25% Titik Aman Pertama Menuju Kursi Panas RI-1 (Part 2)

 

Kursi panas RI-1 sedang menjadi bahan rebutan. Untuk bisa masuk titik aman babak pertama, setidaknya perolehan 25% suara dapat dijadikan pijakan untuk bisa melaju ke babak selanjutnya. Perhitungan politis matematis serta strategi untuk memecah suara diperlukan agar dapat paling tidak memecah kekuatan kandidat lain dan bila mungkin memindahkan suara lawan kepada dirinya (swing voters). 

Perhitungan politis matematis sepertinya sah-sah saja diterapkan. Walau masyarakat Indonesia sudah mulai rasional dan melek politik, tetapi komitmen terhadap partai yang dipilih pada pemilu legislatif akan terbawa kepada pemilihan presiden nantinya. Presiden mana yang didukung oleh partai pilihannya, maka merekalah yang akan dicoblosnya. Walau banyak yang menyatakan realitas politik susah ditebak, tetapi dengan tipikal pola pemilih tradisional yang masih melekat di segenap rakyat Indonesia sepertinya hal itu bukanlah suatu hal yang tidak mungkin. Seperti contoh, kemenangan Golkar dengan kisaran angka perolehan 21% dan capaian PDIP di angka 20% pernah saya utarakan sebelum pemilu 5 April lalu dalam sebuah tulisan di salah satu situs di Internet ( www.berpolitik.com dengan judul Utak-Utik TOGEL Hasil Pemilu Legislatif 2004). Tidak perlu lembaga survey, corat-coret sendiripun hasilnya tidak akan berbeda jauh. Itulah realitas masyarakat politik Indonesia.

Kenapa 25 persen?

Bila masih menggunakan pakem paradigma pemilih tradisional, sekiranya duet Mega-Hamzah dan Wiranto-PKB(Solahudin Wahid) terjadi maka hitungan di atas kertas, masing-masing pasangan berturut-turut akan memperoleh 27% dan 32% dari total persentase perolehan suara mereka di kursi legislatif.
Oleh karena itu diupayakan untuk memecah suara partai-partai dari kedua pasangan tersebut. Idenya untuk mengurangi winning chance, dan mencuri angka. Dengan mengambil istilah Aikido yakni menggunakan tenaga lawan untuk menjatuhkan.

Langkah tersebut telah dilakukan oleh SBY. Berdasarkan perhitungan politis matematisnya, Akbar lah yang akan menjadi pemenang, dan basis kekuatan Golkar ada di Indonesia Timur, khususnya Sulawesi, spesifiknya Sulawesi Selatan. Langkah strategi “devide et impera“ versi SBY pun dilakukan dengan memecah kekuatan Golkar, dan memilih kader  yang punya pengaruh di Indonesia Timur. Pilihan pun jatuh pada Yusuf Kalla. Sekedar informasi, dari Dapil (Daerah Pemilihan) Sulawesi Selatan 1 dan 2 saja sampai saat ini telah menyumbang 11 kursi DPR-RI dari total 130 kursi DPR-RI yang diperoleh Golkar, atau sekitar 9%. Sedangkan  bila dilihat dari jumlah pemilih Golkar di seluruh Sulawesi saja mencapai sekitar 13%  (2.533.459 dari total suara 19.502.811), belum termasuk wilayah Indonesia Timur lainnya. 

Wajar bila SBY yakin dapat meraup sekitar lebih dari 20% dari jumlah pemilih pemilih di putaran pertama pemilihan presiden. Pamor ketokohan dia yang diprediksikan bernilai 2 hingga 3 kali lipat perolehan suara Partai Demokrat ditambah suara dari Indonesia Timur, lebih spesifik suara-suara dari konstituen Golkar, cukup untuk dapat mencapai angka di atas 20%. Itu berarti SBY telah melewati titik aman pertama, kursi panas RI-1.

Kehilangan 13-15% suaranya bagi Golkar merupakan angka yang cukup signifikan, belum lagi hilangnya suara karena swing voters memilih Presiden bukan dari pilihan/kader partainya (Golkar) sekitar 10-15% diluar wilayah Indonesia Timur saja, membuat bakal kehilangan diperkirakan 30% suaranya. Suara-suara yang hilang itu disinyalir bisa jadi suara pendukung Amien, SBY, dan lain sebagainya, selain suara untuk Yusuf Kalla.  Itu berarti Golkar hanya mengantongi total 21% dikurangi 30% dari 21%, atau tinggal sekitar 15% dari total perolehan suara Pemilu 5 April lalu yang 21%. Itu berarti sisa perolehan suara Golkar yang sekitar 15%  tersebut memaksa Golkar untuk mencari tambahan dari partai yang memiliki perolehan sekitar 10-13%. Pilihan pun jatuh pada PKB. Bisa jadi Wiranto memang sudah diplot oleh Golkar untuk dapat mendekati Gus Dur agar dapat berkoalisi dengan PKB., dengan alih-alih siap menjadi wakil. Sampai pada akhirnya Wiranto yang “terpilih“ jadi calon presiden partai Golkar, tawaran yang tadinya hanya sebagai cawapres pun bisa jadi berubah, berubah menjadi terbalik lebih tinggi.

Bila Gus Dur menerima pinangan Golkar berkoalisi atau beralliansi untuk menjadi cawapres, PKB akan menjadi kendaraan politik yang efektif bagi partai Golkar untuk memuluskan jalan menuju kursi RI-1. Sebab, hampir pasti duet ini akan melewati titik aman pertama, dan besar kemungkinan pada akhirnya menjadi pemenang mengalahkan pasangan SBY-Kalla. Pertimbangannya adalah pasangan ini memiliki spektrum pemilih yang lebih luas dan menjangkau alternatif pemilih (masyarakat) yang lebih lebar, ketimbang SBY yang identik dengan simpati atas sosok ketokohannnya, Partai Demokrat (PD), purnawirawan, sedangkan Yusuf Kalla sebagian suara Golkar dan suara Indonesia Timur. Walau SBY dengan Partai Demokrat-nya mengklaim bahwa PD termasuk partai relijius, selain pluralis, reformis dan nasionalis, ke-relijius-an PD dipertanyakan untuk masuk segmen relijius mana.

Hal yang sama dengan Golkar akan berlaku bila Gus Dur (PKB/NU) menerima lamaran dari PDIP untuk menjadi pendamping cawapresnya. Megawati masih menimbang untuk menerima pinangan Hamzah Haz dengan PPP nya. Kembali menurut perhitungan politis matematis, kalaupun duet ini diteruskan, sepertinya pasangan ini tidak akan bernafas banyak di babak kedua, karena kisaran total jumlah pemilih mereka tidak akan jauh beda dari total perolehan suara mereka di pemilu 5 April lalu. Jumlah yang masih jauh untuk dapat memenangkan suara 50% plus 1. Oleh karena itu Megawati (PDIP) masih sibuk mencari-cari pasangan yang pas untuk mendampinginya. Alternatif yang mungkin dia cari adalah dari golongan Islam atau militer. Walau Hamzah Haz termasuk dalam golongan Islam, menurut saya PDIP sedang menimbang-nimbang dan mencari calon lain dari partai Islam yang lebih lebar spektrum pemilihnya, seperti PKB, PKS, NU, atau kader Muhammadiyah. Merupakan pilihan yang tidak mudah bagi PDIP untuk menentukannya. Tapi seorang Gus Dur (PKB) merupakan hal yang tidak terlalu sulit.

Sedangkan untuk Amien Rais, pekerjaan rumah terbesar baginya adalah harus bisa memecah dominasi suara PDIP, agar bisa bersaing dengan pasangan SBY-Kalla, Mega-Hamzah, dan Wiranto-PKB(Gus Dur/Solahudin Wahid). Caranya mungkin dengan memecah suara kekuatan PDIP dengan mengambil satu calon dari kader berpengaruh di PDIP (Kwik Kian Gie atau Sophan Sophian) atau bila dengan yang lain harus paling tidak bernilai sekitar 12-13% suara. Tiga belas persen suara yang diharapkan dari hasil merger PAN dan PKS belum cukup aman bagi Amien untuk memuluskannya dirinya untuk duduk di kursi panas. Amien bila ingin memecah suara PDIP harus memilih kader PDIP berpengaruh yang mau dijadikan cawapres dan berasal dari daerah kantong PDIP, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Amien mungkin termasuk yang akan mendapat limpahan swing voters, mungkin berkisar 5%. Sekiranya Amien dapat meraih target optimis 5 juta suara dari PDIP dari daerah kantong PDIP, agak sedikit membuat posisi Amien relatif aman dengan sekitar 23% perolehan suara. Sedangkan bila ingin mencari calon lain bisa diperoleh dari calon yang dapat dukungan penuh partai-partai yang tidak lolos electoral threshold. Siswono mungkin profil yang lebih cocok ketimbang Agum Gumelar.

Oleh karena itu, kisaran angka 25% perolehan suara dari jumlah populasi pemilih nantinya, mungkin adalah angka perhitungan politis matematis yang harus dipatok agar bisa melewati titik aman pertama pemilihan kursi panas presiden. 

Tapi ada satu catatan penting yang perlu digarisbawahi. Saya yakin, perhitungan politis matematis itu semua akan berubah bila ada satu partai ,seperti PKS contohnya, menghadirkan sosok solusi alternatif calon presiden seperti yang pernah dilakukan dahulu di pemilu 1999 dengan menghadirkan sosok DR. Didin Hafiduddin. Bila hasil Musyawarah Majlis Syuro 24-25 April lalu, PKS menghadirkan sosok yang  "nyeleneh" di peta perpolitikan capres, seperti contoh AA Gym sebagai capres dari PKS, saya yakin peta perpolitikan itu semua hancur total berantakan. Realitas politik pemilihan capres nantinya akan amat sukar ditebak dengan hadirnya sosok solusi alternatif AA Gym.

Yang mungkin hampir pasti, pemilihan presiden akan dilakukan untuk bisa masuk sampai ke kursi aman kedua, alias dua kali putaran. Who wants to be a president?