Kiprah partai yang satu ini (PKS) selain tentunya Partai Demokrat cukup fenomenal. Perolehan suara PKS yang 7,2% dari informasi terakhir sekitar 8,3 juta pemilih diperolehnya dari hasil kerja keras PKS selama lima tahun belakangan. Kepiawaiannya dalam mengetengahkan isu-isu yang relevan di masyarakat ditunjang penuh oleh kiprah positif anggota legislatifnya yang terpilih di Pemilu 1999 lalu, membuat masyarakat menaruh harap banyak akan kehadiran partai ini terutama dalam mengentaskan masalah korupsi yang telah menjadi way of life.

Gonjang-ganjing pemilihan presiden kiranya telah menyeret aksi dukung-mendukung calon presiden sejumlah partai, begitu pula halnya dengan PKS. Tapi, sampai saat ini PKS belum memutuskan dukungannya kepada salah satu dari calon presiden yang ada. Berita yang berkembang disinyalir kubu PKS terkristalisasi antara mendukung Amien dan Wiranto.

Walau saya bukan sebagai kader, hanya seorang simpatisan yang kerap memantau pergerakan partai ini dari Pemilu 1999, saya hanya menghimbau warga/simpatisan PKS yang lain agar bersabar.

Bila dicermati, saya yakin PKS akan mendukung salah satu partai with no compensation but with some conditions. Artinya PKS tidak ingin menghidupkan politik dagang sapi - aksi barter dengan pembagian kekuasaan sebagai imbalan, tapi sebaliknya dukungan PKS akan dibarengi semacam pra syarat kontrak politik bagi calon presiden yang akan disokongnya. Dengan begitu ungkapan politik “there is no such a free lunch” mungkin ada benarnya, tapi lebih berkonotasi positif (konstruktif) demi kepentingan masyarakat banyak, bukan dengan imbal balik kursi kekuasaan.

Dan bila warga PKS mengamati dengan cermat kembali, PKS ada dalam kondisi dilematis yakni antara keinginan kuat untuk mengganti rezim yang berkuasa sekarang karena dianggap tidak cukup berhasil, dan keinginan untuk mempertahankan eksistensi partai sebagai gerakan moral baru dalam berpolitik. Kedua keinginan itu sama baiknya, tapi sayangnya keduanya saling bertolak belakang dan tidak dapat dijalankan secara bersamaan.

Wal hasil, dari kabar burung bahwasannya PKS terpecah menjadi dua kubu antara mendukung Wiranto dan Amien, momen telah dimanfaatkan oleh beberapa pihak ini untuk menciptakan polemik di masyarakat terutama warga PKS, agar suara PKS diarahkan ke kubu tertentu atau menghancurkan keutuhan partai.

Bagi mereka yang takut bahwasannya PKS akan benar-benar mendukung Wiranto karena akan menghilangkan atau mengecilkan kemungkinan kemenangan calon presiden lain yang didukungnya, berusaha agar PKS mendukung salah satu kandidat presiden yang memiliki peluang kecil untuk bisa menang. Isu-isu yang dibuat dapat berupa hujatan bahwa PKS akan mengecewakan konstituennya bila benar-benar memilih Wiranto karena Wiranto bagian dari masa lalu Indonesia (Orba) dan berlatar belakang militer, atau berupa pengkondisian bahwa kubu Amien-lah yang secara platform sesuai dengan platform PKS.

Yang pasti apapun pilihan dan dukungan PKS pada akhirnya, niat baik serta prasangka baik lah yang harus ditumbuhkembangkan, karena keputusan yang ditelorkan didasarkan pertimbangan untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, selanjutnya yang berbicara adalah komitmen dari presiden yang didukung oleh PKS untuk menjalankan amanah dan pra-syarat yang telah diajukan sebelumnya.

Satu hal lagi sebuah kondisi yang saya lihat telah membawa pengaruh yang cukup signifikan akan ketidak buru-buruannya PKS dalam memberikan dukungan kepada salah satu calon presiden adalah soliditas dan keutuhan partai menjadi tetap terjaga. Kita sama-sama melihat, banyak partai yang dari awal telah memberikan dukungannya kepada salah satu calon presiden tertentu, tetapi di tengah jalan terjadi perpecahan antar mereka dalam hal dukungannya terhadap calon presiden yang lain, sehingga membuat para konstituennya bingung sebenarnya partainya mendukung calon presiden yang mana?

Harapan untuk menjaga soliditas dan keutuhan partai itulah yang sepertinya telah matang-matang dipikirkan oleh para petinggi PKS dalam hal ini MPP (Majelis Pertimbangan Partai) PKS. Oleh karena itu, MPP PKS kerap menghimbau warganya agar jangan terjebak dalam aksi mendukung capres. Saya yakin, pernyataan akhir sikap partai pasti akan dikeluarkan oleh MPP sehubungan dengan pemilihan presiden dengan pertimbangan agar warga PKS tidak dibuat bingung dan salah arah dalam menentukan presiden pilihannya, apa pun itu bentuknya, baik berupa rekomendasi maupun penunjukan langsung.

Oleh karena itu, masalah dukung-mendukung atau pun pernyataan sikap hanyalah soal momen (waktu yang tepat). Terlebih lagi, memutuskan masalah kritikal seperti calon presiden bukanlah persoalan yang dapat diselesaikan dalam satu dua hari rapat, kongres, apapun namanya. Perlu pertimbangan yang dalam dan menyeluruh mencakup segala aspek berkaitan dengan pribadi, visi dan  misi  aupun barisan pendukung di belakang presiden yang bersangkutan. Bisa jadi pula ini penundaan pemberian pernyataan dukungan dari PKS  terhadap salah satu capres atau pun rekomendasi merupakan sebuah strategi yang mudah-mudahan cukup efektif untuk menggalang opini publik di akhr masa kampanye, sebagai mana  pendapat ahli komunikasi yang mengatakan bahwa “mereka yang terakhir paling banyak memenuhi media dan jadi bahan pembicaraan akan mampu menuai simpati dan perhatian masyarakat paling banyak”.

Apapun hasilnya, pemimpin yang terpilih nantinya akan tidak jauh berbeda dari kondisi umum masyarakat pemilihnya. Kualitas pemimpin akan bergantung dengan kualitas rakyatnya. Pemimpin akan menjadi cermin rakyat yang dipimpinnya. Pepatah mengatakan “air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga” atau “ buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”. Yang pasti kita harus bersabar, mungkin belum saat ini Indonesia berubah, mungkin esok atau lusa. Mungkin. Wallahu ‘alam yang penting kita harus tetap bekerja dan berusaha!