Isu-isu politik yang berkembang menjelang pemilihan presiden 5 Juli 2004 kian marak, terutama isu yang berkaitan dengan pencalonan capres dari militer.

Sebagian pengamat politik menganggap isu-isu yang dilontarkan adalah upaya untuk mendiskreditkan capres yang berasal dari militer dan dalam rangka black campaign. Sedangkan sebagian pengamat politik yang lain menganggap isu-isu yang dilontarkan tersebut adalah upaya-upaya kontra produktif, maksudnya adalah usaha-usaha yang dilancarkan untuk kian mendongkrak popularitas sang calon guna menggalang rasa simpati dari masyarakat.

Pendapat pertama para pengamat mungkin cukup beralasan, menimbang capres yang berlatar belakang  militer yang ada saat ini merupakan kandidat yang potensial untuk maju ke putaran babak kedua pemilihan presiden di 20 September 2004 nanti.

Sebut saja Wiranto, walau dari segi popularitas dia tidak begitu dikenal banyak oleh kalangan masyarakat pelosok, tapi berbekal mesin politik yang ditungganginya (Golkar) sebagai pemenang pemilu legislatif 5 April lalu, ditambah perolehan suara dari para kawulo NU pendukung Solahuddin Wahid sebagai cawapres pendamping Wiranto, membuat pasangan ini berpotensi besar untuk mendulang perolehan suara guna menduduki posisi dua besar. Tidak pelak kiranya, upaya-upaya untuk menggoyang posisi mereka kerap dilancarkan kepada sang capres Wiranto, perihal isu keterlibatan dalam Tragedi Trisakti, kasus Semanggi I dan II, baik dalam bentuk demo anti Wiranto maupun penyebaran selebaran hingga berbentuk VCD.

Begitu pula halnya dengan capres Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Popularitas sang kandidat presiden dari partai demokrat ini sangat menanjak saat ini. Pooling LP3ES dan IFES menyebutkan popularitas pasangan cawapres Jusuf Kalla mencapai angka di atas 40%, jauh meninggalkan pasangan Amien Rais-Siswono yang menduduki peringkat kedua dengan kisaran sekitar 15% responden. Popularitas SBY saat ini memang sangat menanjak, dimulai dari pernyataan Taufik Kiemas yang menganggap sikapnya terlalu kekanak-kanakan perihal anggapannya bahwa SBY mengadu kepada media karena tidak pernah lagi dilibatkan dalam rapat kabinet, bukan kepada Megawati sebagai atasannya. Konflik antara SBY – Taufik – Megawati telah secara tidak langsung memposisikan SBY sebagai pihak teraniaya dan telah menimbulkan simpati yang cukup besar dari masyarakat kepada SBY dan partainya. Walhasil, partai demokrat sebagai partai new comer mendulang sukses besar di pemilu 5 April lalu, mengalahkan PAN yang telah malang melintang di pemilu sebelumnya. Kembali upaya untuk menggoyang popularitas SBY pun dilakukan melalui isu keterlibatannya di tragedi 27 Juli.

Masyarakat dihadapkan pada pilihan antara fakta dan persepsi. Fakta, apakah kejadian yang dituduhkan kepada capres pilihannya adalah benar adanya atau persepsi yang sudah telah terbentuk melalui first impression bahwa mereka sudah terlanjur suka kepada capres pilihannya.

"If we are talking about politics, we are talking about perceptions not just facts."

Sebagian massa pemilih bangsa Indoesia yang notabenenya golongan menengah ke bawah lebih melihat ke realita yang berlaku di sekitar mereka. Nah, bila itu semua tidak terpenuhi maka harapan dan persepsi yang berbicara. Masyarakat akan berusaha mencari (kemungkinan) alternatif yang dapat memenuhi harapan mereka. Harapan akan harga sembako yang murah, tidak adanya kelonjakan harga akan hal-hal yang sudah menjadi kebutuhan primer buat mereka seperti, ongkos angkutan, harga bahan bakar, tarif telepon, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya.

Fakta hanyalah sebagai pendukung yang utama adalah persepsi yang ada di benak masyarakat. Persepsi itulah yang harus kita bentuk. Sebagus apapun fakta dari pencapaian yang telah kita raih tidak akan punya andil besar bila persepsi masyarakat tidak juga ikut dibentuk.

Pendidikan politik masyarakat masih jauh dari harapan. Bila ingin masyarakat memilih berdasarkan fakta, maka ajarkan kepada mereka bagaimana cara memilih yang benar. Memilih dengan hati nurani dan fakta saja tidaklah cukup. Ajarkan kepada mereka untuk kritis terhadap program kerja kandidat, trak record kandidat, capability kandidat, latar belakang kandidat, dan masih banyak lagi.

Akankah politik tetap merupakan persepsi ketimbang fakta, tergantung bagaimana kita mensikapinya.

Sekarang bukanlah masanya untuk berkata,“Bila tidak sesuai harapan, kita jangan pilih lagi di pemilu mendatang“. Sekarang adalah masanya memilih dengan penuh pertimbangan. Terlalu besar taruhannya bila kita memilih hanya berdasarkan coba-coba dan perasaan atau persepsi semata. Kesengsaraan dalam lima tahun ke depan adalah konsekuensi yang akan kita tanggung terhadap kesalahan pilihan kita. Pilih dengan penuh pertimbangan, bila sesuai ambil dan bila tidak tinggalkan.