Malaysia: “Aku begini karena tahu engkau begitu”
Merespon apa yang sedang terjadi dengan Malaysia akhir-akhir ini, hanya ada satu cara mengatisipasi dan mengatasinya, yakni bagaimana kita dapat membangun bangsa (rakyat) kita agar tumbuh menjadi pribadi (bangsa) yang mandiri, dihormati dan disegani (ditakuti). Caranya, saya hanya melihat dua cara saja:
1. Berikan akses pendidikan dan kesehatan yang merata bagi seluruh anak bangsa setinggi-setingginya dan seluas-luasnya dengan semudah mungkin dan biaya serendah mungkin.
Peningkatan alokasi APBN untuk biaya pendidikan setidaknya adalah langkah pertama yang harus dilakukan di strata pemerintahan. Selanjutnya, bagaimana pendidikan dan kesehatan tersebut dapat menjadikan seluruh bangsa kita menjadi pribadi yang mandiri dan dihormati secara ekonomi dan personaliti. Belajarlah dari Malaysia yang mengalokasi APBN untuk pendidikan dan kesehatannya masing-masing tidak kurang dari 20%. Artinya, pemerintah dapat memfokuskan dirinya unutk membentuk rakyatnya menjadi bangsa yang kuat, sehat, mandiri, bermartabat dan terhormat, dengan bekal pendidikan yang diperoleh dan kesehatan yang terjamin.
2. Berikan akses kekuatan bagi personil penjaga negeri ini. Apa yang yang terjadi paling tidak dua tahun terakhir ini, perihal penyelenggaraan ulang tahun ABRI (5 Oktober), paling tidak dapat menjadi tanda tanya besar, akan apa yang sedang terjadi terhadap para pelindung negeri ini, akan di mana dan bagaimana kekuatan tentara kita selama ini. Penyelenggaran ulang tahun ABRI yang biasanya dilakukan di Halim Perdanakusuma, kini hanya cukup di markas besarnya saja, Cilangkap. Pesta yang sedianya dimeriahkan dengan pamer senjata, peralatan dan keahlian, sebagian dari itu sepertinya sirna. Terkendala akan ketersediaan suku cadang dan permasalahan teknis, yang berhulu pada ketiadaan dana yang cukup untuk pengadaannya. Beberapa sumber menyatakan bahwa ke-ringkih-an tampak dari hanya 40-50 persen kesiapan operasional minimum sistem persenjataan TNI saat ini, nyaris di seluruh matra angkatan. Angka itu jauh di bawah angka kesiapan minimal operasional seharusnya. Bahkan, bisa dibilang nyaris separuh kekuatan peralatan utama sistem persenjataan (alutsista) TNI tidak sanggup beroperasi maksimal. Penyebabnya, baik karena faktor usia peralatan maupun terbatasnya pengadaan komponen dan suku cadang.
Misalnya,
Dari 20 unit pesawat angkut Hercules, hanya enam pesawat yang bisa dioperasikan. Armada pesawat tempur, baik jenis F-5 maupun F-16, keduanya sama-sama tidak berada dalam kondisi prima. Dari 10 jet tempur F-16, hanya empat pesawat yang bisa beroperasi. Sementara dari 12 pesawat tempur F-5, hanya empat pesawat yang dapat dioperasikan.
Walau begitu, kondisi armada kapal patroli TNI Angkatan Laut (KAL) masih terbilang menggembirakan. Dari total 128 KAL berbagai jenis, kesiapan operasionalnya masih terbilang prima, mencapai 82 persen.
Padahal, boleh dikatakan, baik TNI AU maupun AL, kedua matra itu sama-sama mengemban tanggung jawab berat mengamankan wilayah kedaulatan RI. Wilayah kedaulatan tersebut meliputi 17.500 pulau, 5,8 juta kilometer persegi wilayah laut, dan 81.000 kilometer panjang garis pantai.
Oleh, karena itu cukup beralasan kalau ada saran kita berlakukan "travel warning" ke Malaysia, baik untuk keperluan bisnis maupun wisata. Paling tidak untuk saat ini, hal itu adalah upaya yang paling tepat dan aman untuk melindungi anak negeri ini dari arogansi negeri jiran.
Lha wong Wakil Perdana Menterinya, Anwar Ibrahim, yang nota benenya pejabat tinggi dipukuli di penjara, apalagi cuma bermodalkan diplomatic ID, atawa Sport Ambassador, apalagi cuma bermodalkan passport saja. Tidak dipukuli saja sudah merupakan bonus, apalagi cuma dipenjara.
So that’s why, it is not safe to travel to Malaysia!
