Pemilu Presiden 2004: Perang Politik NU versus Muhammadiyah?
Mungkin terlalu ekstrem kalo dibilang Pemilu Presiden sekarang adalah perang antara NU versus Muhammadiyah. Amien boleh jadi sekarang sedikit tenang. Ia yakin warga Muhamadiyah yang berjumlah sekitar 20-30 juta, menurut Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Abdul Mu’ti, mendukung penuh kiprahnya unutk menuju kursi Presiden.
Memang realitas politik yang terjadi saat ini adalah, perolehan suara partai tidak berbanding lurus dengan calon presiden dari partai yang bersangkutan. Contoh, profil seorang SBY menurut hasil lembaga survey mendapat sekitar 20% responden, nilai ini jauh di atas perolehan partainya (PD) yang hanya sekitar 7,5%. Begitu pula apa yang terjadi dengan PKB dan PAN, apa iya warga NU hanya berjumlah 10 juta-an dan warga Muhammadiyah kalau boleh diidentikkan dengan dengan PAN hanya berjumlah sekitar 7 juta-an. Hanya perolehan hasil partai Golkar, PDIP dan PPP yang bisa dikatakan berbanding lurus dengan pamor tokohnya, berhubung masih banyak konstituen ketiga partai ini adalah pemilih tradisional. Maklum profil mereka telah lekat lebih dari 30 tahun dalam kancah perpolitikan Indonesia.
Keyakinan seorang Amien cukup beralasan, terlebih lagi gonjang ganjing yang terjadi di kubu NU dan PKB perihal pencalonan salah satu warga NU (Hasyim Muzadi) untuk menjadi cawapres yang saat ini sedang diperebutkan oleh PDIP dan Golkar, kemungkinan besar berakibat pecahnya suara PKB yang mayoritas pendukungnya adalah warga NU. Mungkin perhitungan Amien Rais ada benarnya, dengan terpecahnya suara PKB atau NU, yang kecil sekali kemungkinannya untuk mendukungya di pemilihan Presiden 5 Juli nanti, disertai keyakinan bahwa seluruh warga Muhammadiyah akan berada di belakangnya akan membuat the winning chance seluruh capres-cawapres akan sama.
Sebegitu mempesonanya nilai suara sebuah institusi bernama NU, membuat mereka menjadi rebutan banyak pihak untuk menyunting salah satu warganya guna menjadi cawapres di pemilu presiden nanti. Tak urung SBY yang tadinya tidak begitu memperhitungkan hal ini terjadi, bahwa ada warga NU yang bakalan mau bersanding dengan PDIP datu Golkar, buru-buru memberikan statement dalam pidatonya di Halaqah NU yang baru lalu, bahwa dirinya bersedia menempatkan warga terbaik NU untuk duduk dalam kabinetnya. Selanjutnya untuk meyakinkan acceptabilitas warga NU terhadap pasangan SBY-Kalla, SBY menyatakan bahwa Yususf Kalla pun adalah salah seorang warga NU. Sang SBY akhirnya ketar-ketir juga, ada rumours yang berkembang bahwa SBY berkata pasangannya dengan Kalla baru akan secara formal dinyatakan pada tanggal 5 Mei nanti, sebelum itu kemungkinan perubahan bisa saja terjadi. Nah loh?
Yang hampir dipastikan, NU akan memenuhi pinangan salah satu partai yang datang (PDIP atau Golkar) untuk menjadi cawapresnya. Halaqah NU yang diselenggarakan hanya lah sarana untuk mengumpulkan para petinggi NU, yang akhirnya mengeluarkan sebuah rekomendasi untuk maju ikut pertarungan cawapres. Ini berarti 10 juta suara PKB akan terpecah. Memang sangat disayangkan kalau NU sampai memilih bergabung dengan salah satu dari dua partai tersebut, tetapi itulah realitas politik, terkadang misi, ambisi dan idealisme tidak lagi melihat penerimaan (people acceptance) tetapi lebih kepada kemungkinan kemenangan (winning opportunity).
Akankah benar pertarungan ini nantinya akan menjadi babak baru pertarungan politik NU versus Muhammadiyah. Mungkin terlalu ekstrem, tetapi kita lihat saja nanti.
