Buana, Nagara, AntaraOctober 22, 2007 3:44 am

Merespon apa yang sedang terjadi dengan Malaysia akhir-akhir ini, hanya ada satu cara mengatisipasi dan mengatasinya, yakni bagaimana kita dapat membangun bangsa (rakyat) kita agar tumbuh menjadi pribadi (bangsa) yang mandiri, dihormati dan disegani (ditakuti). Caranya, saya hanya melihat dua cara saja:

1. Berikan akses pendidikan dan kesehatan yang merata bagi seluruh anak bangsa setinggi-setingginya dan seluas-luasnya dengan semudah mungkin dan biaya serendah mungkin.

Peningkatan alokasi APBN untuk biaya pendidikan setidaknya adalah langkah pertama yang harus dilakukan di strata pemerintahan. Selanjutnya, bagaimana pendidikan dan kesehatan tersebut dapat menjadikan seluruh bangsa kita menjadi pribadi yang mandiri dan dihormati secara ekonomi dan personaliti. Belajarlah dari Malaysia yang mengalokasi APBN untuk pendidikan dan kesehatannya masing-masing tidak kurang dari 20%. Artinya, pemerintah dapat memfokuskan dirinya unutk membentuk rakyatnya menjadi bangsa yang kuat, sehat, mandiri, bermartabat dan terhormat, dengan bekal pendidikan yang diperoleh dan kesehatan yang terjamin.

2. Berikan akses kekuatan bagi personil penjaga negeri ini. Apa yang yang terjadi paling tidak dua tahun terakhir ini, perihal penyelenggaraan ulang tahun ABRI (5 Oktober), paling tidak dapat menjadi tanda tanya besar, akan apa yang sedang terjadi terhadap para pelindung negeri ini, akan di mana dan bagaimana kekuatan tentara kita selama ini. Penyelenggaran ulang tahun ABRI yang biasanya dilakukan di Halim Perdanakusuma, kini hanya cukup di markas besarnya saja, Cilangkap. Pesta yang sedianya dimeriahkan dengan pamer senjata, peralatan dan keahlian, sebagian dari itu sepertinya sirna. Terkendala akan ketersediaan suku cadang dan permasalahan teknis, yang berhulu pada ketiadaan dana yang cukup untuk pengadaannya. Beberapa sumber menyatakan bahwa ke-ringkih-an tampak dari hanya 40-50 persen kesiapan operasional minimum sistem persenjataan TNI saat ini, nyaris di seluruh matra angkatan. Angka itu jauh di bawah angka kesiapan minimal operasional seharusnya. Bahkan, bisa dibilang nyaris separuh kekuatan peralatan utama sistem persenjataan (alutsista) TNI tidak sanggup beroperasi maksimal. Penyebabnya, baik karena faktor usia peralatan maupun terbatasnya pengadaan komponen dan suku cadang.

Misalnya,

Dari 20 unit pesawat angkut Hercules, hanya enam pesawat yang bisa dioperasikan. Armada pesawat tempur, baik jenis F-5 maupun F-16, keduanya sama-sama tidak berada dalam kondisi prima. Dari 10 jet tempur F-16, hanya empat pesawat yang bisa beroperasi. Sementara dari 12 pesawat tempur F-5, hanya empat pesawat yang dapat dioperasikan.

Menurut data Markas Besar TNI, yang disampaikan beberapa waktu lalu di Departemen Pertahanan, kesiapan operasional total 251 pesawat berbagai jenis milik TNI AU hanya mencapai 46 persen. Sementara untuk TNI AL, kesiapan total 117 kapal perang RI (KRI) hanya mencapai 57 persen dan  kesiapan total 71 pesawat udara berbagai jenis yang juga dimilikinya hanya mencapai 52 persen.

Walau begitu, kondisi armada kapal patroli TNI Angkatan Laut (KAL) masih terbilang menggembirakan. Dari total 128 KAL berbagai jenis, kesiapan operasionalnya masih terbilang prima, mencapai 82 persen.

Padahal, boleh dikatakan, baik TNI AU maupun AL, kedua matra itu sama-sama mengemban tanggung jawab berat mengamankan wilayah kedaulatan RI. Wilayah kedaulatan tersebut meliputi 17.500 pulau, 5,8 juta kilometer persegi wilayah laut, dan 81.000 kilometer panjang garis pantai.

Oleh, karena itu cukup beralasan kalau ada saran kita berlakukan "travel warning" ke Malaysia, baik untuk keperluan bisnis maupun wisata. Paling tidak untuk saat ini, hal itu adalah upaya yang paling tepat dan aman untuk melindungi anak negeri ini dari arogansi negeri jiran.

Lha wong Wakil Perdana Menterinya, Anwar Ibrahim, yang nota benenya pejabat tinggi dipukuli di penjara, apalagi cuma bermodalkan diplomatic ID, atawa Sport Ambassador, apalagi cuma bermodalkan passport saja. Tidak dipukuli saja sudah merupakan bonus, apalagi cuma dipenjara.

So that’s why, it is not safe to travel to Malaysia!

 

Buana, KaulaOctober 15, 2007 3:06 am

Ada dua hal yang mungkin setidaknya perlu diperhatikan bila ingin berkendara jauh dan panjang, terutama saat mudik.

1. Lakukan proses persiapan kendaraan minimal satu minggu sebelum hari H.
Proses persiapan meliputi pengecekan kondisi kendaraan dan perbaikan komponen kendaraan di bengkel. Setelah proses pengecekan dan perbaikan dilakukan, gunakan sebagaimana normalnya kita mengendarai kendaraan tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi, bila mana proses pengecekan dan perbaikan kurang sempurna, kita masih memiliki waktu luang untuk memperbaikinya.

 

2. Berkendaralah dengan menerapkan prinsip "Defensive Safety Driving"

Defensive safety driving yakni selalu menjaga jarak kendaraan, terutama di perjalanan yang panjang dan lenggang, seperti di tol, untuk mengurangi resiko kecelakaan. "Defensive Safety Driving Principle" selalu menerapkan 4 (empat) detik jarak antara kendaraan kita dengan kendaran di depan kita.

Karena 4 detik menurut penelitian adalah waktu aman untuk merespon apa yang terjadi dengan kendaraan di depan kita, bukan jarak - seperti 100 meter, misalnya; karena jarak relatif terhadap kecepatan kita.

Dengan jarak tertentu belum tentu sesuai dengan kendaraan dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Empat detik adalah waktu yang cukup untuk:

  • 1 detik melihat kejadian di muka (kendaraan di muka pecah ban dan berhenti mendadak),
  • 1 detik berpikir untuk apa yang harus dilakukan (beri sinyal tanda bahaya dan kurangi kecepatan),
  • 1 detik untuk beraksi terhadap kendaraan kita (nyalakan lampu hazard dan injak rem secara teratur berkala), dan
  • 1 detik terakhir adalah untuk waktu bagi kendaraan untuk merespon aksi yang kita inginkan (kecepatan kendaraan berkurang hingga berhenti).

Artinya, menjaga jarak 100 meter dengan kendaraan di depan kita hanya efektif bila kecepatan kendaraan kita adalah ~110 km/jam, lebih dari kecepatan tersebut adalah jarak yang kurang aman, dengan catatan kondisi kendaraan dalam keadaan baik dan layak.

 

Itu saja!
Have safe "mudik" and drive!

 

QoutesOctober 5, 2007 3:03 am

Memorable and inspiring quotes from HEROES series Session 1 Episode 23 -

How to Stop an Exploiding Man.

This is a discussion between Simone Deveaux with Peter Petrelli in the green house,

regarding Simone’s father’s (Charles) condition (dying).

[Simone]
I want to thank you for this.
I know it’s a real hard job.


[Peter]
Dying is hard
What I do, it’s just …
We’re here to help …


[Simone]
No, you’re a real hero to take care for a perfect stranger like this.

[Peter]
This may sound strange, but …
your father’s last few weeks … his death …
it could be beautiful if you let it be.


[Simone]
Sure, a piece of cake

[Peter]
I’m not saying it’s not tragic for you.
I’m just saying …
you know, death is the one thing that connects us all.
Remind us that’s what really important is who we’ve touched, and ..
you know, how much we’ve given.

Makes us realize that .. we have to be good to one another.
See .. your father is the real hero.
Not me.

Buana, Nagara, Qoutes 1:23 am

Another inspiring speech from HEROES series Session 1 Episode 22 - Landslide,

While Nathan Petrelli gave a speech after winning the election for A New York Congress with 64% againts other candidates.

And from the entire Session 1, this is the best taken scenes part ever had, while Nathan gave a speech, the scenes describing every sentences what he was speaking about.

So, I call this the talking pictures.

Inspiring and touching …. 

[Nathan]
A landslide ..
That’s what they’re calling it.
I’m sorry my brother couldn’t be with us tonight.
But I know that Peter cares about this city more than anyone.

You know, our father always said that
we had a responsibility to use what God gave us.
To help people …
To make a real difference …

Pop always made the hard choices for the greater good …
He believed in that.
And so do I.

Our children deserve that.
They deserve a better future.
A future where they don’t have to face their fears alone,
but can look into the darkness and find hope.

I challenge everyone in here to inspire by example
to fight the battle, no matter the cost.
Because the world is sick and spinning out of control, but we can help.
With our help, it can heal.
With our love, with our campassion, and with our strength, we can heal it

Let’s put aside our differences.
Let’s embrace our common goals.
Let’s do it for our children.
Let’s show them all exactly what we’re capable of.

Thank you all … Thank you very much …

Citta, QoutesOctober 4, 2007 4:44 am

This is to me the most impressive quotes in the entire HEROES series of Session 1, Episode 18 - Parasite.

The dialogues between Nathen Petrelli and Linderman in the kitchen while he’s cooking of a pot pie.

emoticon

 

[linderman]
you see …
I think, there comes a time, when a man has to ask himself,  whether he wants a life of happiness or a life of meaning.


[nathan]
I’d like to have both.

[linderman]
Can’t be done …
Two very different paths.


[linderman]
I mean, to be truly happy, a man must live absolutely in the present,
No thought of what’s gone before and no though of what lies ahead …

A life of meaning, a man is condemned to wallow in the past and obsess about the future.