NagaraOctober 28, 2004 5:53 am

Seragam KORPRI yang dikenakan seorang ibu PNS di dalam metro mini yang membawaku ke tempat kerja, telah mengingatkanku bahwa hari ini pasti hari spesial, sebuah hari besar nasional. Kurunut tanggal dan bulan dan akhirnya tersadar bahwa hari ini adalah tanggal 28 Oktober, Hari Sumpah Pemuda.

Pemuda! Wah, kata yang terkesan gagah, mentereng dan penuh dinamika. Kata tersebut sempat hilang dalam perbendaharaan politik nasional seiring diberanguskannya kementerian, yang saat ini dipimpin oleh Adhyaksa Dault, dari era pemerintahan Gus Dur dan Megawati.

Definisi

Berbagai definisi berkibar akan makna kata pemuda. Baik ditinjau dari fisik maupun phisikis akan siapa yang pantas disebut pemuda serta pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau usia. Terlebih kaitannya dengan makna hari Sumpah Pemuda.

Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”. Definisi lebih lengkap dijabarkan menurut Websters di
http://www.websters-online-dictionary.org/definition/english/yo/youth.html.

Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10 -19 tahun. Contoh lain di Canada dimana negara tersebut menerapkan bahwa “after age 24, youth are no longer eligible for adolescent social services”.         (www.med.uottawa.ca/homeless/tools/glossary_e.html).

Definisi yang berbeda ditunjukkan oleh Alquran.  Dalam kaidah bahasa Qurani pemuda atau yang disebut “asy-syabab”didefinisikan dalam ungkapan sifat dan sikap seperti:

  1. berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang (berani) melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Se­sungguhnya dia termasuk orang orang yang zalim, Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang (berani) mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS.Al­-Anbiya, 21:59-60).
  2. memiliki standar moralitas (iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dalam dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda penghuni gua).“Kami ceritakan kisah me­reka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda.pe­muda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah­kan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, se­sungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS.18: 13-14).
  3. seorang yang tidak berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan; atau aku akan ber­jalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).

Jadi pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dsb. Kelemahan mecolok dari seorang pemuda adalah kontrol diri dalam artian mudah emosional, sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri.

Perubahan

Peran penting dari seorang pemuda adalah pada kemampuannya melakukan perubahan. Perubahan menjadi indikator suatu keberhasilan terhadap sebuah gerakan pemuda. Perubahan menjadi sebuah kata yang memiliki daya magis yang sangat kuat sehingga membuat gentar orang yang mendengarnya, terutama mereka yang telah merasakan kenikmatan dalam iklim status quo. Kekuatannya begitu besar hingga dapat menggerakkan kinerja seseorang menjadi lebih produktif. Keinginan akan suatu perubahan melahir sosok pribadi yang berjiwa optimis. Optimis bahwa hari depan pasti lebih baik.

Tak heran jargon perubahan menjadi tema yang cukup menjual dan menggugah hati masyarakat di Pilpres II lalu. Pertama kali didengungkan oleh PKS setelah penandatanganan nota kesepahaman dukungan PKS terhadap pasangan SBY-JK di Pilpres II. SBY pun menggunakan jargon “perubahan” ini dalam kampanyenya dan terbukti sukses. Lebih dari 60% masyarakat Indonesia mendukungnya, suatu persentasi angka yang tidak sedikit.

Harapan perubahan itulah yang amat sangat dirindukan oleh bangsa Indonesia. Saya mungkin salah satu anak bangsa, yang ketika pemilu 2004 ini digulir baik legislatif maupun presiden, menjadi optimis bahwa angin perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik akan merebak. Hal itu dapat terlihat proporsi fraksi anggota parlemen dari perwakilan partai yang hampir merata, baik tingkat nasional maupun daerah. Sekarang yang kita tunggu adalah bagaimana mereka menggebrak dan masih layak disebut pemuda. Mereka butuh momentum. Momemntum unutk merubah tatanan pragmatisme yang kadung menjadi sebuah permisivitas dalam kacamata sosial.

Momentum

Ketika para tetua MPR; Hidayat Nur Wahid, AM Fatwa, Mooryati Soedibyo dan Aksa Mahmud, memutuskan untuk tidak mengambil fasilitas mobil dinas Volvo dan kemudian diikuti oleh sejumlah menteri di jajaran kabinet SBY-Kalla, itu baru satu momentum.

Ketika para tetua MPR pula memutuskan untuk tidak mengambil fasiltas hotel mewah dan kemudian diikuti oleh jajaran anggota parlemen di MPR/DPR, itu juga momentum.

Ketika Hidayat Nur Wahid memutuskan mundur sebagai Ketua partai, PKS, setelah dia terpilih sebagai ketua MPR, dan kemudian juga diiikuti sejumlah menteri di jajaran kabinet SBY-Kalla dan partai-partai lain, itu juga momnetum. Momentum merombak tatanan pakem politik yang kadung suatu kewajaran dalam budaya rangkap jabatan publik dan kepartaian yang sarat dengan fenomena conflict of interest.
Ketika SBY memutuskan menggunakan cara-cara yang di luar kebiasaan dalam memilih calon anggota kabinetnya, sehingga publik dapat merespon dan memberikan masukan terhadap tindakan, dan SBY cukup apresiatif dengan respon itu, ini juga momentum.

Ketika pemerintahan SBY – Kalla mencanangkan shock therapy dalam rangka menumbuhkan efek jera kepada pelaku pelanggaran hukum berat, ini juga momentum.

Ketika para pengamat dan publik memiliki kesempatan untuk bebas mengkritik dengan bertanggung jawab tanpa ada kekhawatiran intimidasi, ini juga momentum.

Begitu banyak momentum yang kita lihat di pemerintahan yang baru ini dan kita masih banyak butuh momentum lagi. Tapi bukan sekedar momentum, tetapi momentum yang berkelanjutan. Momentum yang terstruktur. Sehingga mampu menjadi efek bola salju, makin lama makin memiliki kekuatan daya dobrak yang besar.

Mereka, para pencetus momentum, tidak lagi berusia 24 tahun. Tidak lagi berusia muda. Tapi tak layakkah bagi mereka disebut pemuda? Keinginan perubahan yang mereka bawa, dan begitu banyak orang yang meng-amini serta mengikutinya, bukan berarti kiprah mereka omong-kosong belaka. Para pengikutnya mungkin dari dulu ingin melakukannya, tapi mereka butuh momen untuk memulainya. Sosok yang mampu mendorong mereka.

Hidayat, Fatwa, Mooryati, Aksa, SBY, Kalla, dan lain-lainnya sudah tidak lagi muda. Tapi bila mereka membawa ide perubahan ke arah perbaikan bagi bangsa, maka mereka layak disebut PEMUDA. Sekedar mengingatkan, mungkin sebagian dari kita sudah lupa bunyi teks Sumpah Pemuda;

Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku bertanah air yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia,
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Salam Pemuda, Merdeka!

NagaraOctober 19, 2004 6:01 am

Tulus dari hati yang paling dalam, saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada Ibu. Dari sekian banyak prestasi yang telah dilakukan oleh Ibu Megawati, momen pergantian Presiden merupakan klimaks prestasi yang beliau torehkan dalam bidang demokrasi Indonesia.

Mungkin sebagian dari kita tidak setuju, tetapi bagi saya pribadi momentum perubahan demokrasi Indonesia pertama kali digariskan bukan tatkala SBY dan MJK disumpah menjadi Presiden tanggal 20 Oktober 2004. Lebih dari delapan bulan sebelumnya prubahan itu dimulai, yakni tatkala Ibu Megawati membuat perangkat persiapan untuk Pemilihan Umum 2004.

Ibu Mega sadar bahwa taruhannya adalah jabatannya. Ibu Mega sadar, berat baginya untuk bisa melenggang di kursi kepresidenan untuk kedua kalinya, di tengah tantangan masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya siap dipimpin oleh seorang wanita. Tapi darah kenegarawanan beliau yang lahir dari mendiang sang ayah, Soekarno, menuntun beliau untuk memberikan suatu yang tak ternilai dan terbaik bagi bangsa ini. Suatu langkah besar perubahan ke arah demokrasi yang akhirnya dapat melibatkan seluruh komponen anak bangsa.

Oleh karena itu, sedih rasanya mendengar bila Ibu Mega tak hadir dalam acara pelantikan presiden 20 Oktober nanti. Padahal saya sudah membayangkan, lepas acara pelantikan nanti akan ada fragmen atau tayangan di media perihal perjalanan kenegarawanan seorang Megawati.

Yang terbayang di benak saya di masa mendatang, tatkala Indonesia sudah menjadi bangsa yang jauh lebih sukses dan maju dari sekarang ini, Indonesia tak akan pernah melupakan jasa beliau. Seluruh tayangan dan fragmen sejarah akan mengingat bahwa beliaulah orang kunci (key person) perubahan Indonesia.

Sejarah dan media akan merekam fragmen-fragmen sejarah perubahan demokrasi yang dilakukan oleh beliau, yakni fragmen tatkala beliau mengajukan Undang-Undang mengenai pemilu 2004 ke DPR, fragmen pengesahan UU Pemilu oleh DPR, fragmen pembentukan dan pengangkatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), fragmen Pemilihan legislatif dilanjutkan oleh Pilpres 1 dan 2, dan fragmen pengumuman pemenang Pilpres.

Tinggal satu fragmen penutup dibutuhkan. Semua itu akan menjadi sebuah cerita yang utuh, tatkala Ibu Megawati hadir di acara pelantikan Presiden di depan sidang MPR 20 Oktober 2004, di mana seluruh mata anak bangsa dan dunia terarah kepadanya. Bagi saya bukan SBY –lah pusat perhatian saat itu, melainkan Ibu. Oleh karena itu, alangkah manisnya bila selepas sumpah dibacakan dan Presiden baru pun resmi dinobatkan, Ibu dan presiden pertama pilihan rakyat bersalaman. Sungguh sebuah momen yang mengharukan. Sejarah yang tak terlupakan. Apalagi bila memungkinkan, Ibu diberi kesempatan pidato untuk terakhir kalinya di depan sidang seraya memberikan kesempatan, jalan dan restu bagi Presiden baru seraya harapan kepada semua anak bangsa agar mendukung presiden baru yang terpilih. Lantas, dilanjutkan oleh pidato presiden yang baru.

Sejarah akan mencatat kelengkapan kenegarawanan seorang putra mendiang Proklamator RI, Soekarno. Bagi keluarga Ibu, akan menjadi suatu catatan yang amat membanggakan bagi anak-cucu-cicit dan seterusnya.

Saya pribadi masih berharap penolakan Ibu selama ini sebagai mimpi, yang kemudian Ibu secara tiba-tiba memutuskan untuk hadir. Sungguh sebuah momen sejarah demokrasi Indonesia yang tak terlupakan.

Sekali lagi Ibu, saya ucapkan terima kasih kepada Ibu yang telah membuka jalan demokrasi ini menjadi lebih baik!

Mungkin ini sekedar harapan seorang anak bangsa untuk melihat utuhnya cerita perubahan demokrasi Indonesia. Tetapi saya sadar semua berpulang pada Ibu, apakah Ibu ingin menjadi bagian dari sejarah itu sendiri atau menjadi penonton. Pastilah Ibu sudah memutuskan yang terbaik.

NagaraOctober 4, 2004 7:03 am

Akankah Bernasib Sama dengan PDIP?

Suarapublika, Republika, Sabtu 2 Oktober 2004 (http://www.republika.co.id/ASP/kolomdetail.asp?id=174340&katid=20)

Kiprah perolehan PD di Pemilu 2004 ini boleh dibilang cukup fenomenal dan itu tidak lepas dari profil sosok pendirinya, SBY. Tapi sayangnya, hasil cemerlang itu ternodai oleh segelintir kader PD terpilih di DPRD DKI yang mengkhianati kesepakatan yang telah dibuat antara DPD PD dan DPD PKS (Partai Keadilan Sejahtera) perihal komitmen kesamaan suara dalam pemilihan ketua DPRD DKI. Ada suara pembelotan di kubu PD dengan melanggar kesepakatan yang telah dibuat oleh para elite partai.

Untunglah Ketua PD Subur Budhisantoso telah memberikan sinyalemen bahwa ada 2 anggotanya yang terlibat money politics dalam pemilihan ketua DPRD DKI Jakarta. Tapi langkah tersebut belumlah cukup. Perlu diambil langkah lain yang lebih nyata dan menyeluruh guna mengembalikan kewibawaan PD di kemudian hari. Bila perlu bukan sekadar langkah recall dan pemecatan, tapi juga humiliating punishment (hukuman yang mempermalukan), agar kelakuan yang sama tak terulang kembali dan juga tidak menjadi preseden buruk di kemudian hari.

Sayang, bila langkah awal yang manis yang telah dibangun oleh kerja keras para kader lain serta simpatisan harus hancur oleh segelintir kader pilihan karena terpesona oleh kenikmatan sesaat dengan mengorbankan nilai-nilai moral dari masyarakat pemilihnya. Masyarakat sudah berharap banyak dengan partai satu ini sebagai salah satu harapan partai pembaru di Republik tercinta ini.

Oleh karena itu tindakan tegas guna mengembalikan kewibawaan partai perlu cepat dilakukan. Walau SBY menyerahkan sepenuhnya konflik yang terjadi di tubuh Partai Demokrat ke elite partai, tapi menurut saya SBY tidak bisa lepas tangan begitu saja. SBY sebagai inspirator berdirinya Partai Demokrat dan gerbang beliau guna menduduki kursi presiden, memiliki andil besar untuk membersihkan dan mengarahkan kembali jalannya partai. Ini adalah test case pertama SBY, mampukah beliau menuntaskan permasalahan internal partai yang juga merupakan bagian dari dirinya. Apalagi bagian dari janji beliau untuk menanggulangi masalah KKN, dan ini jelas-jelas ada di depan matanya. Mampukah beliau menyerahkan beberapa borgol yang pernah beliau katakan di salah satu even dari 100 borgol yang beliau minta untuk dipasangkan kepada kader partainya yang terbukti melakukan tindakan KKN? Jika tidak maka kelangsungan kedudukan beliau sebagai presiden akan dipertaruhkan bukan saja untuk Pemilu tahun 2009 tapi di masa pemerintahannya saat ini 2004-2009.

Bersihkan tubuh partai dari slilit (kotoran) yang menyelip di sela gigi SBY, agar beliau bisa tetap tampil bersih, tampan dan meyakinkan. Bila tidak, maka tidak tertutup kemungkinan nasib PD (Partai Demokrat) di Pemilu mendatang (2009) akan sama dengan nasib PDIP di Pemilu 2004 ini. Tidak hanya hancur pamornya tapi juga konflik internal yang meraja-lela. Pasti itu bukanlah cita-cita para pendiri Partai Demokrat. Kata orang bijak, bila retak hubungan antara manusia, pastilah telah terselip dunia di antara mereka (terlena dan silau oleh kenikmatan dunia).