AntaraOctober 2, 2006 7:40 am

Tak ada lagi tentara itu di setiap perempatan jalan. Tak ada lagi kantong kresek berisikan makanan dan minuman bertumpuk di pinggir jalan. Sumbangan dari pemakai jalan yang bersimpati terhadap perjuangan. Perjuangan menggulingkan pemerintahan yang berseberangan.

Kudeta yang berlangsung hari Rabu, 20 September 2006 lalu, mungkin agak mencengangkan dan tidak seperti kudeta yang aku bayangkan, di mana kericuhan dan konflik sudah menjadi menu utama. Tapi kudeta yang satu ini benar-benar beda, "Bloodless!" begitu istilah media.

Meski hari itu seluruh kantor pemerintahan dan sekolah diliburkan, beberapa instansi swasta masih beroperasi seperti biasa. Kebetulan kantorku diliburkan. Sembari ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya, aku pun berkeliling kota Bangkok sekaligus berniat belanja dan makan siang.

Aneh, semua berjalan normal. Hanya kondisi jalan utama yang sudah menjadi trade-mark kota Bangkok biasanya macet, hari itu tidak seperti biasa, begitu lenggang. Carefour, tempat tujuanku belanja pun buka seperti biasa. Begitu pula transportasi publik seperti MRT (Kereta Bawah Tanah) dan BTS (SkyTrain), semua berjalan normal. Aman dan nyaman …. kira-kira begitu gambaran suasana hari itu.

Hanya sejumlah tentara nampak berdiri siaga di setiap sudut perempatan jalan. Tapi mereka pun tidak menampakkan sosok angker dan digdaya. Sempat terlihat olehku selongsong peluru M-16 yang disandangnya nampak kosong melompong, sembari senyuman selalu melekat di wajahnya.

Tapi ada suatu pemandangan yang amat sangat menarik dan terus berlangsung hingga hari akhir penarikan mereka, Senin, 2 Oktober 2006. Di setiap tempat tentara berdiri, selalunya terlihat kantong-kantong plastik kecil berisikan makanan dan minuman. Jumlahnya kadang tak terkira, sehingga cukup mencolok dipandang mata.

Selidik punya selidik, ternyata kantong plastik berisikan makanan/minuman itu merupakan sumbangan dari para pengguna jalan yang kebetulan melewati tempat para tentara bertugas. Mereka memberikan makanan/minuman sebagai tanda simpati dan dukungan terhadap perjuangan meraka. Sepertinya kudeta tersebut mendapat dukungan penuh dari rakyat. Bukan hanya itu, tak jarang terlihat para pengendara memberikan salam khas Thailand dari (dalam) kendaraan mereka kepada para tentara yang bertugas.

Menarik …. emoticon 

Antara 7:15 am

Pengganti Thaksin akhirnya resmi diumumkan, namanya, Gen. Surayud Chulanont, seorang purnawirawan tentara, bekas Panglima Angkatan Bersenjata.

Dipilih oleh CNS (Council for National Security) yang dipimpin oleh seorang jenderal muslim, Gen. Sonthi Boonyaratkalin, Surayud akhirnya mendapat restu dari Raja Bumiphol. Target utama dalam satu tahun pertamanya adalah; mengakhiri konflik (politik atawa etnik) antar rakyat Thai, dan kekerasan di daerah Selatan.

Surayud resmi menjadi PM Thailand yang ke-24. Katanya, media di sini seh, beliau adalah sosok yang cocok diterima masyarakat, sipil yang mantan tentara. Dan kayaknya iya seh, lah wong nilai tukar Baht terhadap US$ cuma turun beberapa nol koma poin merepon pengangkatannya.

Mudah-mudahan kekerasan dan kekuatan bukanlah caranya untuk mencapai targetnya, kalau iya berarti yang sekarang nggak lebih baik dari pendahulunya. BTW, Khaaw Sa Daaeng, Khrap! (Congratulation, Sir!