Nagara, AntaraDecember 17, 2007 8:13 am

                                                     asian idol logo

Sebenarnya, yang membuat Singapura memenangi Asian Idol adalah karena kedunguan kita. Apa iya? Ikuti ulasannya ….

Penyelenggaraan Asian Idol malam tadi mencapai titik klimaks. Keheranan dan rasa tak percaya menghinggap tak hanya juri dan penonton baik yang langsung maupun melalui tv, tetapi juga pada pemenang itu sendiri, Hady Mirza dari Singapura.

Rasa heran dan tak percaya wajar saja, karena performa dan kualitas Hady Mirza bila dibandingkan oleh peserta Idol lainnya bisa dikatakan sedikit satu kelas dibandingkan unggulan utamanya; Jaclyn Victor (Mal), Mike Mohede (Indo), Mau Marcelo (PHIL).

Saya melihat kemungkinan kemenangan besar Hady Mirza, Singapura adalah lebih kepada faktor teknis voting, ketimbang alasan non teknis; seperti penampilan (stage-performace).

Kontribusi utama kemenangan Singapura dalam memenangkan First Asian Idol adalah karena teknis voting berupa pengiriman SMS. SMS yang dikirimkan harus menyertakan dua kandidat (negara) dalam satu pengiriman.

Alasan panitia dan negara peserta mungkin keberatan, karena kalau metode voting SMS konvensional yang hanya mengirim satu kandidat juara hanya akan didominasi oleh negara berpopulasi besar, dalam hal ini India dan Indonesia. Singapura dan Vietnam, dan mungkin juga Philiphina agak keberatan. Karena bakal kalah sebelum bertanding berhubung populasi meraka yang tak sebanyak India dan Indonesia.

Wajar mereka keberatan, karena Asian Idol kali ini yang hanya satu kali tanpa babak penyisihan, hanya mengandalan fanatisme dan sentimen kebangsaan, ketimbang obyektifitas kemampuan setiap peserta. Orang yang berpikir pendek akan langsung berpikir yang banyak kirim sms dia lah yang jadi pemenang.

Makanya nggak heran sewaktu Mau Marcelo dari Philiphina di wawancarai oleh RCTI (Seputar Indonesia) merasa nggak begitu yakin walau performance bagus.

"You know? It’s a vote .. so … well … you know? …", begitu kira2 menanggapi kemungkinan kemenangannya.

Lantas kenapa Singapura Hady Mirza menang????

Pertama, karena faktor teknis voting yang harus mengirimkan dua kandidat juara dalam satu SMS. Singapura mendapatkan limpahan suara dari negara lain selain dari negerinya sendiri melalui SMS, di mana penyumbang suara terbesar dari Indonesia, Malaysia, India, dan sebagai dari Vietnam/Philipina (???).

Kenapa begitu? Karena faktor non teknis yang mendukungnya, yakni ..

Kedua, faktor non teknis karena kedekatan rumpun. Sosok Hady Mirza lebih diterima oleh Indonesia dan Malaysia (kecuali dari etnis India dan preferensinya bangsa India juga) karena keserumpunannya, ketimbang peserta dari Vietnam (Phuong Vy) maupun Philipina (Mau Marcelo). Sebaliknya Malaysia dan Indonesia kecil sekali kemungkinannya saling menyertakan antara keduanya di dalam SMS terkait isu dan konflik budaya yang sedang berlangsung akhir-akhir ini.

Kedua, adanya limpahan suara dari India lebih dikarenakan faktor strategi di atas panggung. Di mana duet Hady Mirza dengan peserta India, Abhijeet Sawant, menyanyikan sebuah lagu India di penghujung acara, telah cukup mendulang simpati sebagian pemilih dari negeri (bangsa/etnis) India.

Ketiga, Singapura menjadi negara netral bagi Philipina dan Vietnam untuk menjadi pilihan kandidat kedua, maka dalam hal ini faktor good-loking menjadi penentu sms-voter untuk memilih Mirza.

Jadi, wajarlah kalau Hady Mirza menjadi unanimous decision (menang mutlak dan telak)! Nggak percaya? Cari deh data detailnya, pasti angka pemilih Hady Mirza kalah jauh di atas peserta lainnya.

Jadi yang dungu dan pintar siapa? ha..ha..ha…

Untunglah waktu istri ku nyuruh kirim akau nggak mau .. karena tau siapa yang bakal menang .. yang pasti bukan Malaysia dan Indonesia … dan yang pasti buang-buang duit ajah ….

"And the first Asian Idol goes to, Hady Mirza, Singapore," wakakakakakak ….. capek deh lu!!! emoticon

Buana, Nagara, Antara, CittaDecember 11, 2007 3:59 am

Kertas (paper) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir seluruh aktifitas keseharian kita membutuhkan kertas, seperti pekerjaan, komunikasi, pendidikan, kesehatan, perbankan, dan lain lain.

Berapa sih sebenarnya nilai kertas dalam sebuah perusahaan? Mari kita coba bermain matematika sedikit berdasarkan fakta dan data yang ada.

Untuk menghitung biaya terkait dengan penggunaan suatu produk, termasuk penggunaan kertas, perhitungan selalunya didasarkan pada tiga aspek biaya, yakni

  1. Biaya produksi (productional cost)
    yaitu biaya pabrik untuk memproduksi satu unit kertas, yakni sekitar $450/ton atau sekitar Rp 11.000/ rim
  2. Biaya lembaga/perusahaan (institutional/company cost)
    yaitu harga beli kertas oleh perusahaan ditambah komponen biaya lain untuk pengelolaan satu unit kertas, seperti penyimpanan (storage), pencetakan (printing), penggandaan (copying), daur ulang (recycling), pembuangan (disposal), dan pengiriman (delivery or postage). Studi mutakhir yang diadakan oleh Citigroup dan Aliansi Pelindung Lingkungan (Environmental Defense Alliance) diperoleh kesimpulan bahwa total komponen biaya (institutional cost) ini senilai 31 kali lipat harga beli kertas
  3. Biaya lingkungan (environmental cost)
    yaitu biaya tidak langsung terhadap dampak lingkungan berkaitan dengan pemakaian kertas seperti; rusaknya hutan dan isinya, polusi, sampah, pemanasan global, longsor, banjir, dan lain sebagainya. Menurut Rainforest Information Center, sebanyak 10 -17 pohon yang harus ditebang untuk menghasilkan satu ton kertas ukuran koran (atau 8 lembar ukuran kertas A4). Satu ton tersebut cukup untuk mencetak sekitar 7.000 eksemplar koran. 

Menurut Indonesian Pulp and Paper Association, sembilan puluh persen konsumsi kertas (tulis dan cetak) di Indonesia disuplai secara domestik dan dalam kurun waktu lima tahun (2000-2004). Data statistik pada Tabel 1, menggambarkan peningkatan jumlah konsumsi dan produksi kertas di Indonesia dari tahun 2000 hingga 2004.


Dengan mengambil nilai minimal rata-rata tingkat pertumbuhan konsumsi dan produksi yakni 5% per tahun (sedangkan menurut World Resource Institute untuk Negara berkembang rata-rata sekitar 7% per tahun), maka diperoleh jumlah konsumsi kertas Indonesia di tahun 2006 adalah 5,96 juta ton. Kebutuhan (demand) yang besar inilah yang mungkin menjadi pemicu maraknya kasus  pembalakan liar (illegal logging) di Indonesia.

Dari jumlah konsumsi kertas 5,96 juta ton di tahun 2006, kita akan dapat menghitung konsumsi penggunaan kertas per kapita atau per angkatan kerja (per pekerja/pegawai).

Tabel 1. Data Statistik Produksi dan Konsumsi Kertas Tulis dan Cetak (paperboard)  tahun 2000 – 2004 (dalam tons)

Tahun
Kapasitas
Produksi
Produksi
Impor
Ekspor
Konsumsi
Tercatat
2000
9,116,180
6,849,000
212,630
2,837,210
4,224,420
2001
9,904,080
6,951,240
199,840
2,345,135
4,805,945
2002
10,045,580
7,212,970
249,695
2,446,730
5,015,935
2003
10,045,580
7,267,880
206,880
2,160,380
5,314,380
2004
10,045,580
7,679,820
306,970
2,576,640
5,410,150
Sumber: Indonesian Pulp & Paper Association Directory 2005

Tingkat konsumsi kertas per kapita didapat dengan membagi total konsumsi kertas dengan jumlah penduduk. Sedangkan konsumsi per angkatan kerja didapat dengan membagi total konsumsi dengan hanya jumlah angkatan kerja, sehingga didapat tingkat konsumsi kertas per pekerja (pegawai).

konsumsi_kertas_per_ kapita = total_konsumsi_kertas / jumlah_penduduk
konsumsi_kertas_per_angkatan_kerja= total_konsumsi_kertas/jumlah_angkatan_kerja

Dengan menggunakan rumus di atas dan data jumlah penduduk Indonesia tahun 2006 (225 juta), maka akan didapat hasil bahwa konsumsi kertas per kapita tahun 2006 adalah 27 kg. Bandingkan dengan negara-negara lainnya yang sumber daya alamnya terbatas seperti Singapura dengan konsumsi kertas per kapita mencapai 154 kilogram per kapita, Malaysia 115 kilogram, Thailand 40 kg, China 45 kg, Amerika Serikat 301 kg, dan Jepang 242 kg (lihat Tabel 2).

Sedangkan bila nilai tabel 1 di atas diasumsikan hanya digunakan oleh para pekerja dan angkatan kerja Indonesia (sebesar 108 juta), maka konsumsi kertas per angkatan kerja (pegawai) Indonesia tahun 2006 adalah 55 kg kertas.

Tabel 2. Rata-Rata Konsumsi Kertas Per Kapita Per Negara tahun 2006

negara
konsumsi per kapita
urutan dunia
 
negara
konsumsi per kapita
urutan dunia
Luxembourg
334
1
 
Inggris
201
15
Finland
325
2
 
New Zealand
189
17
United States
301
3
 
Korea, Rep
173
20
Austria
277
4
 
Singapore
154
23
Belgium
250
5
 
Malaysia
115
28
Denmark
244
6
 
Thailand
51
55
Canada
242
7
 
China
45
57
Japan
242
8
 
Indonesia
27
84
Germany
232
9
 
Philippines
18
88
Netherlands
227
10
 
Viet Nam
15
94
Sweden
220
11
 
Brunei
13
100
Switzerland
216
12
 
Cambodia
2
152
Italy
206
13
 
Myanmar
2
158
Australia
210
14
Laos
1
175

Sumber: Asosiasi Pulp & Kertas Indonesia & Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia & World Resource Institute

Bila kertas yang digunakan adalah kertas ukuran A4 dengan berat 5gr/lembar, maka konsumsi kertas per kapita adalah 5.400 lembar atau sekitar 15 lembar/hari atau 11 rim/tahun. Misalnya harga rata-rata kertas per rim-nya adalah Rp 30 ribu maka konsumsi kertas per kapita per tahun adalah sekitar Rp 330 ribu.

Sedangkan konsumsi kertas per angkatan kerja adalah 11.000 lembar atau sekitar 30 lembar/hari atau 22 rim/tahun, atau setara dengan Rp 660 ribu per angkatan kerja per tahun.

Berarti biaya perusahaan (company cost) dari 22 rim kertas yang digunakan oleh per angkatan kerja per tahunnya adalah 31 x Rp 318 ribu = Rp 20,46 juta per pegawai. Bayangkan bila satu perusahaan memiliki 100 pegawai, berarti total biaya konsumsi kertasnya sebesar lebih dari Rp 2 Milyar.

Sedangkan biaya lingkungan (environmental cost) dari 55 kg kertas per angkatan kerja Indonesia setara dengan 0.6 – 0,9 pohon per orang per tahun, berarti setiap tahunnya sekitar 65 – 97 juta pohon ditebang untuk memenuhi kebutuhan akan kertas para angkaan kerja di Indonesia.

Contoh lain, dalam sebuah program “Cleaning Day” yang diadakan oleh sebuah perusahaan sumber energi di daerah bisnis Kuningan, Jakarta, terkumpul “sampah” kertas tak terpakai sebanyak 2 ton kertas, selama kurun waktu lima tahun menghuni gedung tersebut. Jika mengambil data riset terakhir bahwa dari total jumlah sampah yang dihasilkan, 30-40% merupakan sampah kertas, berarti bayangkan berapa besar beban tambahan yang harus ditanggung oleh gedung untuk menampung kertas dan sampahnya (5-7 ton sampah)? Itu baru dari satu perusahaan yang 3 lantai dari 18 lantai yang ada, bagaimana dengan perusahaan di lantai yang lainnya?

Menghemat kertas berarti menyelamatkan dunia!

Buana, Nagara, AntaraOctober 22, 2007 3:44 am

Merespon apa yang sedang terjadi dengan Malaysia akhir-akhir ini, hanya ada satu cara mengatisipasi dan mengatasinya, yakni bagaimana kita dapat membangun bangsa (rakyat) kita agar tumbuh menjadi pribadi (bangsa) yang mandiri, dihormati dan disegani (ditakuti). Caranya, saya hanya melihat dua cara saja:

1. Berikan akses pendidikan dan kesehatan yang merata bagi seluruh anak bangsa setinggi-setingginya dan seluas-luasnya dengan semudah mungkin dan biaya serendah mungkin.

Peningkatan alokasi APBN untuk biaya pendidikan setidaknya adalah langkah pertama yang harus dilakukan di strata pemerintahan. Selanjutnya, bagaimana pendidikan dan kesehatan tersebut dapat menjadikan seluruh bangsa kita menjadi pribadi yang mandiri dan dihormati secara ekonomi dan personaliti. Belajarlah dari Malaysia yang mengalokasi APBN untuk pendidikan dan kesehatannya masing-masing tidak kurang dari 20%. Artinya, pemerintah dapat memfokuskan dirinya unutk membentuk rakyatnya menjadi bangsa yang kuat, sehat, mandiri, bermartabat dan terhormat, dengan bekal pendidikan yang diperoleh dan kesehatan yang terjamin.

2. Berikan akses kekuatan bagi personil penjaga negeri ini. Apa yang yang terjadi paling tidak dua tahun terakhir ini, perihal penyelenggaraan ulang tahun ABRI (5 Oktober), paling tidak dapat menjadi tanda tanya besar, akan apa yang sedang terjadi terhadap para pelindung negeri ini, akan di mana dan bagaimana kekuatan tentara kita selama ini. Penyelenggaran ulang tahun ABRI yang biasanya dilakukan di Halim Perdanakusuma, kini hanya cukup di markas besarnya saja, Cilangkap. Pesta yang sedianya dimeriahkan dengan pamer senjata, peralatan dan keahlian, sebagian dari itu sepertinya sirna. Terkendala akan ketersediaan suku cadang dan permasalahan teknis, yang berhulu pada ketiadaan dana yang cukup untuk pengadaannya. Beberapa sumber menyatakan bahwa ke-ringkih-an tampak dari hanya 40-50 persen kesiapan operasional minimum sistem persenjataan TNI saat ini, nyaris di seluruh matra angkatan. Angka itu jauh di bawah angka kesiapan minimal operasional seharusnya. Bahkan, bisa dibilang nyaris separuh kekuatan peralatan utama sistem persenjataan (alutsista) TNI tidak sanggup beroperasi maksimal. Penyebabnya, baik karena faktor usia peralatan maupun terbatasnya pengadaan komponen dan suku cadang.

Misalnya,

Dari 20 unit pesawat angkut Hercules, hanya enam pesawat yang bisa dioperasikan. Armada pesawat tempur, baik jenis F-5 maupun F-16, keduanya sama-sama tidak berada dalam kondisi prima. Dari 10 jet tempur F-16, hanya empat pesawat yang bisa beroperasi. Sementara dari 12 pesawat tempur F-5, hanya empat pesawat yang dapat dioperasikan.

Menurut data Markas Besar TNI, yang disampaikan beberapa waktu lalu di Departemen Pertahanan, kesiapan operasional total 251 pesawat berbagai jenis milik TNI AU hanya mencapai 46 persen. Sementara untuk TNI AL, kesiapan total 117 kapal perang RI (KRI) hanya mencapai 57 persen dan  kesiapan total 71 pesawat udara berbagai jenis yang juga dimilikinya hanya mencapai 52 persen.

Walau begitu, kondisi armada kapal patroli TNI Angkatan Laut (KAL) masih terbilang menggembirakan. Dari total 128 KAL berbagai jenis, kesiapan operasionalnya masih terbilang prima, mencapai 82 persen.

Padahal, boleh dikatakan, baik TNI AU maupun AL, kedua matra itu sama-sama mengemban tanggung jawab berat mengamankan wilayah kedaulatan RI. Wilayah kedaulatan tersebut meliputi 17.500 pulau, 5,8 juta kilometer persegi wilayah laut, dan 81.000 kilometer panjang garis pantai.

Oleh, karena itu cukup beralasan kalau ada saran kita berlakukan "travel warning" ke Malaysia, baik untuk keperluan bisnis maupun wisata. Paling tidak untuk saat ini, hal itu adalah upaya yang paling tepat dan aman untuk melindungi anak negeri ini dari arogansi negeri jiran.

Lha wong Wakil Perdana Menterinya, Anwar Ibrahim, yang nota benenya pejabat tinggi dipukuli di penjara, apalagi cuma bermodalkan diplomatic ID, atawa Sport Ambassador, apalagi cuma bermodalkan passport saja. Tidak dipukuli saja sudah merupakan bonus, apalagi cuma dipenjara.

So that’s why, it is not safe to travel to Malaysia!

 

AntaraOctober 2, 2006 7:40 am

Tak ada lagi tentara itu di setiap perempatan jalan. Tak ada lagi kantong kresek berisikan makanan dan minuman bertumpuk di pinggir jalan. Sumbangan dari pemakai jalan yang bersimpati terhadap perjuangan. Perjuangan menggulingkan pemerintahan yang berseberangan.

Kudeta yang berlangsung hari Rabu, 20 September 2006 lalu, mungkin agak mencengangkan dan tidak seperti kudeta yang aku bayangkan, di mana kericuhan dan konflik sudah menjadi menu utama. Tapi kudeta yang satu ini benar-benar beda, "Bloodless!" begitu istilah media.

Meski hari itu seluruh kantor pemerintahan dan sekolah diliburkan, beberapa instansi swasta masih beroperasi seperti biasa. Kebetulan kantorku diliburkan. Sembari ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya, aku pun berkeliling kota Bangkok sekaligus berniat belanja dan makan siang.

Aneh, semua berjalan normal. Hanya kondisi jalan utama yang sudah menjadi trade-mark kota Bangkok biasanya macet, hari itu tidak seperti biasa, begitu lenggang. Carefour, tempat tujuanku belanja pun buka seperti biasa. Begitu pula transportasi publik seperti MRT (Kereta Bawah Tanah) dan BTS (SkyTrain), semua berjalan normal. Aman dan nyaman …. kira-kira begitu gambaran suasana hari itu.

Hanya sejumlah tentara nampak berdiri siaga di setiap sudut perempatan jalan. Tapi mereka pun tidak menampakkan sosok angker dan digdaya. Sempat terlihat olehku selongsong peluru M-16 yang disandangnya nampak kosong melompong, sembari senyuman selalu melekat di wajahnya.

Tapi ada suatu pemandangan yang amat sangat menarik dan terus berlangsung hingga hari akhir penarikan mereka, Senin, 2 Oktober 2006. Di setiap tempat tentara berdiri, selalunya terlihat kantong-kantong plastik kecil berisikan makanan dan minuman. Jumlahnya kadang tak terkira, sehingga cukup mencolok dipandang mata.

Selidik punya selidik, ternyata kantong plastik berisikan makanan/minuman itu merupakan sumbangan dari para pengguna jalan yang kebetulan melewati tempat para tentara bertugas. Mereka memberikan makanan/minuman sebagai tanda simpati dan dukungan terhadap perjuangan meraka. Sepertinya kudeta tersebut mendapat dukungan penuh dari rakyat. Bukan hanya itu, tak jarang terlihat para pengendara memberikan salam khas Thailand dari (dalam) kendaraan mereka kepada para tentara yang bertugas.

Menarik …. emoticon 

Antara 7:15 am

Pengganti Thaksin akhirnya resmi diumumkan, namanya, Gen. Surayud Chulanont, seorang purnawirawan tentara, bekas Panglima Angkatan Bersenjata.

Dipilih oleh CNS (Council for National Security) yang dipimpin oleh seorang jenderal muslim, Gen. Sonthi Boonyaratkalin, Surayud akhirnya mendapat restu dari Raja Bumiphol. Target utama dalam satu tahun pertamanya adalah; mengakhiri konflik (politik atawa etnik) antar rakyat Thai, dan kekerasan di daerah Selatan.

Surayud resmi menjadi PM Thailand yang ke-24. Katanya, media di sini seh, beliau adalah sosok yang cocok diterima masyarakat, sipil yang mantan tentara. Dan kayaknya iya seh, lah wong nilai tukar Baht terhadap US$ cuma turun beberapa nol koma poin merepon pengangkatannya.

Mudah-mudahan kekerasan dan kekuatan bukanlah caranya untuk mencapai targetnya, kalau iya berarti yang sekarang nggak lebih baik dari pendahulunya. BTW, Khaaw Sa Daaeng, Khrap! (Congratulation, Sir!

AntaraSeptember 28, 2006 6:07 pm

Berhubung intensitas yang bakal sering dalam menggunakan sarana transportasi ini, saya dan teman2 memutuskan untuk membeli tiket 30-Days Pass.

BTS (Bangkok Mass Transit System) - perusahaan pengelola Bangkok SkyTrain - menyediakan 4 macam jenis tiket:

1. Single Journey Ticket,

2. Stored Value Ticket,  

3. One Day Pass,

4. 30 Days Pass (ada 2 macam; untuk Student dan Adult) 

Single Journet Ticket Single Journey Ticket

Yang umum dan biasa kita pakai itu (1) Single Journey Ticket. Di mesin ticket, pilih tujuan, masukin coin/uang kertas sesuai harga tiket tujuan, dapet tiket, masukin di Entry Gate, keluar tiketnya simpen sampai nanti di Exit Gate. Di Exit Gate, masukin tiketnya, Gate akan terbuka, selanjutnya tiket akan di"telan" oleh Gate. Bye.. bye .. tiket!

Stored Value Ticket Stored Value Ticket

Sedangkan untuk (2) Stored Value Ticket, lebih ditujukan kepada tingkat kenyamanan si pengguna dari antrian. Di antara jenis tiket yang bisa disimpan ("dimiliki"), tiket jenis ini memiliki harga awal paling murah di antara yang lain (30 Day Pass dan 1 Day Pass). Harga tiketnya hanya 100 Baht (Rp 25.000) (termasuk 30 Baht deposit, berarti yang bisa dipakai hanya 70 Baht - Rp 17.000-an), selanjutnya kita bisa refill dgn minimal pengisian 100 Baht. Tiket ini valid 2 tahun terhitung dari waktu terakhir pengisian. Pengurangan saldo didasarkan harga normal tujuan, seperti halnya kita membeli (1) Single Journey Ticket.

One Day Pass Ticket One Day Pass Ticket

Untuk (3) One Day Pass ticket, dengan membayar 120 Baht kita bebas menggunakan BTS semampu dan semau kita hanya sebatas satu hari saja. Jadi buat mereka para turis yang hanya punya satu hari, tapi ingin pergi ke banyak tujuan dengan menggunakan BTS, maka pilihan bisa menjadi alternatif penghematan. FYI, jarak terdekat hargan tiketnya adalah 10 Baht, sedangkan yang terjauh adalah 40 Baht. Kalau kita tinggal di daerah Sukhumvit (baca: Sukhumwit) (BTS Asok), dan berencana pergi ke CatuChak Market, lalu mampir ke Pantip atau Pratunam (Ratchathewi), setelah itu pergi lagi ke Siam Paragon (Chit Lom), lalu ke Siam Square atau MBK (Siam), balik ke Asok. Malamnya mao ngeliat Floating MArket at Night di Saphan Phut (Saphan Taksin) lalu balik lagi ke Asok. Normalnya kita harus membayar 215 Baht, tapi dengan One Day Ticket kita bisa save 95 Baht (sekitar Rp 25.000).

(ps. Pulangnya tinggal pijat kaki ala Thailand deh, alias teparrr  …emoticon )

Adult 30 Days Pass

Adult 20 Trips 30 Days Pass Ticket Adult 20 Trips 30 Days Pass Ticket Adult 30 Trips 30 Days Pass Ticket

Student 30 Days Pass 

Student 20 Trips 30 Days Pass TicketStudent 20 Trips 30 Days Pass TicketStudent 30 Trips 30 Days Pass Ticket

Sedangkan untuk tiket jenis (4) 30-Day Pass, hitungannya berdasarkan jumlah trip atau jumlah hari (tergantung mana yang lebih dahulu expirednya). Pilihan jumlah trip yang disediakan dalam satu tiketnya adalah untuk jenis Adult: 30 trips (600 Baht - 20 Baht per trip) dan 20 trips (440 Baht - 22 Baht per trip). Kalau jenis Student: 30 trips (450 - 15 Baht per trip) dan 20 trips (340 Baht - 17 Baht per trip).

Dengan pertimbangan banyaknya perjalanan dalam kurun waktu 30 hari, akhirnya gue n temen2 mutusin untuk beli tiket 30-Days Pass. Gue beli yang 20 trips … tapi kayaknya bakalan kurang deh .. karena bakalan banyak jalan2nya …ehmmmm….emoticon

Grha, Antara 12:09 pm

Kangen sama Yayang, Rayyn dan Rayhan. Nelpon rumah nggak diangkat, ternyata lagi ke RS JMC, nganter Rayhan imunisasi. Sepulang mereka, Rayyn udah tidur, Rayhan masih bangun. Kata Bunda, Rayhan udah tumbuh gigi bawahnya dan kerjanya ngoceh mulu. PAs kutelpon, Rayhan lagi ngoceh, senang bercampur miris mendengar ocehannya. Maafkan Ayah yang lagi nggak di sampingmu, ya, Nak. I miss you all!     

AntaraSeptember 22, 2006 5:45 pm

Setelah minggu lalu Jumatan di KBRI, sekarang aku dan temen-temen nyoba Jumatan di Ratchathewi (baca: Ratchadewi). Jumatan terakhir menjelang Ramadhan esok Ahad (24/9). Nggak sulit untuk mencapai mesjid ini.

mesjid n kbri

Berhubung daerah mesjid ini dikenal daerah super-macet (Petchaburi Road Soi 7), untuk mencapai lokasi ini disarankan menggunakan BTS Sky Train. Turun di Ratchathewi, ikuti petunjuk si dalam stasiun menuju arah Krung Thai Bank.

Setelah menuruni tangga stasiun, menuju Krung Thai Bank (di sebelah kiri kita), terus jalan menuju perempatan, dan menyebranginya. Sesampai di seberang, ambil ke kiri menyusuri trotoar. Plang mesjid Darul Aman akan tepat berada dihadapan kita sekitar 4-5 menit berjalan dari perempatan. Setelah itu, belok kanan sekitar 10-15 meter, lokasi mesjid berada di sebelah kanan. Sepanjang menyusuri trotoar, suasana islami terasa menjelang dekat dengan lokasi mesjid, beberapa restauran muslim akan kita temui sepanjang trotoar, salah satunya Moslem Restaurant Mak Yah dan makin banyak lagi jumlahnya di sepanjang jalan di depan mesjid.

Lokasi kisaran mesjid ini dihuni oleh komunitas yang berasal dari wilayah selatan Thailand yang berbatasan dengan Malaysia, yakni Narathiwat, Pattani, Yala, dll. Jadi jangan heran kalo mereka ngerti apa yang kita omongin, karena umumnya mereka biasa berkomunikasi dengan antar mereka dengan bahasa Melayu.

mesjid

Dua perbedaan mendasar antara Jumatan di Mesjid Darul Aman dengan Jumatan di KBRI, yakni pertama bahasa pengantar dan kedua waktu masuk jumat. Di Darul Aman, meski komunitas sekitar mesjid dapat berbahasa Melayu (umumnya pendatang dari selatan Thailand yang berbatasan dengan Malaysia), tapi bahasa yang digunakan tetap bahasa Thai, sedang di KBRI pastinya pake bahasa Indonesia dong.

Kalau di Darul Aman, jumatan dimulai pukul 12.30, di KBRI selalunya pukul 13.00. Entah kenapa? Pertama kali, kita kira emang waktu jumat jam segitu adanya, ternyata berbekal pengalaman di Ratchthewi, ternyata bukan adanya.

Aku jadi ingat pengalaman jumatan di Mesjid UI. Jam berapa pun waktu jumat waktu itu, mulainya selalunya jam 12.00, biar kata waktu jumat jam 11.30 kek, 11.45 kek, tetap aja mulainya jam 12.00. Selidik punya selidik ternyata disesuaikan jam istirahat orang rektorat.

 emoticon

Yang Unik: Di Mesjid Darul Aman ini, di tempat kita berwudhu, di depan setiap kran disediakan tempat duduk yang ditancap permanen. Jadi, kita wudhunya sambil duduk santai. Bagus … untuk mereka yang sudah uzur dan tak kuat berdiri lama.

AntaraSeptember 15, 2006 6:17 pm

Sekaligus pengen tahu, kami memutuskan untuk Shalat Jumat di KBRI. Naik BTS atau SkyTrain untuk kali pertama, ternyata asyik juga (norak yah! … bodo, emang nggak ada kok yang kayak gini di Jakarta). Rasanya nggak jauh beda ama MRT nya Singapur punya, cuma asyiknya kita bisa melihat pemandangan kota, sambil masang rencana tempat mana saja nanti di week-end bakalan disambatin.

Rada udik gimana cara bayarnya…, akhirnya ada juga teman yang mao ngajarin bagaimana cara untuk ndapetin tiketnya. Plung, masukin koin 25 Baht (sekitar Rp 6.250), Pluk kartu magnetik muncul. Itupun masih ditambah kejadian lucu temanku mencari lubang buat masukin tiketnya sehingga menghambat antrian di belakangnya. Sedang temanku yang lain dengan begitu PD nya langsung ngeloyor pergi setelah masukin tiketnya, padahal tiket itu masih bakal dipakai buat keluar dari stasiun (seperti tiket busway). Susah emang … kalo kabayan saba kota!

Rute menuju KBRI bakalan melewati 5 stasiun (sekitar 5-6 km jaraknya) dengan waktu tempuh kurang dari 10 menit, dan waktu tunggu paling lama 5 menit untuk tiap keretanya. Total waktu yang dibutuhkan kira-kira kurang dari 15 menit untuk sampai ke stasiun tujuan kita, Ratchathewi (baca: Ratchadewi). Padahal waktuitu lagi jam sibuk-sibuk dan penuhnya, jam makan siang, bok!

emoticon … coool!

KBRI, berada didaerah yang dikenal super macet, Petchaburi Road yang juga merupakan salah satu business area. Oleh karena itu, menggunakan BTS adalah salah satu tindakan bijaksana untuk efisiensi waktu dan biaya, ketimbang naik taksi yang pacuan argonya bisa mencapai 10 kali lipat harga BTS.

bangkok business map

Sekitar 15 menit jalan dari stasiun Ratchadewi ke arah Pantip (kayak Pinangsia IT Center di Glodok), letak KBRI tepat bersebelahan sebelum Pantip. Nggak susah dan ribet ngelewatin penjaga. Cukup tunjukin KTP or SIM, bilang mao shalat jumat, setelah ID kita dicatat dan dikasih ID Tamu, melengganglah kita.

mesjin n KBRI

Ngak nyangka gede juga … n bingung dibuatnya. Sasaran utama kita cafetaria, berhubung perut sudah nggak kompromi, lagu kerocongan kerap berkumandang jauh di nun jauh bawah sana. Ubek-ubek nggak ketemu, akhirnya gue beranikan diri dengan PD nya untuk bertanya kepada seseorang yang sepertinya sedang menunggu supir untuk membawanya pergi.

"Maaf, Pak! Boleh tanya kalo kafetarianya di mana ya, Pak?"

"Oh itu di belakang lapangan tenis itu, Mas. Terus ajah, ketemu lapangan tenis belok kanan, belok kiri nah terus ajah. Keliatan koq abis itu. Ngomong2, dalam rangka bisnis apa Mas ke sini?"

Gelagapan ditanya, pasang muka gengsi aku menjawab, "Terima kasih, Pak! Oh iya, Pak kita dalam rangka ngerjain proyek Toyota Thailand, Pak!"

"Oh .. bagus itu!" Bapak itu pun pamit karena mobil jemputannya telah siap membawanya pergi. 

Teman2ku yang sedari tadi melihat aksi heroikku pun, langsung bertanya,

"Kur .. elo tau nggak tadi itu siapa?"

"Nggak tahu!" jawabku dengan polosnya

"Tadi itu Pak Ibrahim Yusuf. Duta Besar sini"

"Oh … gitu yah!"

Ternyata, kita biasanya lebih nyaman berbicara dan bertanya kalau kita tidak tahu siapa lawan bicara kita, layaknya seperti anak kecil yang lugu.

embassy indo in bangkok

ps.

1 - gerbang masuk tamu, kalo untuk buat visa di sis lain sebelah kiri

2 - mushala tempat jumatan (letaknya di tengah danau buatan)

3 - cafetaria, tempat kita jumatan

4 - tempat nanya n ketemu Pak Dubes (Maaf ya Pak! Abis nggak tahu seh …)

Di belakang KBRI mengalir sungai Khlong San Sap. Sungai itu kira-kira lebarnya selebar kanal timur dan barat di Jakarta (dekat Shangri-La dan Wisma BNI). Sungai itu dipergunakan sebagai alternatif transportasi tengah kota. Makanya jangan heran kalo ngeliat sungai itu, sungai di dalam kota tetapi riaknya kok besar sekali. Ternyata riak sungai itu disebabkan kan oleh perahu atau boat yang melewatinya.

Grha, Buana, Nagara, AntaraSeptember 1, 2006 8:00 am

Hilang rupa, mari bersua,

Hilang canda, mari bercengkrama,

Hilang kata, mari bertutur sapa,

Hilang berita, mari kita berwacana.