the election for A New York Congress with 64% againts other candidates.

And from the entire Session 1, this is the best taken scenes part ever had, while Nathan gave a speech, the scenes describing every sentences what he was speaking about.

So, I call this the talking pictures.

Inspiring and touching …. 

[Nathan]
A landslide ..
That’s what they’re calling it.
I’m sorry my brother couldn’t be with us tonight.
But I know that Peter cares about this city more than anyone.

You know, our father always said that
we had a responsibility to use what God gave us.
To help people …
To make a real difference …

Pop always made the hard choices for the greater good …
He believed in that.
And so do I.

Our children deserve that.
They deserve a better future.
A future where they don’t have to face their fears alone,
but can look into the darkness and find hope.

I challenge everyone in here to inspire by example
to fight the battle, no matter the cost.
Because the world is sick and spinning out of control, but we can help.
With our help, it can heal.
With our love, with our campassion, and with our strength, we can heal it

Let’s put aside our differences.
Let’s embrace our common goals.
Let’s do it for our children.
Let’s show them all exactly what we’re capable of.

Thank you all … Thank you very much …

Grha, Buana, Nagara, AntaraSeptember 1, 2006 8:00 am

Hilang rupa, mari bersua,

Hilang canda, mari bercengkrama,

Hilang kata, mari bertutur sapa,

Hilang berita, mari kita berwacana.