Gus Dur (PKB), Ke Mana Langkahmu Pergi, Selalu Ada NU Bayangmu
Dulu, ketika Gus Dur memerintah ada joke segar di kalangan wartawan dan pelaku pasar, "Apa persamaan Gus Dur ama Metro Mini?" Jawabnya adalah "Susah ditebak!". Metro Mini kadang kita susah menebak kapan mereka mau belok atau berhenti, begitu juga Gus Dur amat susah ditebak kemana arah kebijakan atau pernyataan yang akan diambilnya.
Guna memenuhi ambisinya untuk kembali merebut kursi RI-1, Gus Dur (PKB) agaknya akan memenuhi ganjalan perundang-undangan. Kriteria kesehatan akan menjadi masalah serius baginya untuk bisa meneruskan pencalonan dirinya. Bisa jadi sinyalemen yang diungkap olehnya bahwa ini adalah konspirasi dan rekayasa yang dibuat pemerintah untuk menjegal dirinya ada benarnya. Terutama oleh sebagian orang yang mungkin trauma dan fobia, kalo dia terpilih lagi menjadi presiden.
Sadar akan kendala yang dihadapi, Gus Dur mulai membuka alternatif. Ada empat skenario yang kemungkinan akan diambil :
Pertama, merangkul SBY untuk berkoalisi. Pilihan awal adalah menjadikan SBY sebagai cawapres, tapi sepertinya gayung tak bersambut. SBY merasa cukup confident melalui duetnya dengan Yusuf Kalla. Oleh karena itu pintu masuk yang ingin menjadikan dirinya (SBY) cawapres akan ditutup rapat olehnya. Pilihan akhir yang mungkin diambil Gus Dur adalah mendukung SBY menjadi Presiden dan mengutus Solahudin Wahid sebagai cawapres. Hal ini tidak tertutup kemungkinan, sehubungan Gus Dur sudah begitu kepincut dengan kepribadian SBY. Tapi persoalannya maukah SBY memenuhi pinangan Gus Dur tersebut? Kecil sekali kemungkinannya.
Kedua, berkoalisi dengan partai-partai lain yang lebih kecil (17 koalisi parpol penolak hasil pemilu, mungkin) dan mengusung satu nama yang disepakati sebagai cawapres, mendampingi satu calon dari PKB yang akan menjadi Presiden. Bisa jadi Gus Dur akan mengusung nama Mbak Tutut (PKPB) sebagai pasangan cawapresnya atau mengambil bola muntah cawapres yang dipilih Amien Rais (Agum atau Siswono). Tapi yang pasti pamor PKB/NU ada pada Gus Dur, di tengah nyaris terjegalnya Gus Dur oleh perundang-undangan calon presiden, bisa jadi skenario ini akan sulit terjadi.
Ketiga, merangkul Wiranto untuk bergabung. Ide awalnya adalah menjadikan Wiranto cawapres bila dengan catatan Wiranto kalah dalam konvensi. Tapi sekarang kenyataan berbicara lain, Wiranto sebagai pemenang konvensi dari partai pemenang pemilu 2004 berada di atas angin. Alih-alih harus berdiskusi dulu dengan mesin politik partainya (Golkar), dia belum bsa menentukan pasangan cawapresnya di pemilu presiden nanti. Akankah dia sesemangat dulu sebelum dia memenangkan menemui sedikit kendala untuk menajkanya berkoalisi sehubungan tawaran pihak Golkar yang hanya ingin menjadikan pihak PKB sebagai wakilnya. Kembali pintu masuk yang ingin menjadi Wiranto sebagai cawapres akan ditutup rapat oleh Golkar. Pilihan akhir alternatif ini bagi Gus Dur adalah Wiranto capres dan Solahudin Wahid sebagai cawapres, tak ada kompromi. Berhubung sang Golkar sebagai pemenang Pemilu, so the winner takes it all. Besar kemungkinan, inilah yang akan menjadi alternatif utama dari Golkar, sedangkan PKB belum tentu, kecuali tawaran harga tinggi yang bakal ditetapkan oleh PKB mau dipenuhi oleh pihak Golkar.
Keempat, skenario yang bakalan membuat orang menahan nafas adalah menerima lamaran PDIP untuk mengutus wakil dari PKB atu NU untuk menjadi cawapres pendamping Megawati. Sinyalemen ke arah sana sepertinya lebih besar ketimbang koalisi dengan Golkar. Pihak PDIP masih menimbang untuk menerima pinangan Hamzah Haz dengan PPP nya. Menurut perhitungan politis matematis, kalau pun duet ini diteruskan, sepertinya pasangan ini tidak akan bernafas banyak di babak kedua, karena berdasarkan nature konstituennya kisaran total jumlah pemilih mereka tidak akan jauh beda dari total perolehan suara mereka di pemilu 5 April lalu. Jumlah yang masih jauh untuk dapat memenangkan suara 50% plus 1. Oleh karena itu Megawati (PDIP) masih sibuk mencari-cari pasangan yang pas untuk mendampinginya. Alternatif yang mungkin dia cari adalah dari golongan Islam atau militer. Walau Hamzah Haz termasuk dalam golongan Islam, menurut saya PDIP sedang menimbang-nimbang dan mencari calon lain dari partai Islam yang lebih lebar spektrum pemilihnya, seperti PKB, NU, PKS, atau kader Muhammadiyah. Berkoalisi dengan dua komunitas/partai terakhir (PKS dan Muhammadiyah) mungkin sudah tidak mungkin, hanay dengan PKB dan NU lah kemungkina masih terbuka lebar. Sepuluh juta massa pemilih PKB (termasuk NU), merupakan massa yang cukup menggiurkan, tapi pada akhirnya nurani massa PKB dan NU lah yang akan berbicara, di mana pada awalnya mereka memilih PKB dengan harapan sang Kyai Gus Dur atau pun wakil dari PKB/NU akan menjadi Presiden guna meneruskan aspirasi mereka. Bila elit politik PKB/NU menerima lamaran PDIP untuk menjadi wakilnya, berarti teramat banyak konstituen mereka yang terlukai dan mungkin akan berpaling tidak percaya lagi dengan partai ini di kemudian hari. Tetapi kemungkinan skenario ini terjadi lebih besar ketimbang skenario ketiga. Problem histori antara Gus Dur dengan Mega lebih kecil ketimbang dengan Golkar (Akbar), inilah yang akan menjadi alternatif utama dari PDIP dan juga PKB.
Kelima, menjadi partai oposisi mengikuti jejak PKS. Inilah opsi menurut saya yangterbaik bagi PKB/NU saat ini. Sebagai partai oposisi PKB akan punya banyak peran untuk memonitor tetap tegaknya demokrasi di Indonesia serta kontrol yang kuat dan melekat terhadap fungsi legislatif guna bersama membangun bangsa. Kalau itu terjadi, berarti babak baru perpolitikan partai di Indonesia umumnya, dan PKB pada khususnya dimulai. Mitos yang menyatakan bahwa partai hanyalah jalan menuju jenjang kursi kepresidenan terhapus sudah. Duet PKB dan PKS dan mungkin akan disusul oleh paratai-partai lain akan menjadi momok pemerintah agar tetap bisa berjalan di relnya.
Semoga pernyataan Gus Dur dalam websitenya www.gusdur.net tetap menjadi inspirasi PKB dalam menjalankan gerakan politiknya.
”Kalau saya cuma ingin kedudukan saya sendiri sih, lebih baik saya diam-diam saja, berunding dengan yang menang-menang itu, beres! Saya tidak ingin begitu, sebab, yang saya cari bukan kursi, tetapi tegaknya demokrasi di Indonesia.”
Akhirnya akan pilihan mana yang akan diambil, kita tunggu saja Tim Sembilan PKB yang sedang menggodok formula yang pas atau skenario yang akan diambil. Paling tidak sepertinya PKB masih punya keinginan kuat untuk bisa mengirimkan salah satu wakil terbaiknya di jalur kepresidenan, guna mengulang sukses era Gus Dur.
Apa pun yang terjadi, kesimpulannya hanya satu: Gus Dur (PKB) memang sulit ditebak!
