Nagara, AntaraDecember 17, 2007 8:13 am

                                                     asian idol logo

Sebenarnya, yang membuat Singapura memenangi Asian Idol adalah karena kedunguan kita. Apa iya? Ikuti ulasannya ….

Penyelenggaraan Asian Idol malam tadi mencapai titik klimaks. Keheranan dan rasa tak percaya menghinggap tak hanya juri dan penonton baik yang langsung maupun melalui tv, tetapi juga pada pemenang itu sendiri, Hady Mirza dari Singapura.

Rasa heran dan tak percaya wajar saja, karena performa dan kualitas Hady Mirza bila dibandingkan oleh peserta Idol lainnya bisa dikatakan sedikit satu kelas dibandingkan unggulan utamanya; Jaclyn Victor (Mal), Mike Mohede (Indo), Mau Marcelo (PHIL).

Saya melihat kemungkinan kemenangan besar Hady Mirza, Singapura adalah lebih kepada faktor teknis voting, ketimbang alasan non teknis; seperti penampilan (stage-performace).

Kontribusi utama kemenangan Singapura dalam memenangkan First Asian Idol adalah karena teknis voting berupa pengiriman SMS. SMS yang dikirimkan harus menyertakan dua kandidat (negara) dalam satu pengiriman.

Alasan panitia dan negara peserta mungkin keberatan, karena kalau metode voting SMS konvensional yang hanya mengirim satu kandidat juara hanya akan didominasi oleh negara berpopulasi besar, dalam hal ini India dan Indonesia. Singapura dan Vietnam, dan mungkin juga Philiphina agak keberatan. Karena bakal kalah sebelum bertanding berhubung populasi meraka yang tak sebanyak India dan Indonesia.

Wajar mereka keberatan, karena Asian Idol kali ini yang hanya satu kali tanpa babak penyisihan, hanya mengandalan fanatisme dan sentimen kebangsaan, ketimbang obyektifitas kemampuan setiap peserta. Orang yang berpikir pendek akan langsung berpikir yang banyak kirim sms dia lah yang jadi pemenang.

Makanya nggak heran sewaktu Mau Marcelo dari Philiphina di wawancarai oleh RCTI (Seputar Indonesia) merasa nggak begitu yakin walau performance bagus.

"You know? It’s a vote .. so … well … you know? …", begitu kira2 menanggapi kemungkinan kemenangannya.

Lantas kenapa Singapura Hady Mirza menang????

Pertama, karena faktor teknis voting yang harus mengirimkan dua kandidat juara dalam satu SMS. Singapura mendapatkan limpahan suara dari negara lain selain dari negerinya sendiri melalui SMS, di mana penyumbang suara terbesar dari Indonesia, Malaysia, India, dan sebagai dari Vietnam/Philipina (???).

Kenapa begitu? Karena faktor non teknis yang mendukungnya, yakni ..

Kedua, faktor non teknis karena kedekatan rumpun. Sosok Hady Mirza lebih diterima oleh Indonesia dan Malaysia (kecuali dari etnis India dan preferensinya bangsa India juga) karena keserumpunannya, ketimbang peserta dari Vietnam (Phuong Vy) maupun Philipina (Mau Marcelo). Sebaliknya Malaysia dan Indonesia kecil sekali kemungkinannya saling menyertakan antara keduanya di dalam SMS terkait isu dan konflik budaya yang sedang berlangsung akhir-akhir ini.

Kedua, adanya limpahan suara dari India lebih dikarenakan faktor strategi di atas panggung. Di mana duet Hady Mirza dengan peserta India, Abhijeet Sawant, menyanyikan sebuah lagu India di penghujung acara, telah cukup mendulang simpati sebagian pemilih dari negeri (bangsa/etnis) India.

Ketiga, Singapura menjadi negara netral bagi Philipina dan Vietnam untuk menjadi pilihan kandidat kedua, maka dalam hal ini faktor good-loking menjadi penentu sms-voter untuk memilih Mirza.

Jadi, wajarlah kalau Hady Mirza menjadi unanimous decision (menang mutlak dan telak)! Nggak percaya? Cari deh data detailnya, pasti angka pemilih Hady Mirza kalah jauh di atas peserta lainnya.

Jadi yang dungu dan pintar siapa? ha..ha..ha…

Untunglah waktu istri ku nyuruh kirim akau nggak mau .. karena tau siapa yang bakal menang .. yang pasti bukan Malaysia dan Indonesia … dan yang pasti buang-buang duit ajah ….

"And the first Asian Idol goes to, Hady Mirza, Singapore," wakakakakakak ….. capek deh lu!!! emoticon

Buana, Nagara, Antara, CittaDecember 11, 2007 3:59 am

Kertas (paper) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir seluruh aktifitas keseharian kita membutuhkan kertas, seperti pekerjaan, komunikasi, pendidikan, kesehatan, perbankan, dan lain lain.

Berapa sih sebenarnya nilai kertas dalam sebuah perusahaan? Mari kita coba bermain matematika sedikit berdasarkan fakta dan data yang ada.

Untuk menghitung biaya terkait dengan penggunaan suatu produk, termasuk penggunaan kertas, perhitungan selalunya didasarkan pada tiga aspek biaya, yakni

  1. Biaya produksi (productional cost)
    yaitu biaya pabrik untuk memproduksi satu unit kertas, yakni sekitar $450/ton atau sekitar Rp 11.000/ rim
  2. Biaya lembaga/perusahaan (institutional/company cost)
    yaitu harga beli kertas oleh perusahaan ditambah komponen biaya lain untuk pengelolaan satu unit kertas, seperti penyimpanan (storage), pencetakan (printing), penggandaan (copying), daur ulang (recycling), pembuangan (disposal), dan pengiriman (delivery or postage). Studi mutakhir yang diadakan oleh Citigroup dan Aliansi Pelindung Lingkungan (Environmental Defense Alliance) diperoleh kesimpulan bahwa total komponen biaya (institutional cost) ini senilai 31 kali lipat harga beli kertas
  3. Biaya lingkungan (environmental cost)
    yaitu biaya tidak langsung terhadap dampak lingkungan berkaitan dengan pemakaian kertas seperti; rusaknya hutan dan isinya, polusi, sampah, pemanasan global, longsor, banjir, dan lain sebagainya. Menurut Rainforest Information Center, sebanyak 10 -17 pohon yang harus ditebang untuk menghasilkan satu ton kertas ukuran koran (atau 8 lembar ukuran kertas A4). Satu ton tersebut cukup untuk mencetak sekitar 7.000 eksemplar koran. 

Menurut Indonesian Pulp and Paper Association, sembilan puluh persen konsumsi kertas (tulis dan cetak) di Indonesia disuplai secara domestik dan dalam kurun waktu lima tahun (2000-2004). Data statistik pada Tabel 1, menggambarkan peningkatan jumlah konsumsi dan produksi kertas di Indonesia dari tahun 2000 hingga 2004.


Dengan mengambil nilai minimal rata-rata tingkat pertumbuhan konsumsi dan produksi yakni 5% per tahun (sedangkan menurut World Resource Institute untuk Negara berkembang rata-rata sekitar 7% per tahun), maka diperoleh jumlah konsumsi kertas Indonesia di tahun 2006 adalah 5,96 juta ton. Kebutuhan (demand) yang besar inilah yang mungkin menjadi pemicu maraknya kasus  pembalakan liar (illegal logging) di Indonesia.

Dari jumlah konsumsi kertas 5,96 juta ton di tahun 2006, kita akan dapat menghitung konsumsi penggunaan kertas per kapita atau per angkatan kerja (per pekerja/pegawai).

Tabel 1. Data Statistik Produksi dan Konsumsi Kertas Tulis dan Cetak (paperboard)  tahun 2000 – 2004 (dalam tons)

Tahun
Kapasitas
Produksi
Produksi
Impor
Ekspor
Konsumsi
Tercatat
2000
9,116,180
6,849,000
212,630
2,837,210
4,224,420
2001
9,904,080
6,951,240
199,840
2,345,135
4,805,945
2002
10,045,580
7,212,970
249,695
2,446,730
5,015,935
2003
10,045,580
7,267,880
206,880
2,160,380
5,314,380
2004
10,045,580
7,679,820
306,970
2,576,640
5,410,150
Sumber: Indonesian Pulp & Paper Association Directory 2005

Tingkat konsumsi kertas per kapita didapat dengan membagi total konsumsi kertas dengan jumlah penduduk. Sedangkan konsumsi per angkatan kerja didapat dengan membagi total konsumsi dengan hanya jumlah angkatan kerja, sehingga didapat tingkat konsumsi kertas per pekerja (pegawai).

konsumsi_kertas_per_ kapita = total_konsumsi_kertas / jumlah_penduduk
konsumsi_kertas_per_angkatan_kerja= total_konsumsi_kertas/jumlah_angkatan_kerja

Dengan menggunakan rumus di atas dan data jumlah penduduk Indonesia tahun 2006 (225 juta), maka akan didapat hasil bahwa konsumsi kertas per kapita tahun 2006 adalah 27 kg. Bandingkan dengan negara-negara lainnya yang sumber daya alamnya terbatas seperti Singapura dengan konsumsi kertas per kapita mencapai 154 kilogram per kapita, Malaysia 115 kilogram, Thailand 40 kg, China 45 kg, Amerika Serikat 301 kg, dan Jepang 242 kg (lihat Tabel 2).

Sedangkan bila nilai tabel 1 di atas diasumsikan hanya digunakan oleh para pekerja dan angkatan kerja Indonesia (sebesar 108 juta), maka konsumsi kertas per angkatan kerja (pegawai) Indonesia tahun 2006 adalah 55 kg kertas.

Tabel 2. Rata-Rata Konsumsi Kertas Per Kapita Per Negara tahun 2006

negara
konsumsi per kapita
urutan dunia
 
negara
konsumsi per kapita
urutan dunia
Luxembourg
334
1
 
Inggris
201
15
Finland
325
2
 
New Zealand
189
17
United States
301
3
 
Korea, Rep
173
20
Austria
277
4
 
Singapore
154
23
Belgium
250
5
 
Malaysia
115
28
Denmark
244
6
 
Thailand
51
55
Canada
242
7
 
China
45
57
Japan
242
8
 
Indonesia
27
84
Germany
232
9
 
Philippines
18
88
Netherlands
227
10
 
Viet Nam
15
94
Sweden
220
11
 
Brunei
13
100
Switzerland
216
12
 
Cambodia
2
152
Italy
206
13
 
Myanmar
2
158
Australia
210
14
Laos
1
175

Sumber: Asosiasi Pulp & Kertas Indonesia & Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia & World Resource Institute

Bila kertas yang digunakan adalah kertas ukuran A4 dengan berat 5gr/lembar, maka konsumsi kertas per kapita adalah 5.400 lembar atau sekitar 15 lembar/hari atau 11 rim/tahun. Misalnya harga rata-rata kertas per rim-nya adalah Rp 30 ribu maka konsumsi kertas per kapita per tahun adalah sekitar Rp 330 ribu.

Sedangkan konsumsi kertas per angkatan kerja adalah 11.000 lembar atau sekitar 30 lembar/hari atau 22 rim/tahun, atau setara dengan Rp 660 ribu per angkatan kerja per tahun.

Berarti biaya perusahaan (company cost) dari 22 rim kertas yang digunakan oleh per angkatan kerja per tahunnya adalah 31 x Rp 318 ribu = Rp 20,46 juta per pegawai. Bayangkan bila satu perusahaan memiliki 100 pegawai, berarti total biaya konsumsi kertasnya sebesar lebih dari Rp 2 Milyar.

Sedangkan biaya lingkungan (environmental cost) dari 55 kg kertas per angkatan kerja Indonesia setara dengan 0.6 – 0,9 pohon per orang per tahun, berarti setiap tahunnya sekitar 65 – 97 juta pohon ditebang untuk memenuhi kebutuhan akan kertas para angkaan kerja di Indonesia.

Contoh lain, dalam sebuah program “Cleaning Day” yang diadakan oleh sebuah perusahaan sumber energi di daerah bisnis Kuningan, Jakarta, terkumpul “sampah” kertas tak terpakai sebanyak 2 ton kertas, selama kurun waktu lima tahun menghuni gedung tersebut. Jika mengambil data riset terakhir bahwa dari total jumlah sampah yang dihasilkan, 30-40% merupakan sampah kertas, berarti bayangkan berapa besar beban tambahan yang harus ditanggung oleh gedung untuk menampung kertas dan sampahnya (5-7 ton sampah)? Itu baru dari satu perusahaan yang 3 lantai dari 18 lantai yang ada, bagaimana dengan perusahaan di lantai yang lainnya?

Menghemat kertas berarti menyelamatkan dunia!

GrhaNovember 16, 2007 10:13 am

Bocoran model n bentuk Daihatsu baru Minibus n Pickup, Gran Max.

Kira-kira kayak gini lah …

 

Jakarta Launching

Minibus Front Minibus back Minibus inside

Pickup front Pickup with box Pickup inside

Cheeers .. sorry ya DAI … ngebocorin neh  emoticon

Buana, Nagara, AntaraOctober 22, 2007 3:44 am

Merespon apa yang sedang terjadi dengan Malaysia akhir-akhir ini, hanya ada satu cara mengatisipasi dan mengatasinya, yakni bagaimana kita dapat membangun bangsa (rakyat) kita agar tumbuh menjadi pribadi (bangsa) yang mandiri, dihormati dan disegani (ditakuti). Caranya, saya hanya melihat dua cara saja:

1. Berikan akses pendidikan dan kesehatan yang merata bagi seluruh anak bangsa setinggi-setingginya dan seluas-luasnya dengan semudah mungkin dan biaya serendah mungkin.

Peningkatan alokasi APBN untuk biaya pendidikan setidaknya adalah langkah pertama yang harus dilakukan di strata pemerintahan. Selanjutnya, bagaimana pendidikan dan kesehatan tersebut dapat menjadikan seluruh bangsa kita menjadi pribadi yang mandiri dan dihormati secara ekonomi dan personaliti. Belajarlah dari Malaysia yang mengalokasi APBN untuk pendidikan dan kesehatannya masing-masing tidak kurang dari 20%. Artinya, pemerintah dapat memfokuskan dirinya unutk membentuk rakyatnya menjadi bangsa yang kuat, sehat, mandiri, bermartabat dan terhormat, dengan bekal pendidikan yang diperoleh dan kesehatan yang terjamin.

2. Berikan akses kekuatan bagi personil penjaga negeri ini. Apa yang yang terjadi paling tidak dua tahun terakhir ini, perihal penyelenggaraan ulang tahun ABRI (5 Oktober), paling tidak dapat menjadi tanda tanya besar, akan apa yang sedang terjadi terhadap para pelindung negeri ini, akan di mana dan bagaimana kekuatan tentara kita selama ini. Penyelenggaran ulang tahun ABRI yang biasanya dilakukan di Halim Perdanakusuma, kini hanya cukup di markas besarnya saja, Cilangkap. Pesta yang sedianya dimeriahkan dengan pamer senjata, peralatan dan keahlian, sebagian dari itu sepertinya sirna. Terkendala akan ketersediaan suku cadang dan permasalahan teknis, yang berhulu pada ketiadaan dana yang cukup untuk pengadaannya. Beberapa sumber menyatakan bahwa ke-ringkih-an tampak dari hanya 40-50 persen kesiapan operasional minimum sistem persenjataan TNI saat ini, nyaris di seluruh matra angkatan. Angka itu jauh di bawah angka kesiapan minimal operasional seharusnya. Bahkan, bisa dibilang nyaris separuh kekuatan peralatan utama sistem persenjataan (alutsista) TNI tidak sanggup beroperasi maksimal. Penyebabnya, baik karena faktor usia peralatan maupun terbatasnya pengadaan komponen dan suku cadang.

Misalnya,

Dari 20 unit pesawat angkut Hercules, hanya enam pesawat yang bisa dioperasikan. Armada pesawat tempur, baik jenis F-5 maupun F-16, keduanya sama-sama tidak berada dalam kondisi prima. Dari 10 jet tempur F-16, hanya empat pesawat yang bisa beroperasi. Sementara dari 12 pesawat tempur F-5, hanya empat pesawat yang dapat dioperasikan.

Menurut data Markas Besar TNI, yang disampaikan beberapa waktu lalu di Departemen Pertahanan, kesiapan operasional total 251 pesawat berbagai jenis milik TNI AU hanya mencapai 46 persen. Sementara untuk TNI AL, kesiapan total 117 kapal perang RI (KRI) hanya mencapai 57 persen dan  kesiapan total 71 pesawat udara berbagai jenis yang juga dimilikinya hanya mencapai 52 persen.

Walau begitu, kondisi armada kapal patroli TNI Angkatan Laut (KAL) masih terbilang menggembirakan. Dari total 128 KAL berbagai jenis, kesiapan operasionalnya masih terbilang prima, mencapai 82 persen.

Padahal, boleh dikatakan, baik TNI AU maupun AL, kedua matra itu sama-sama mengemban tanggung jawab berat mengamankan wilayah kedaulatan RI. Wilayah kedaulatan tersebut meliputi 17.500 pulau, 5,8 juta kilometer persegi wilayah laut, dan 81.000 kilometer panjang garis pantai.

Oleh, karena itu cukup beralasan kalau ada saran kita berlakukan "travel warning" ke Malaysia, baik untuk keperluan bisnis maupun wisata. Paling tidak untuk saat ini, hal itu adalah upaya yang paling tepat dan aman untuk melindungi anak negeri ini dari arogansi negeri jiran.

Lha wong Wakil Perdana Menterinya, Anwar Ibrahim, yang nota benenya pejabat tinggi dipukuli di penjara, apalagi cuma bermodalkan diplomatic ID, atawa Sport Ambassador, apalagi cuma bermodalkan passport saja. Tidak dipukuli saja sudah merupakan bonus, apalagi cuma dipenjara.

So that’s why, it is not safe to travel to Malaysia!

 

Buana, KaulaOctober 15, 2007 3:06 am

Ada dua hal yang mungkin setidaknya perlu diperhatikan bila ingin berkendara jauh dan panjang, terutama saat mudik.

1. Lakukan proses persiapan kendaraan minimal satu minggu sebelum hari H.
Proses persiapan meliputi pengecekan kondisi kendaraan dan perbaikan komponen kendaraan di bengkel. Setelah proses pengecekan dan perbaikan dilakukan, gunakan sebagaimana normalnya kita mengendarai kendaraan tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi, bila mana proses pengecekan dan perbaikan kurang sempurna, kita masih memiliki waktu luang untuk memperbaikinya.

 

2. Berkendaralah dengan menerapkan prinsip "Defensive Safety Driving"

Defensive safety driving yakni selalu menjaga jarak kendaraan, terutama di perjalanan yang panjang dan lenggang, seperti di tol, untuk mengurangi resiko kecelakaan. "Defensive Safety Driving Principle" selalu menerapkan 4 (empat) detik jarak antara kendaraan kita dengan kendaran di depan kita.

Karena 4 detik menurut penelitian adalah waktu aman untuk merespon apa yang terjadi dengan kendaraan di depan kita, bukan jarak - seperti 100 meter, misalnya; karena jarak relatif terhadap kecepatan kita.

Dengan jarak tertentu belum tentu sesuai dengan kendaraan dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Empat detik adalah waktu yang cukup untuk:

  • 1 detik melihat kejadian di muka (kendaraan di muka pecah ban dan berhenti mendadak),
  • 1 detik berpikir untuk apa yang harus dilakukan (beri sinyal tanda bahaya dan kurangi kecepatan),
  • 1 detik untuk beraksi terhadap kendaraan kita (nyalakan lampu hazard dan injak rem secara teratur berkala), dan
  • 1 detik terakhir adalah untuk waktu bagi kendaraan untuk merespon aksi yang kita inginkan (kecepatan kendaraan berkurang hingga berhenti).

Artinya, menjaga jarak 100 meter dengan kendaraan di depan kita hanya efektif bila kecepatan kendaraan kita adalah ~110 km/jam, lebih dari kecepatan tersebut adalah jarak yang kurang aman, dengan catatan kondisi kendaraan dalam keadaan baik dan layak.

 

Itu saja!
Have safe "mudik" and drive!

 

QoutesOctober 5, 2007 3:03 am

Memorable and inspiring quotes from HEROES series Session 1 Episode 23 -

How to Stop an Exploiding Man.

This is a discussion between Simone Deveaux with Peter Petrelli in the green house,

regarding Simone’s father’s (Charles) condition (dying).

[Simone]
I want to thank you for this.
I know it’s a real hard job.


[Peter]
Dying is hard
What I do, it’s just …
We’re here to help …


[Simone]
No, you’re a real hero to take care for a perfect stranger like this.

[Peter]
This may sound strange, but …
your father’s last few weeks … his death …
it could be beautiful if you let it be.


[Simone]
Sure, a piece of cake

[Peter]
I’m not saying it’s not tragic for you.
I’m just saying …
you know, death is the one thing that connects us all.
Remind us that’s what really important is who we’ve touched, and ..
you know, how much we’ve given.

Makes us realize that .. we have to be good to one another.
See .. your father is the real hero.
Not me.

Buana, Nagara, Qoutes 1:23 am

Another inspiring speech from HEROES series Session 1 Episode 22 - Landslide,

While Nathan Petrelli gave a speech after winning the election for A New York Congress with 64% againts other candidates.

And from the entire Session 1, this is the best taken scenes part ever had, while Nathan gave a speech, the scenes describing every sentences what he was speaking about.

So, I call this the talking pictures.

Inspiring and touching …. 

[Nathan]
A landslide ..
That’s what they’re calling it.
I’m sorry my brother couldn’t be with us tonight.
But I know that Peter cares about this city more than anyone.

You know, our father always said that
we had a responsibility to use what God gave us.
To help people …
To make a real difference …

Pop always made the hard choices for the greater good …
He believed in that.
And so do I.

Our children deserve that.
They deserve a better future.
A future where they don’t have to face their fears alone,
but can look into the darkness and find hope.

I challenge everyone in here to inspire by example
to fight the battle, no matter the cost.
Because the world is sick and spinning out of control, but we can help.
With our help, it can heal.
With our love, with our campassion, and with our strength, we can heal it

Let’s put aside our differences.
Let’s embrace our common goals.
Let’s do it for our children.
Let’s show them all exactly what we’re capable of.

Thank you all … Thank you very much …

Citta, QoutesOctober 4, 2007 4:44 am

This is to me the most impressive quotes in the entire HEROES series of Session 1, Episode 18 - Parasite.

The dialogues between Nathen Petrelli and Linderman in the kitchen while he’s cooking of a pot pie.

emoticon

 

[linderman]
you see …
I think, there comes a time, when a man has to ask himself,  whether he wants a life of happiness or a life of meaning.


[nathan]
I’d like to have both.

[linderman]
Can’t be done …
Two very different paths.


[linderman]
I mean, to be truly happy, a man must live absolutely in the present,
No thought of what’s gone before and no though of what lies ahead …

A life of meaning, a man is condemned to wallow in the past and obsess about the future.


KaulaSeptember 24, 2007 5:25 am

This is part of related with Family post.

We’ll be right back soon!

NagaraAugust 30, 2007 10:51 am

Sebuah periode baru kepemimpinan DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara Indonesia telah lahir. Fauzi Bowo, bila tak ada aral melintang, akan dikukuhkan sebagai Gubernur DKI Jakarta dari kalangan sipil.

Bila dilihat kemenangan Fauzi Bowo memang dapat dikarenakan banyak factor, seperti popularitas, orang lama di pemerintahan DKI Jakarta, dukungan koalisi 20 partai, dan lain sebagainya.

Tetapi saya pribadi melihat bahwa kemenangan Fauzi Bowo lebih dikarenakan faktor "kesipilan" seorang Fauzi Bowo, dibandingkan seorang Adang yang masih memiliki latar belakang militer. DKI Jakarta memimpikan sosok pemimpin dari kalangan sipil, setelah sekian lama didominasi oleh kalangan (berlatar belakang) militer.

Kemenangan Fauzi Bowo dilihat sebagai kemenangan rakyat sipil. Hanya sayangnya kemenangan dan jalannya pesta demokrasi pertama di Jakarta itu agak sedikit ternodai. Upaya-upaya yang tidak sehat sepertinya dijalankan oleh pihak yang secara tidak langsung mendukung pasangan cagub dan cawagub yang bertanding.

Salah satu informasi yang didapat dan perlu diklarifikasi adalah penggunaan salah satu lembagai survey sebagai media unutk membentuk opini masyarakat dengan dalih penggunaan metodologi ilmiah guna membangun image kepopuleran sebuah pasangan dibandingkan pasangan lain. Seolah-olah sang lembaga survey mendapatkan order untuk membentuk persepsi publik sesuai keinginan sang calon pasangan agar lebih unggul dibandingkan pasangan lainnya.

Tidak sampai di situ, lembaga survey yang sama pun menggunakan praktik money politic terselubung terhadap responden dan/atau calon pemilih. Caranya, ketika melakukan proses pengumpulan data survey dari responden, sang surveyor memberikan janji kepada sang responden sembari memberikan stiker pasangan calon.

"Ibu/Bapak, data ibu telah kami masukkan ke dalam database kami. Nomor telepon (HP) Ibu/Bapak telah kami simpan. Dan ini adalah stiker A-B (pasangan cagub/cawagub). Sekiranya, pasangan A-B ini nanti menang di daerah Ibu/Bapak, nanti lembaga survey kami akan memberikan hadiah uang. Pihak kami nanti akan menghubungi Ibu/Bapak via telepon maupun SMS, nanti Bapak/Ibu diminta untuk mengambil hadiahnya di kantor kami.

Dan inilah fakta lapangan, dan biasanya responden yang menjadi sasaran adalah dari daerah lingkungan yang golongan ekonomi dan pendidikannya berstrata rendah.

Mungkin pihak lembaga survey akan menampik fakta ini dengan

  • Mengingkari janjinya untuk memberikan hadiah yang dijanjikan kepada para responden yang pernah dijanjikan. Konsekwensi yang akan muncul adalah tuntutan dari para masyarakat yang pernah dijanjikan akan muncul ke permukaan sehingga berpotensi menimbulkan konflik.
  • Tetap melakukan untuk memenuhi janji kepada responden, dengan konsekwensi bila tertangkap tangan, pihak lembaga survey akan berdalih, "Ini bukan money politic! Kita tidak memberikan uang sebelum masa pencoblosan. Ini hanyalah sebagai tanda terima kasih dan berbagi suka dari pasangan cagub-cawagub kepada para konstituen atas kemenangan yang diraihnya. Wajar kan kalau mereka berterima kasih dengan cara ini!"
Oleh karena itu, pemerintah harus tanggap untuk mengantisipasi praktek money politics terselubung seperti ini. Begitu pula, partai harus waspada terhadap lawan politik yang menggunakan praktek ini dalam upaya menggalang opini publik sekaligus penyuapan terhadap demokrasi.

Semoga ini dapat menjadi masukan!

Salam Demokrasi!