Rayyn, begitulah nama yang akan kuberikan kepada anakku. Terlahir pada tanggal 23 Juni 2004 M atau 7 Jumadil Awal 1425 H sekitar pukul 14.10 dengan berat 2,8 kg dan panjang 50 cm di rumah sakit JMC. Rayyn lahir dengan kondisi yang sedikit mengkhawatirkan kedua orang tuanya.

Kedatangannya diawali dengan pecah ketuban terlebih dahulu dari sang ibu pada pukul 01.00 dini hari tanpa diiringi dengan bukaan ditambah posisi sang bayi yang sedikit terlibat oleh tali plasentanya. Proses kelahiran dimulai dari pecahnya ketuban membutuhkan waktu dua belas jam setelah melalui proses perangsaan (induksi) bagi sang ibu. Sungguh masa dua belas jam tersebut merpakan masa yang cukup memilukan hati terhadap kondisi istriku, karena menit demi menit rasa mules yang amat menyakitkan datang dengan sedikit jeda, diakibat proses perubahan kondisi rahim karena sang bayi sedikit demi sedikit bergerak ke jalan keluar. Aku hanya dapat berdoa dan mengelus lengannya dengan sesekali mengalihkan diri dengan kesibukan lain di sampingnya agar tidak terlalu terbawa emosi. Aku harus tetap tegar di sampingnya sampai akhir proses persalinannya.

Kondisi tersebut mengakibatkan Rayyn lahir tidak disertai dengan tangisan yang meledak layaknya bayi pada kondisi kelahiran normal, tangisannya agak sedikit merintih dan tidak lepas, mungkin disebabkan oleh tali pusat yang melilit lehernya ketika proses kelahiran atau ketiadaan/terminum oleh air ketuban selama dalam rahim. Wallahu “alam!. Proses kelahiran sang ibu sendiri, Alhamdulillah, berlangsung normal tanpa harus melalui proses operasi (cesio).

Si kecil Rayyn diduga mengalami asfiksia (kekurangan oksigen) yang diakibatkan oleh terjadinya pecah ketuban dua belas jam sebelum kelahiran setelah sebelumnya dilakukan proses induksi. Kondisi itu agak disedikit diperparah dengan kondisinya yang terlilit usus, mengakibatkan Rayyn harus melalui special treatment  setelah kelahiran dengan mengirimkannya ke ruang incubator guna diberikan infus dan antibiotik. Menurut dokter, antibiotik diberikan guna mencegah infeksi, salah satunya kemungkinan terminumnya air ketuban atau ketiadaan air ketuban (kering) yang selama ini berfngsi sebagai body protector bagi dirinya. Sedangkan pemberian makanan cair berupa infus melalui pertimbangan kekhawatiran usus Rayyn belum menerima ASI langsung, ditakutkan adanya penolakan yang akan berpengaruh ke fungsi pencernaannya.

Semoga Rayyn cukup tegar dan kuat unutk menerima cobaannya pertama di dunia ini.

Selamat datang, “gerbang kecil”ku!