Tulus dari hati yang paling dalam, saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada Ibu. Dari sekian banyak prestasi yang telah dilakukan oleh Ibu Megawati, momen pergantian Presiden merupakan klimaks prestasi yang beliau torehkan dalam bidang demokrasi Indonesia.
Mungkin sebagian dari kita tidak setuju, tetapi bagi saya pribadi momentum perubahan demokrasi Indonesia pertama kali digariskan bukan tatkala SBY dan MJK disumpah menjadi Presiden tanggal 20 Oktober 2004. Lebih dari delapan bulan sebelumnya prubahan itu dimulai, yakni tatkala Ibu Megawati membuat perangkat persiapan untuk Pemilihan Umum 2004.
Ibu Mega sadar bahwa taruhannya adalah jabatannya. Ibu Mega sadar, berat baginya untuk bisa melenggang di kursi kepresidenan untuk kedua kalinya, di tengah tantangan masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya siap dipimpin oleh seorang wanita. Tapi darah kenegarawanan beliau yang lahir dari mendiang sang ayah, Soekarno, menuntun beliau untuk memberikan suatu yang tak ternilai dan terbaik bagi bangsa ini. Suatu langkah besar perubahan ke arah demokrasi yang akhirnya dapat melibatkan seluruh komponen anak bangsa.
Oleh karena itu, sedih rasanya mendengar bila Ibu Mega tak hadir dalam acara pelantikan presiden 20 Oktober nanti. Padahal saya sudah membayangkan, lepas acara pelantikan nanti akan ada fragmen atau tayangan di media perihal perjalanan kenegarawanan seorang Megawati.
Yang terbayang di benak saya di masa mendatang, tatkala Indonesia sudah menjadi bangsa yang jauh lebih sukses dan maju dari sekarang ini, Indonesia tak akan pernah melupakan jasa beliau. Seluruh tayangan dan fragmen sejarah akan mengingat bahwa beliaulah orang kunci (key person) perubahan Indonesia.
Sejarah dan media akan merekam fragmen-fragmen sejarah perubahan demokrasi yang dilakukan oleh beliau, yakni fragmen tatkala beliau mengajukan Undang-Undang mengenai pemilu 2004 ke DPR, fragmen pengesahan UU Pemilu oleh DPR, fragmen pembentukan dan pengangkatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), fragmen Pemilihan legislatif dilanjutkan oleh Pilpres 1 dan 2, dan fragmen pengumuman pemenang Pilpres.
Tinggal satu fragmen penutup dibutuhkan. Semua itu akan menjadi sebuah cerita yang utuh, tatkala Ibu Megawati hadir di acara pelantikan Presiden di depan sidang MPR 20 Oktober 2004, di mana seluruh mata anak bangsa dan dunia terarah kepadanya. Bagi saya bukan SBY –lah pusat perhatian saat itu, melainkan Ibu. Oleh karena itu, alangkah manisnya bila selepas sumpah dibacakan dan Presiden baru pun resmi dinobatkan, Ibu dan presiden pertama pilihan rakyat bersalaman. Sungguh sebuah momen yang mengharukan. Sejarah yang tak terlupakan. Apalagi bila memungkinkan, Ibu diberi kesempatan pidato untuk terakhir kalinya di depan sidang seraya memberikan kesempatan, jalan dan restu bagi Presiden baru seraya harapan kepada semua anak bangsa agar mendukung presiden baru yang terpilih. Lantas, dilanjutkan oleh pidato presiden yang baru.
Sejarah akan mencatat kelengkapan kenegarawanan seorang putra mendiang Proklamator RI, Soekarno. Bagi keluarga Ibu, akan menjadi suatu catatan yang amat membanggakan bagi anak-cucu-cicit dan seterusnya.
Saya pribadi masih berharap penolakan Ibu selama ini sebagai mimpi, yang kemudian Ibu secara tiba-tiba memutuskan untuk hadir. Sungguh sebuah momen sejarah demokrasi Indonesia yang tak terlupakan.
Sekali lagi Ibu, saya ucapkan terima kasih kepada Ibu yang telah membuka jalan demokrasi ini menjadi lebih baik!
Mungkin ini sekedar harapan seorang anak bangsa untuk melihat utuhnya cerita perubahan demokrasi Indonesia. Tetapi saya sadar semua berpulang pada Ibu, apakah Ibu ingin menjadi bagian dari sejarah itu sendiri atau menjadi penonton. Pastilah Ibu sudah memutuskan yang terbaik.
