Akankah Bernasib Sama dengan PDIP? Suarapublika, Republika, Sabtu 2 Oktober 2004 (http://www.republika.co.id/ASP/kolomdetail.asp?id=174340&katid=20)
Kiprah perolehan PD di Pemilu 2004 ini boleh dibilang cukup fenomenal dan itu tidak lepas dari profil sosok pendirinya, SBY. Tapi sayangnya, hasil cemerlang itu ternodai oleh segelintir kader PD terpilih di DPRD DKI yang mengkhianati kesepakatan yang telah dibuat antara DPD PD dan DPD PKS (Partai Keadilan Sejahtera) perihal komitmen kesamaan suara dalam pemilihan ketua DPRD DKI. Ada suara pembelotan di kubu PD dengan melanggar kesepakatan yang telah dibuat oleh para elite partai.
Untunglah Ketua PD Subur Budhisantoso telah memberikan sinyalemen bahwa ada 2 anggotanya yang terlibat money politics dalam pemilihan ketua DPRD DKI Jakarta. Tapi langkah tersebut belumlah cukup. Perlu diambil langkah lain yang lebih nyata dan menyeluruh guna mengembalikan kewibawaan PD di kemudian hari. Bila perlu bukan sekadar langkah recall dan pemecatan, tapi juga humiliating punishment (hukuman yang mempermalukan), agar kelakuan yang sama tak terulang kembali dan juga tidak menjadi preseden buruk di kemudian hari.
Sayang, bila langkah awal yang manis yang telah dibangun oleh kerja keras para kader lain serta simpatisan harus hancur oleh segelintir kader pilihan karena terpesona oleh kenikmatan sesaat dengan mengorbankan nilai-nilai moral dari masyarakat pemilihnya. Masyarakat sudah berharap banyak dengan partai satu ini sebagai salah satu harapan partai pembaru di Republik tercinta ini.
Oleh karena itu tindakan tegas guna mengembalikan kewibawaan partai perlu cepat dilakukan. Walau SBY menyerahkan sepenuhnya konflik yang terjadi di tubuh Partai Demokrat ke elite partai, tapi menurut saya SBY tidak bisa lepas tangan begitu saja. SBY sebagai inspirator berdirinya Partai Demokrat dan gerbang beliau guna menduduki kursi presiden, memiliki andil besar untuk membersihkan dan mengarahkan kembali jalannya partai. Ini adalah test case pertama SBY, mampukah beliau menuntaskan permasalahan internal partai yang juga merupakan bagian dari dirinya. Apalagi bagian dari janji beliau untuk menanggulangi masalah KKN, dan ini jelas-jelas ada di depan matanya. Mampukah beliau menyerahkan beberapa borgol yang pernah beliau katakan di salah satu even dari 100 borgol yang beliau minta untuk dipasangkan kepada kader partainya yang terbukti melakukan tindakan KKN? Jika tidak maka kelangsungan kedudukan beliau sebagai presiden akan dipertaruhkan bukan saja untuk Pemilu tahun 2009 tapi di masa pemerintahannya saat ini 2004-2009.
Bersihkan tubuh partai dari slilit (kotoran) yang menyelip di sela gigi SBY, agar beliau bisa tetap tampil bersih, tampan dan meyakinkan. Bila tidak, maka tidak tertutup kemungkinan nasib PD (Partai Demokrat) di Pemilu mendatang (2009) akan sama dengan nasib PDIP di Pemilu 2004 ini. Tidak hanya hancur pamornya tapi juga konflik internal yang meraja-lela. Pasti itu bukanlah cita-cita para pendiri Partai Demokrat. Kata orang bijak, bila retak hubungan antara manusia, pastilah telah terselip dunia di antara mereka (terlena dan silau oleh kenikmatan dunia).
