Bangkok Day #4: Friday Praying at Embassy
Sekaligus pengen tahu, kami memutuskan untuk Shalat Jumat di KBRI. Naik BTS atau SkyTrain untuk kali pertama, ternyata asyik juga (norak yah! … bodo, emang nggak ada kok yang kayak gini di Jakarta). Rasanya nggak jauh beda ama MRT nya Singapur punya, cuma asyiknya kita bisa melihat pemandangan kota, sambil masang rencana tempat mana saja nanti di week-end bakalan disambatin.
Rada udik gimana cara bayarnya…, akhirnya ada juga teman yang mao ngajarin bagaimana cara untuk ndapetin tiketnya. Plung, masukin koin 25 Baht (sekitar Rp 6.250), Pluk kartu magnetik muncul. Itupun masih ditambah kejadian lucu temanku mencari lubang buat masukin tiketnya sehingga menghambat antrian di belakangnya. Sedang temanku yang lain dengan begitu PD nya langsung ngeloyor pergi setelah masukin tiketnya, padahal tiket itu masih bakal dipakai buat keluar dari stasiun (seperti tiket busway). Susah emang … kalo kabayan saba kota!
Rute menuju KBRI bakalan melewati 5 stasiun (sekitar 5-6 km jaraknya) dengan waktu tempuh kurang dari 10 menit, dan waktu tunggu paling lama 5 menit untuk tiap keretanya. Total waktu yang dibutuhkan kira-kira kurang dari 15 menit untuk sampai ke stasiun tujuan kita, Ratchathewi (baca: Ratchadewi). Padahal waktuitu lagi jam sibuk-sibuk dan penuhnya, jam makan siang, bok!
… coool!
KBRI, berada didaerah yang dikenal super macet, Petchaburi Road yang juga merupakan salah satu business area. Oleh karena itu, menggunakan BTS adalah salah satu tindakan bijaksana untuk efisiensi waktu dan biaya, ketimbang naik taksi yang pacuan argonya bisa mencapai 10 kali lipat harga BTS.
Sekitar 15 menit jalan dari stasiun Ratchadewi ke arah Pantip (kayak Pinangsia IT Center di Glodok), letak KBRI tepat bersebelahan sebelum Pantip. Nggak susah dan ribet ngelewatin penjaga. Cukup tunjukin KTP or SIM, bilang mao shalat jumat, setelah ID kita dicatat dan dikasih ID Tamu, melengganglah kita.
Ngak nyangka gede juga … n bingung dibuatnya. Sasaran utama kita cafetaria, berhubung perut sudah nggak kompromi, lagu kerocongan kerap berkumandang jauh di nun jauh bawah sana. Ubek-ubek nggak ketemu, akhirnya gue beranikan diri dengan PD nya untuk bertanya kepada seseorang yang sepertinya sedang menunggu supir untuk membawanya pergi.
"Maaf, Pak! Boleh tanya kalo kafetarianya di mana ya, Pak?"
"Oh itu di belakang lapangan tenis itu, Mas. Terus ajah, ketemu lapangan tenis belok kanan, belok kiri nah terus ajah. Keliatan koq abis itu. Ngomong2, dalam rangka bisnis apa Mas ke sini?"
Gelagapan ditanya, pasang muka gengsi aku menjawab, "Terima kasih, Pak! Oh iya, Pak kita dalam rangka ngerjain proyek Toyota Thailand, Pak!"
"Oh .. bagus itu!" Bapak itu pun pamit karena mobil jemputannya telah siap membawanya pergi.
Teman2ku yang sedari tadi melihat aksi heroikku pun, langsung bertanya,
"Kur .. elo tau nggak tadi itu siapa?"
"Nggak tahu!" jawabku dengan polosnya
"Tadi itu Pak Ibrahim Yusuf. Duta Besar sini"
"Oh … gitu yah!"
Ternyata, kita biasanya lebih nyaman berbicara dan bertanya kalau kita tidak tahu siapa lawan bicara kita, layaknya seperti anak kecil yang lugu.
ps.
1 - gerbang masuk tamu, kalo untuk buat visa di sis lain sebelah kiri
2 - mushala tempat jumatan (letaknya di tengah danau buatan)
3 - cafetaria, tempat kita jumatan
4 - tempat nanya n ketemu Pak Dubes (Maaf ya Pak! Abis nggak tahu seh …)
Di belakang KBRI mengalir sungai Khlong San Sap. Sungai itu kira-kira lebarnya selebar kanal timur dan barat di Jakarta (dekat Shangri-La dan Wisma BNI). Sungai itu dipergunakan sebagai alternatif transportasi tengah kota. Makanya jangan heran kalo ngeliat sungai itu, sungai di dalam kota tetapi riaknya kok besar sekali. Ternyata riak sungai itu disebabkan kan oleh perahu atau boat yang melewatinya.
